Hukum Resonansi, Bioenergi, & Meditasi NAQS

31 12 2010

Hukum Resonansi.
Hal ini mirip tapi tidak persis dengan Hukum Ketertarikan (the Law of Attraction) yang mengatakan bahwa apa yang Anda pancarkan ke luar sana adalah apa yang akan Anda tarik ke dalam hidup Anda. Like attracts like (Seperti/sejenis menarik seperti/sejenis)

Dimana Hukum Ketertarikan adalah benar-benar sebuah situasi, pribadi individual.
Hukum Resonansi menjelaskan tentang hubungan relasional di alam semeta. Hukum Resonansi harus dilakukan dengan melibatkan dua hal atau lebih yang terkait.

Seorang rekan sahabat saya mempunyai cerita yang sempurna untuk menggambarkan hukum ini ini. Dia telah bekerja sebagai pegawai administrasi di sebuah firma hukum beberapa tahun yang lalu dan melihat sendiri bagaimana Hukum Resonansi terjadi dan mempengaruhinya.

Dia mengatakan kepada saya, “aku duduk di samping seorang wanita selama tiga setengah tahun, kami berbagi meja Dia. bekerja di firma hukum selama sepuluh tahun bahkan sebelum aku sampai di sana dan ia benar-benar orang yang paling negatif yang pernah saya temui. Lebih buruk lagi, dia tidak pernah berhenti bicara Dan jadi rentetan rutin keluhan dan kebohongan..

“Saya bersimpati pada awalnya dan akan memberikan nasihat mendukung dan saran untuk pindah keluar dari pola pikir negatifnya. Akhirnya, Pola pikir saya sendiri mulai tidak bisa lepas dari mengamati kondisinya dan aku melihat diriku makin terpengaruh dan berlaku sepertinya, mulai suka mengeluh dan menjadi negatif setiap hari, minggu, bulan, dan akhirnya tahun berlalu. “

Jika Anda ada di sekitar seseorang secara konsisten, katakanlah selama delapan atau sembilan jam sehari, lima hari seminggu, atau jika Anda tinggal dengan seseorang yang telah gelap energi auranya, pesimis, dan Anda adalah seseorang yang memandang dunia dengan sikap positif, mungkin akan sulit untuk melawan alam bawah sadar anda yang menurunkan energi Anda karena mencoba untuk bersimpati dengan mereka.

Katakanlah Anda tidak bisa begitu saja berhenti dari pekerjaan di mana ada rekan kerja yang mengganggu atau mempunyai aura negatif. Anda akan perlu melakukan beberapa perlindungan diri ketika berhadapan dengan kepribadian negatif.

Hukum Resonansi mengatakan bahwa hubungan antara dua individu, terutama selama periode waktu yang panjang. Mengakibatkan terjadinya dua hal, yaitu akan membangkitkan energi yang negatif, menurunkan energi yang positif, atau menghasilkan kombinasi keduanya di mana mereka ‘ akan bertemu di suatu tempat di tengah.

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk melindungi diri dari tenggelam ke tingkat mereka.

Hal ini tidak selalu mungkin, tetapi langkah pertama adalah mengelilingi diri Anda dengan orang-orang positif. Namun, kenyataannya kita tidak selalu dapat memilih setiap orang yang kita kehendaki sebagai lingkungan bergaul yang sesuai dengan yang kita inginkan, contohnya adalah lingkungan kerja dimana kita menghabiskan waktu terbesar kita dalam 24 jam untuk bergaul bersama mereka. Kuncinya adalah anda harus tetap waspada dan sadar akan energi dari orang di sekitar kita. Jika energi negatif mereka menguasai energi positif kita, maka kita akan mendapatkan getaran energi kita akan ditarik ke bawah.

Jadi apa yang terjadi antara sahabat saya dan rekan kantornya tersebuat?
Yah, akhirnya sahabat saya, memutuskan dirinya untuk mempunyai sebuah meja baru di sisi lain dari kantor. Dia pergi ke manajer kantornya dan menjelaskana situasinya dan mengusulkan untuk mendapat sebuah meja yang tenang sendirian di dekat perpustakaan. Untunglah manajernya bisa memahamai situasinya dan mengizinkan dia memperoleh mejanya sendiri. Dan akhirnya dia merasakan beban berat telah dihapus dari beban kerjanya.

Namun tentu saja tidak semua orang dapat mengajukan untuk pindah meja atau pindah kantor. Tentu ada cara lain selain dengan cara menghindar tersebut. Yaitu dengan memperkuat vibrasi anda sendiri sehingga mencapai level Untouchable dan kemudian meningkat menjadi semakin kuat sehingga mencapai level Leader (Khalifah), yang mampu menjadi agen perubahan dan trendsetter bagi lingkungannya.

Memperkuat Bioenergi
Alam semesta terjadi / terbuat dari sekumpulan Energi. Semua benda hidup pada dasarnya adalah Kosong, akan tetapi berenergi. Seperti benda hidup, tubuh manusia terdiri dari Trilliuan sel yang masing-masing punya sumber dasar energi dikenal sebagai Bio-Energi. Tubuh kita sendiri mempunyai medan getaran gelombang elektro-magnetik, dimana secara terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya.

Bio-Energetik tubuh kita senantiasa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik secara internal maupun external yang menyebabkan ketidak-seimbangan tubuh.

Sudah lumrah dan jadi kepercayaan banyak Dokter dan Ahli Terapi seluruh dunia dimana distorsi (penyimpangan) energi tersebut adalah awalnya tahapan penyakit fisik. Tubuh kita berkemampuan untuk penyembuhan diri-sendiri dengan memperbaiki (kembali ke fungsi kerjanya sendiri) dari ketidak-seimbangan saat tubuh sudah memperoleh energi yang cukup.

Alam semesta yang kita tempati diatur oleh hukum alam spesifik. Quantum fisika adalah sains (ilmu) yang mempelajari hukum alam ini. Quantum fisika menganalisa pembentukan segala sesuatu yang jadi hambatan di alam semesta kita dan menyulusuri kembali kejadian alam tersebut untuk dikembalikan ke sumber asalnya ( origin).

Quantum fisika menjadikan sebuah molekul memecah jadi level sub-atom. Setelah molekul terurai jadi atom, lalu dipecahkan jadi sub-atom partikel yang terdiri-dari foton, elektron, neuron, dan lain-lain.

Quantum fisika sekarang ini membawa kita langsung ke pengembangan kemajuan dari penjelasan fenomena-fenomena spiritual yang selama ini di anggap masih termasuk di dalam ranah kajian ilmu ghaib yang sukar untuk dinalar.

Transformasi Bioenergi dengan NAQS
Energi Ilahiah NAQS mempunyai frekwensi getaran yang sangat tinggi dan halus (Suci) serta belum terpolarisasi. Sehingga sangat tepat bila digunakan untuk menyeimbangkan ketidak seimbangan energi. Energi kekuatan supernya Sangat bermanfaat untuk keseimbangan gelombang (amplifier), penyimpanan, pemfokusan, transferan dan transformasi energi. Energi Ilahiah NAQS dapat digunakan untuk membersihkan, menyembuhkan, menarik, melindungi dan menjaga perbaikan medan energi. Karena tubuh kita diperkirakan 70-90% cairan (air), Energi Ilahiah NAQS ini juga meningkatkan aliran lancar (hidrasi) dalam tubuh dengan rata-rata kenaikan 23,5 % dan level oksigen darah juga meningkat rata-rata minimum 9,6 %. Juga dapat meningkatkan kuantitas nutrisi makanan dan naikkan kesegarannya.

Cara Kerja :
Pada saat Energi Ilahiah NAQS dipancarkan pada tubuh, getaran resonansinya mengubah struktur sel tubuh menjadi struktur molekular kembali ke keadaaan semula (origin) dan menetralkan kandungan susbstansi (zat) asing yang tidak dibutuhkan tubuh kita sehingga memberikan kelancaran aliran energi (hidrasi) dan proses asimilasi dalam struktur molekular. Semakin lancar aliran (hidrasi), semakin berefisiensi kerja tubuh mentransportasikan nutrisi dan hormon-hormon, juga mengeluarkan toksin-toksin. Energi Ilahiah NAQS bekerja untuk sistim imunitas kekebalan tubuh dan sistem saraf juga. Ketika Energi Ilahiah NAQS digunakan pada tubuh atau semua organisme hidup, maka getaran resonansinya mengaktifkan kekuatan energi dalam sel dan tisue jaringan lunak, membuka saluran energi dimana inisialisasi proses penyembuhan mandiri akan ditingkatkan

Manfaat :

  1. Meningkatkan level energi tubuh.
  2. Memperlancar peredaran darah, sehingga meningkatkan kenerja metabolisme.
  3. Cairan tubuh dan sel lebih berenergi.
  4. Air yang diminum, udara kita bernafas dan makanan yang dimakan menjadi lebih berenergi dan bermanfaat untuk metabolisme.
  5. Menetralkan efek radiasi (perusak) dari udara dan makanan yang dikonsumsi.
  6. Menguatkan dan restorasi(kembali ke fungsinya) “ATP” bioenergi tubuh.
  7. Membuka dan menguatkan semua aliran energi (chi) dalam tubuh.
  8. Merangsang positif fungsi semua organ tubuh dan kekebalan (imun) tubuh untuk memperlancar penghantaran oksigen ke semua sel tubuh.

MEDITASI dan  RESONANSI

Apakah Meditasi ?
Ada banyak versi yang menerangkan pengertian meditasi. Ada yang mengatakan mengkonsentrasikan Pikiran.
Ada yang mengatakan menghentikan Pikiran.

Jika diambil definisi konsentrasi pikiran, ini berarti ‘memaksa’ pikiran untuk bekerja, seperti saat mengerjakan soal matematika. Padahal dalam latihan meditasi kita diarahkan untuk relaks, mengendorkan seluruh bagian tubuh. Jadi pengertian mengkonsentrasikan pikiran sepertinya bertentangan dengan pelaksanaan meditasi itu sendiri.

Jika diambil definisi menghentikan pikiran, ini berarti pikiran akan diam dan kosong. Tetapi aneh saat diam, malah terjadi aktivitas tertentu menjadi sangat optimal.

MEDITASI adalah MERESONANSI PIKIRAN.

Pengertian Resonansi :
Jika kita amati senar sebuah gitar, jika di petik maka senar akan bergetar, dan mengeluarkan bunyi dengan frekuensi tertentu (misal 440 Hz). Sebaliknya jika bunyi dengan frkewensi 440 Hz di lantunkan dekat senar tadi. Maka senar yang bersangkutan akan ‘terganggu’ sehingga ikut bergetar, atau istilah bakunya Senar gitar BERESONANSI terhadap frekwensi lingkungan. Frekwensi 440 pada contoh diatas dikatakan sebagai frekwensi Pribadi.

Untuk gendang telinga ternyata bisa beresonansi dengan rentang frekuensi yang cukup lebar mulai dari 40 HZ hingga 20 KHz. Sehingga dalam waktu yang bersamaan bisa mendeteksi banyak sekali frekwensi. Gendang telinga sebetulnya menerima semua frekwensi tersebut secara proporsional, tetapi otak kemudian melakukan seleksi sehinga hanya frekwensi tertentu yang diinginkan saja diperhatikan oleh otak.

Ini memungkinkan kita tetap bisa bercakap ditengah bising lalulintas misalnya.

Bagimana caranya supaya gendang telinga hanya mendengar sedikit frekwensi saja?
Atau bagaimana supaya bisa mendengan diatas 20KHz ?
Hanya ada satu cara, gendang telinga tersebut harus di ‘Adjust’ sehingga frekwensi pribadinya berubah dan daerah resonansi-nya berubah.

Analogi dengan gendang telinga, Otak juga mempunyai frekwensi pribadi yang sangat lebar. Contohnya, ketika kita sedang melamun segala macam gambaran bisa muncul.

Jika dikaitkan dengan Holografik Universe, dan Teori kesetimbangan bagian kesetimbangan informasi/pola,
Maka di setiap titik di alam semesta akan mewarisi semua informasi. Termasuk di dalam Otak kita.

Sel Otak akan beresonansi dalam rentang tertentu saja. Ini berarti di setiap sel otak juga terdapat Informasi tentang seluruh alam semesta, pada rentang tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari bagian filter pada Otak akan menyeleksi Informasi mana saja yang dianggap perlu, Informasi hasil filter itulah yang kemudian muncul kepermukaan sebagai aktifitas pikiran.

Bagaimana cara nya supaya kita bisa mendapatkan informasi yang lainnya?

  1. Fungsi Filter harus diredam.
  2. Dipilih supaya daerah resonansi begeser.

Untuk meredam fungsi filter maka ritme aktivitas kehidupan harus diturunkan sehingga tingkat kesiapan dari si filter akan menurun dan tidak mudah bereaksi. Untuk menurunkan aktifitas tersebut, caranya adalah dengan relaksasi, dan seterusnya. Sehingga kesiagaan filter akan menurun. Kegiatan ini adalah awal mula memasuki tahap Meditasi.

Pada keadaan relaks sempurna ini maka segala bentuk frekuensi informasi akan masuk tanpa ada filter lagi, akibatnya akan terjadi over-lap dan interferensi sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara informasi-yang satu dengan yang lain. Acak-acakan, mungkin muncul ini mungkin muncul itu, mungkin tidak muncul apa-apa. Inilah gambar-gambar yang terlihat dalam Mimpi !

Setelah segala macam frekuensi bisa masuk, Sekarang tugas kita adalah bagaimana supaya Pikiran hanya beresonansi pada satu frekuensi saja. Dengan resonansi pada daerah frekwensi yang sempit, maka kita bisa mengarahkan dan memilih informasi sesuai dengan yang diinginkan saja.

Inilah tahap kedua dari meditasi setelah relaks, Kita melakukan ‘adjustment’ agar daerah resonansi menjadi sempit, biasaya dilakukan dengan memperhatikan hal tertentu, misalnya memperhatikan aliran napas atau detak jantung. Pada tahap ini penerima untuk frekuensi yang lain akan berhenti, sehingga terasa seperti berhentinya Pikiran.

Tetapi Otak akan tetap mempunyai frekuensi pribadi, hanya saja lebar daerah resonansinya menjadi sangat sempit (Fokus), Dengan demikian sensitifitas pada daerah frekwensi sempit tersebut menjadi sangat-sangat tinggi!

Maka hal-hal yang biasanya tidak terasa menjadi terdeteksi. Pada kondisi ini, tergantung frekuensi apa yang dipilih. Jika awalnya diniatkan untuk mendapat ilmu silat, maka informasi mengenai ilmu itu yang akan diperoleh.

Jika awalnya diniatkan untuk mendapat pencerahan, maka frekwensi pencerahan yang akan diperoleh. Jika ingin mengendalikan nafsu hiper seks, bisa sembuh seketika. Dsb.

Tentu saja hanya dengan Niat, jika dengan keinginan maka filter mulai lagi bekerja, jadi harus dengan Niat. Selebihnya relaks dan relaks. Kemudian menyelaraskan pikiran untuk mulai menyempitkan daerah frekuensi sehingga bisa beresonansi.

Tetapi tunggu dulu, ada hal yang harus dikaji ulang :

Untuk merubah frekuensi pribadi senar gitar misalnya maka harus memodifikasi zat atau sifat fisik senar tersebut. Demikian pula, untuk bisa ‘adjustment’ sel otak maka harus memodifikasi struktur sel tersebut.

So, apakah mungkin ?
Lalu frekwensi yang dipilih hanyalah dengan niat, (begitu kenyataan empirisnya),
Maka apakah zat-zat real seperti sel otak bisa dipengaruhi hanya dengan niat ?

Maka dalam hal ini Otak yang saya uraikan diatas, bukanlah hanya otak secara kasar, tetapi menyangkut sisi imaginer dari Otak yaitu Chakra Mahkota.

Inilah sebetulnya yang disebut Meditasi, yaitu suatu aktifitas untuk meresonansikan Otak + Chakra Mahkota agar menjadi sensitif dalam menerima frekwensi tertentu. Sehingga Pikiran sebagai substansi yang ‘sadar’ bisa mengenali sesuatu yang disebut ‘pencerahan’

Meditasi NAQS
Pelatihan dalam bentuk Meditasi NAQS adalah sebuah jalan yang ditawarkan oleh NAQS Methode atas pengendalian pikiran dan kesadaran. Untuk memperoleh ketenangan bathin dan Fikiran serta sebagai sarana untuk pendekatan diri kepada Tuhan dan melakukan penyempurnaan jiwa dengan menyelaraskan atau meresonansikan vibrasi energi pribadinya dengan vibrasi Frekwensi Energi Ilahiah NAQS (Nuurun ‘ala nuurin) sehingga terjadilah sebuah proses Evolusi yang Holistik yang meliputi Body, Mind, & Spirit (Jasmani, Jiwa, & Ruh).

Karena meditasi NAQS menggunakan tekhnik resonansi dengan energi Kultivasi NAQS, maka hasilnya tentu tidak sama dengan tekhnik meditasi yang lain. Tahapan-tahapan yang ditempuhnyapun berbeda. Oleh karena itu belajar NAQS Methode tanpa memahami intisari pelajaran ini, maka si pelajar tidak akan memperoleh suatu hasil yang maksimal. Yang perlu di ingat adalah NAQS adalah sebuah sistem, anda tidak akan memperoleh manfaat yang banyak bila anda setengah-setengah dalam mengikutinya.

Jadilah bagian dari sistem, jagalah kondisi sistem, maka sistem akan menjagamu.
Advertisements




Hot Stones Therapy

29 12 2010

Kulit kusam dan wajah tak cerah sebetulnya tidak hanya disebabkan oleh kesalahan perawatan, tetapi juga oleh stres dan kelelahan. Dua kondisi itu bisa menghilangkan sinar kecantikan. Untuk mengatasi stres dan kelelahan, Anda bisa mencoba hot stone massage. Treatment itu tak hanya membuat otot-otot Anda kembali relaks, tetapi hati Anda juga tenang.

Apakah Hot Stone Massage itu?

Hot Stone Massage adalah seni penyembuhan kuno yang berasal lebih dari 2000 tahun yang lalu. Merupakan salah satu bentuk terapi yang sangat unik dengan mempergunakan batu yang dipanaskan dengan air sebagai alat atau media untuk melakukan terapi penyembuhan/pemijatan. Praktek terapi dengan cara kuno ini terus berkembang di dalam popularitas pelayanan spa di seluruh dunia hingga saat ini.

Jenis batu yang dipergunakan untuk terapi Hot Stone Massage adalah batu alam yang berjenis VOLCANIC BASALT STONE atau batu yang terbentuk dari leleran lava cair dari gunung berapi, yang mendingin ketika bertemu dengan air. Jenis batu ini dipilih karena mempunyai kelebihan dalam hal menyerap dan menyimpan panas. Basalt mampu menyimpan panas lebih lama dari semua jenis batu alam yang lain.

Hot Stone Massage merupakan perpaduan teknik antara massage ayuverda seperti yoga, Chi yaitu energi vital yang ada di tubuh, meditasi dari shiatsu dan juga Swedish yang lebih memusatkan perhatian pada pernapasan dengan massage lembut dan perlahan.

Ada dua cara dalam aplikasi/penggunaan Hot Stone untuk terapi :

Pertama dengan cara hanya meletakan Hot Stone (stationary placement stones) pada bagian tubuh tertentu untuk memberikan energi. Hal ini memberikan rasa hangat pada bagian tubuh yang sedang diterapi dan memberikan efek rasa relaks serta tenang pada pikiran karena ketegangan akan terasa mencair dan berkurang seiring dengan memudarnya rasa hangat dari batu secara perlahan.

Awalnya batu-batu basalt dipanaskan dalam air. Lalu batu diletakkan pada titik cakra atau reiki di tubuh.

Untuk titik cakra, batu diletakkan pada bawah dan atas pusar, di bawah area jantung, area jantung, clavikula, dan di tengah dahi. Sedangkan pada titik reiki, batu diletakkan pada area jantung, clavikula, hidung dan di tengah dahi.

Untuk reiki, berguna untuk pencernaan dan aura pada tubuh. Sedangkan titik cakra bermanfaat untuk energi, emosi dan juga pencernaan. Dan kedua titik tersebut berguna untuk mengeluarkan energi negatif dan memasukkan energi positif.

Mengapa batu harus dipanaskan? Karena batu yang hangat akan menyeimbangkan fungsi titik-titik cakra dan reiki di tubuh, sehingga pasien merasa lebih baik dan tentram. “Tingkat panas atau hangatnya batu tergantung selera atau ketahanan pasien. Apabila masih terasa panas di tubuh pasien, biasanya terapis akan mendinginkannya dengan handuk.

Kedua adalah dengan cara mempergunakan Hot Stone sebagai alat untuk memijat (to actually massage). Batu yang hangat itu digunakan untuk massage dengan tekanan tertentu di seluruh tubuh. Dengan demikian, paduan kehangatan dan tekanan dari batu yang keras terasa sangat efektif. Pasien akan merasa lebih relaks, badan yang terasa sakit-sakit sehabis beraktivitas menjadi lebih lega dan tenang. Kehangatan yang dihasilkan dari batu akan membuat otot tubuh relaks lebih cepat serta mudah dari pada cara pijat konvensional.

Keunikan Hot Stone Massage yang paling utama adalah dapat memberikan dan menyeimbangkan dual hal hanya dalam satu terapi, yaitu memberikan sirkulasi energi dan merilekskan tubuh sekaligus.





Kuantum Cahaya Qalbu

29 12 2010
Kuantum Cahaya Qalbu
NAQS Methode
Metode Holistik Pengembangan Diri Dan Kesempurnaan Hidup Berbasis Energi Ilahiah NAQS.
NAQS : Nur Atomic Quanta System (Sistem Spektrum Energi Cahaya Ilahi)
JAYA DI DUNIA BAHAGIA DI SURGA
LOVE,  PEACE, & HARMONY

NAQS Methode adalah tekhnik efektif untuk membangkitkan kemampuan :

1. Penyembuhan dengan tekhik :

  • a. Seni Pernafasan Bioenergy NAQS Alam.
  • b. Therapy Quantum Touch (Sentuhan Kuantum)
  • c. Therapy Energi NAQS
  • d. Therapy Energi Kultivasi NAQS

2. Evolusi Holistik yang meliputi :

  • a. Bioenergi Power & Evolution (Peningkatan Kesehatan & Imunitas Tubuh)
  • b. Mind Power & Evolution (Kekuatan Fikiran & Evolusi Kesadaran)
  • c. Heart Power & Evolution (Aktivasi Potensi Hati & Evolusi Hati Nurani)
  • d. Spiritual Power & Evolution (Aktivasi Kesadaran Ilahiah & Evolusi Ruhani)

3. Tekhnik Materialisasi (Perwujudan Daya Cipta) :

Aplikasi Praktek dari The Law of Attraction dalam Film “The Secret”
  • a. Proteksi Diri
  • b. Healing (Penyembuhan)
  • c. Mewujudkan segala keinginan

BONUS :

  • VCD THE SECRET
  • VCD PANDUAN SENI PERNAFASAN BIOENERGI NAQS ALAM
  • MANUAL ILMU TOTOK JARI EFT ( Emotional Freedom Technique )




    Evolusi dan Insan Kamil

    29 12 2010
    “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [Q.S. al-Israa’ 17:70]

    Sebagai makhluk yang sempurna berarti manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling berevolusi di muka bumi ini. Organisme yang paling mampu mengendalikan lingkungan dan organisme yang lain, serta paling mampu menjamin kelangsungan hidupnya dan paling mampu melakukan pelestarian dirinya. Pemahaman kita sekarang tentang evolusi merupakan hasil dari kenyataan bahwa kita telah berevolusi hingga sekarang dengan cara mengeksplorasi realitas fisik melalui panca indera. Melalui panca indera kita mengetahui bahwa setiap tindakan merupakan sebab yang berakibat.

    Ketika lingkungan fisik dilihat hanya dari sudut pandang panca indera, kelangsungan hidup fisik tampak menjadi kriteria evolusi yang mendasar, karena tidak ada jenis evolusi lain yang dapat dikenali. Ketika persepsi dunia fisik terbatas pada persepsi panca indera, dasar kehidupan dalam arena fisik adalah rasa takut.

    Kekuatan untuk mengendalikan lingkungan, dan semua yang berada pada lingkungan itu tampak menjadi esensial.

    Kebutuhan pada kekuatan fisik menghasilkan suatu jenis kompetisi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Kebutuhan itu mempengaruhi hubungan antar teman, antar kekasih, antar negara, antar ras, antar jenis kelamin. Kekuatan eksternal ini dapat diperoleh dan dapat pula menghilang.

    Persepsi tentang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal telah membentuk struktur kehidupan dan ekonomi kita. Uang merupakan simbol kekuatan eksternal. Orang yang memiliki uang terbanyak memiliki kemampuan terbesar untuk mengendalikan lingkungan beserta isinya. Pendidikan, status sosial, ketenaran dan barang-barang yang dapat dimiliki lainnya, jika dipandang dari pengertian peningkatan keamanan, merupakan simbol-simbol kekuatan eksternal. Rasa takut merupakan akibat dari cara memandang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal.

    Perebutan untuk memperoleh kekuatan eksternal merupakan inti semua kekerasan. Inti sekunder dibalik konflik ideologis, seperti kapitalisme melawan komunisme, konflik keagamaan dan geografis, serta konflik keluarga dan perkawinan, tak lain adalah kekuatan eksternal.

    Dari dinamika ini, kita menemukan pemahaman kita sekarang tentang evolusi sebagai proses peningkatan kemampuan secara terus-menerus untuk menguasai lingkungan dan pihak lain. Definisi ini mencerminkan keterbatasan pemahaman dunia fisik hanya dengan menggunakan panca indera. Definisi itu mencerminkan perebutan kekuatan eksternal yang diakibatkan oleh rasa takut.

    Fenomena munculnya aliran-aliran yang dianggap “sesat” belakangan ini mungkin merupakan pencarian manusia akan makna yang lebih mendalam atau mungkin juga hanya usaha-usaha alternatif manusia atau sekelompok manusia untuk memperoleh kekuatan eksternal. Manusia  yang menyatakan aliran lain yang memiliki kepercayaan yang berseberangan dengannya merupakan aliran sesat, juga tidak kalah sesatnya. Mereka semua tersesat dalam perebutan kekuatan eksternal. Jika kita masih menganggap diri kita lebih eksklusif, lebih suci, lebih berpengetahuan daripada orang lain maka kitapun masih tersesat.

    Setelah melewati berbagai kebrutalan, baik antar individu maupun antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, sekarang menjadi jelas bahwa rasa tidak aman yang mendasari persepsi kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal tidak dapat disembuhkan dengan cara mengumpulkan kekuatan eksternal. Kita harus memperluas dan memperdalam pemahaman kita yang akan menuntun kita pada suatu jenis kekuatan lain, yaitu kekuatan cinta kasih, kekuatan yang tidak menghakimi apapun yang dihadapinya, kekuatan yang menghargai kebermaknaan dan tujuan dari segala rincian hal-hal terkecil yang ada di bumi.

    Kekuatan cinta kasih berakar pada sumber terdalam dari keberadaan kita. Seseorang yang digerakkan oleh kekuatan ini tidak mampu menjadikan siapapun atau apapun sebagai korban, dan orang ini sedemikian kuat, sedemikian berkuasa, sehingga tidak pernah terlintas dalam kesadarannya untuk menggunakan kekerasan pada orang lain.

    Bunda Theresa pernah berkata : “Kita tidak dapat melakukan hal-hal yang besar, yang dapat kita lakukan adalah melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”. Kehidupan umat manusia telah dibentuk secara mengagumkan oleh kekuasaan dan cinta dari Dia yang bersedia “menyerahkan hidupnya” untuk orang lain. Karena itu Dia merupakan salah satu diantara spesies manusia yang paling berevolusi.

    Transformasi, membawa pemahaman kita tentang evolusi dari evolusi fisik menjadi evolusi spiritual. Dengan bercermin pada pemahaman tentang evolusi yang baru dan lebih luas, pemahaman yang dapat memvalidasi kebenaran terdalam kita, kita dapat melihat arah dan arti evolusi itu dalam pengertian apa yang kita alami, apa yang kita hargai, dan bagaimana kita bertindak.

    Kesadaran atau pencerahan adalah sebuah rahmat. Kita tidak dapat mengundang pencerahan itu. Bagaikan sedang kegerahan di dalam kamar, kita harus membuka jendela kamar kita agar angin sepoi-sepoi dapat masuk dan menyegarkan kita, tetapi kita tidak dapat mengundang angin itu untuk datang. Usaha yang dapat kita lakukan sekedar membuka jendela dan membiarkan angin itu masuk. Rahmat Ilahi bagaikan angin yang melimpah di alam semesta ini. Melaksanakan latihan spiritual, ibadah, ubudiyah dan kegiatan lain yang dianjurkan oleh-Nya adalah salah satu upaya untuk membuka jendela hati kita agar rahmat Allah dapat masuk.

    Evolusi Spiritual Adalah Potensi Manusia yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk yang lain. Pohon dan tumbuhan, misalnya, adalah hampir tidak giat. Mereka termasuk kategori ‘kesadaran tertutup’. Namun, ketika kita mengamati mereka secara seksama, kita akan melihat bahwa mereka memiliki kesadaran yang terbatas. Jagadish Chandra Bose memberitakan bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki kesadaran.44 Entitas hidup yang lain, seperti cacing atau ulat, serangga, dan binatang-binatang yang lain berada dalam “kesadaran mengkerut.’ Mereka tidak tertutup seperti tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga kesadaran mereka tidak berkembang sepenuhnya.

    Manusia memiliki ‘bibit kesadaran Ilahiah yang masih kuncup’. Sebuah pucuk kuncup nampaknya mengkerut, namun ia berpotensi untuk menjadi sekuntum bunga mekar. Kesadaran manusia memiliki potensi yang serupa. Jadi, umat manusia memiliki kemampuan bawaan untuk mengembangkan kesadaran sampai batas hampir tak terhingga, hingga titik mengetahui Kebenaran Mutlak. Spesies yang lain tidak memiliki kemampuan khusus ini. Itulah sebabnya Allah mempermaklumkan bahwa bentuk kehidupan manusia adalah yang paling tinggi, Insan Kamil khususnya dimaksudkan bagi bentuk kehidupan manusia.

    Kesadaran terus mengalami perkembangan dengan cara seperti ini karena tujuan kehidupan adalah untuk mencapai keadaan kesadaran Ilahiah. Jadi kehidupan adalah berbeda dengan badan-badan material yang ditempatinya. Dalam bentuk kehidupan manusia, ketika seseorang dengan tulus mulai bertanya tentang Allah, Kebenaran Mutlak, maka kesadaran spiritualnya yang seperti pucuk kuncup mulai mengalami perkembangan. Itulah keadaan kesadaran yang ‘mulai mekar.’ Ketika dia mempraktekkan disiplin-spiritual yang teratur sebagai hasil dari pertanyaannya, dia akan berkembang terus dan terus. Akhirnya, dia akan mencapai realisasi trancendental (keinsyafan rohani), kesadaran Tuhan yang sempurna, keadaan kesadaran yang ‘mekar sepenuhnya’.

    Pengetahuan ilmiah untuk mencari Kebenaran Mutlak akan menjadi sebuah perjalanan spiritual. Albert Einstein pernah menyatakan, “Hal yang penting adalah bukanlah untuk berhenti bertanya. Keingin-tahuan memiliki alasan tersendiri atas keberadaanya. Orang tak dapat berbuat apa-apa kecuali kagum dan terpesona ketika kita merenungkan misteri kekekalan, kehidupan, struktur realitas yang mengagumkan. Cukup jika seseorang semata-mata berusaha untuk memahami sedikit saja dari misteri-misteri ini setiap hari.”





    Evolusi Kesadaran Spiritual

    29 12 2010

    Apabila kita amati, maka sebenarnya umat manusia mengalami evolusi kesadaran spiritual dalam rangka menuju pencerahan puncak, yaitu bersatu kembali dengan kesejatian. Untuk mudahnya, kita dapat membagi tahap evolusi kesadaran itu menjadi empat tahap, yaitu:

    Tahap Pertama: Paradigma Dualistic.

    • Dalam tahap ini, kita memahami bahwa Tuhan adalah Yang Mahakuasa, pencipta alam semesta (kosmologi dan teologi).
    • Kita melihat segala sesuatu serba dua. Ada surga ada neraka, ada Tuhan ada iblis, Tuhan mahabaik tapi Tuhan menghukum, ada baik ada buruk, ada positif ada negatif, Tuhan memberi berkat tapi Tuhan menurunkan bencana dan musibah. Tahu Tuhan Mahacinta tapi mengatakan bahwa suatu bencana itu merupakan kehendak Tuhan.
    • Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.
    • Bila berbuat baik mengharapkan pahala, dan bila berbuat jahat akan disiksa.
    • Ego sangat kuat, ingin menang sendiri, masuk surga pun ingin duluan.

    Tahap Kedua: Paradigma Semi-dualistic.

    • Dalam tahap ini kita masih memahami bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta semesta, Tuhan Mahabaik, dan yang tidak baik bukan dari Tuhan.
    • Di sini kita tidak lagi berpikir bahwa Tuhan mengadakan bencana. Banjir dan air bah kita mengerti sebagai akibat mekanisme alam, demikian pula gunung meletus dianggap merupakan fenomena alam semata.
    • Bila berbuat baik, kita mendapat pahala, tetapi perbuatan jahat akan diampuni Tuhan karena Tuhan Mahapengampun.
    • Termasuk juga pandangan untuk memilih jalan positif atau jalan negatif untuk mencapai persatuan dengan Tuhan.
    • Ego masih kuat.

    Tahap Ketiga: Paradigma Non-Dualistic

    • Dalam tahap ini kita masih memahami bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta semesta, namun semuanya berada dalam satu kesatuan. Tuhan dan mahluknya adalah satu kesatuan.
    • Termasuk di sini adalah pandangan keesaan Tuhan dimana Tuhan mencakup segala-galanya. Jadi Tuhan menjiwai dan meresapi dunia. Tuhan hadir di setiap mahluk. Tuhan hadir di dalam alam yang fana ini. Tuhan berada di balik proses-proses lahir mati dan siklus daur-ulang. Di sini kita mulai bermeditasi merasakan harmoni dengan alam.
    • Manusia mulai bersifat belas-kasih, aku dan orang lain (mahluk lain) adalah sama. Tidak mau membunuh mahluk lain (ahimsa).
    • Ego masih ada tapi sudah tidak terlalu kuat.

    Tahap keempat: Paradigma “Pure Non-Dualistic”

    • Tuhan adalah realitas sejati, dunia adalah realitas maya (mayapada)
    • Realitas sejati itu kekal, dunia maya itu fana (berubah-ubah).
    • Dunia fana ini adalah ciptaan manusia sendiri (maya, ilusi)
    • Tuhan “nothing to do” dengan dunia. Dunia ini sepenuhnya urusan manusia.
    • Adalah Ego yang menimbulkan keterpisahan manusia dari Tuhan dan Surga.
    • Tuhan Mahakasih dan Pengampun.
    • Segala perbuatan baik oleh manusia di dunia adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.
    • Segala perbuatan buruk oleh manusia di dunia adalah menyakiti diri sendiri.
    • Seluruh alam semesta ini adalah kesatuan kemanusiaan (si Anak Manusia).
    • Untuk masuk Surga, Tuhan tidak memperhitungkan amal baik atau kejahatan manusia. (Maka itu orang bisa hidup di jalan positif atau negatif).
    • Juga kebijaksanaan dunia tidak berlaku sebagai tiket untuk masuk Surga.
    • Tiket masuk Surga adalah pertobatan (tidak mengharap pahala dan siksa) dan penghapusan Ego.
    • Untuk menghapus Ego, manusia harus mulai belajar melepaskan segala keterikatannya, terutama dengan praktek forgiveness (mengampuni, memaafkan, let it go).
    • Yang dimaksud suci di hadapan Tuhan bukanlah kita tidak punya dosa atau banyak berbuat baik. Suci berarti tidak ada ego lagi, sehingga kita tidak punya kepentingan atau keterlekatan apapun dengan dunia.
    • Selama kita masih mempertahankan Ego, maka selama itu pula kita masih memisahkan diri dari Tuhan dan Surga.
    • Dunia (alam semesta) ini sebenarnya merupakan tempat pelarian kita dari Hadirat Tuhan.
    • Masuk Surga berarti sudah rela meninggalkan dunia.
    • Orang yang masih hidup di dunia bisa saja sudah masuk Surga, seperti orang yang melangkah di ambang pintu. Satu kaki masih di dunia, dan kaki lainnya sudah menapak ke Surga.

    Sekian dulu dan terima kasih.

    Salam,

    P.M. Winarno

    NB
    Perhatikan pembicaraan kita dengan orang lain. Apabila kita masih menggunakan kata “aku”, “saya” maka itu berarti masih ada si ego.
    Cobalah berlatih menghilangkan ego ketika berinteraksi dengan orang lain. Gunakan kata “kita”.
    Segera maafkan bila kita dibuat marah, benci, kecewa, dsb tanpa diminta. Demikian pula bila kita berbuat salah, segeralah minta maaf.

    sumber: milis HDnet
    iloveblue.com





    Mengenal Asal-Usul NAQS Methode

    28 12 2010

    Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim (meskipun sedikit di antara orang-orang Arab) serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alf-i Tsani (“Pembaru Milenium kedua”, w. 1624). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).

    Naqsh bererti lukisan, ukiran, peta atau tanda dan Band pula bererti terpahat, terlekat, tertampal atau terpateri. Naqshband pada maknanya bererti “Ukiran yang terpahat” dan maksudnya adalah mengukirkan kalimah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di hati sanubari sehingga ianya benar-benar terpahat di dalam pandangan mata hati yakni pandangan Basirah. Adalah dikatakan bahawa Hadhrat Shah Naqshband tekun mengukirkan Kalimah Allah di dalam hatinya sehingga ukiran kalimah tersebut telah terpahat di hatinya. Amalan zikir seumpama ini masih diamalkan dalam sebilangan besar Tariqat Naqshbandiyah iaitu dengan menggambarkan Kalimah Allah dituliskan pada hati sanubari dengan tinta emas atau perak dan membayangkan hati itu sedang menyebut Allah Allah sehingga lafaz Allah itu benar-benar terpahat di lubuk hati.

    Silsilah ‘Aliyah Naqshbandiyah ini dinisbatkan kepada Hadhrat Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu ‘Anhu yang mana telah disepakati oleh sekalian ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai sebaik-baik manusia sesudah Para Nabi ‘Alaihimus Solatu Wassalam. Asas Tariqat ini adalah seikhlas hati menuruti Sunnah Nabawiyah dan menjauhkan diri dari segala jenis Bida’ah merupakan syarat yang lazim.

    Naqsyabandiyah, sebagai tarekat terorganisasi, punya sejarah dalam rentangan masa hampir enam abad, dan penyebaran yang secara geografis meliputi tiga benua. Maka tidaklah mengherankan apabila warna dan tata cara Naqsyabandiyah menunjukkan aneka variasi mengikuti masa dan tempat tumbuhnya. Adaptasi terjadi karena keadaan memang berubah, dan guru-guru yang berbeda telah memberikan penekanan pada aspek yang berbeda dari asas yang sama, serta para pembaharu menghapuskan pola pikir tertentu atau amalan-amalan tertentu dan memperkenalkan sesuatu yang lain. Dalam membaca pembahasan mengenai berbagai pikiran dasar dan ritual berikut, hendaknya selalu diingat bahwa dalam pengamalannya sehari-hari variasinya tidak sedikit.

    Asas-asas
    Penganut Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas Thariqah. Delapan dari asas itu dirumuskan oleh ‘Abd al-Khaliq Ghuzdawani, sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Baha’ al-Din Naqsyaband. Asas-asas ini disebutkan satu per satu dalam banyak risalah, termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah, Jami al-’Ushul Fi al-’Auliya. Kitab karya Ahmad Dhiya’ al-Din Gumusykhanawi itu dibawa pulang dari Makkah oleh tidak sedikit jamaah haji Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kitab yang satu lagi, yaitu Tanwir al-Qulub oleh Muhammad Amin al-Kurdi dicetak ulang di Singapura dan di Surabaya, dan masih dipakai secara luas. Uraian dalam karya-karya ini sebagian besar mirip dengan uraian Taj al-Din Zakarya (“Kakek” spiritual dari Yusuf Makassar) sebagaimana dikutip Trimingham. Masing-masing asas dikenal dengan namanya dalam bahasa Parsi (bahasa para Khwajagan dan kebanyakan penganut Naqsyabandiyah India).

    AJARAN ASAS NAQSHABANDIYAH

    TARIQAT Naqshbandiyah mempunyai prinsip asasnya yang tersendiri yang telah diasaskan oleh Hadhrat Khwajah Khwajahgan Maulana Syeikh ‘Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih. Ia telah meletakkan lapan prinsip asas ini sebagai dasar Tariqat Naqshbandiyah. Prinsip-prinsip ini dinyatakannya dalam sebutan bahasa Parsi dan mengandungi pengertian dan pangajaran yang amat tinggi nilainya. Adapun prinsip-prinsipnya adalah seperti berikut:

    1. Yad Kard
    2. Baz Gasht
    3. Nigah Dasyat
    4. Yad Dasyat
    5. Hosh Dar Dam
    6. Nazar Bar Qadam
    7. Safar Dar Watan
    8. Khalwat Dar Anjuman

    Hadhrat Syeikh Muhammad Parsa Rahmatullah ‘alaih yang merupakan sahabat, khalifah dan penulis riwayat Hadhrat Maulana Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan di dalam kitabnya bahawa ajaran Tariqat Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih berkenaan zikir dan ajaran lapan prinsip asas seperti yang dinyatakan di atas turut dianuti dan diamalkan oleh 40 jenis Tariqat. Tariqat lain menjadikan asas ini sebagai panduan kepada jalan kebenaran yang mulia iaitu jalan kesedaran dalam menuruti Sunnah Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan meninggalkan sebarang bentuk Bida’ah dan bermujahadah melawan hawa nafsu. Kerana itulah Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih mencapai ketinggian Ruhani dan menjadi seorang Mahaguru Tariqat dan penghulu pemimpin keruhanian pada zamannya.

     1. YAD KARD

    Yad bererti ingat yakni Zikir. Perkataan Kard pula bagi menyatakan kata kerja bagi ingat yakni pekerjaan mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan ianya merupakan zat bagi zikir. Berkata Para Masyaikh, Yad Kard bermaksud melakukan zikir mengingati Tuhan dengan menghadirkan hati. Murid yang telah melakukan Bai‘ah dan telah ditalqinkan dengan zikir hendaklah senantiasa sibuk mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan kalimah zikir yang telah ditalqinkan.

    Zikir yang telah ditalqinkan oleh Syeikh adalah zikir yang akan membawa seseorang murid itu mencapai ketinggian darjat Ruhani. Syeikh akan mentalqinkan zikir kepada muridnya sama ada Zikir Ismu Zat ataupun Zikir Nafi Itsbat secara Lisani ataupun Qalbi. Seseorang murid hendaklah melakukan zikir yang sebanyak-banyaknya dan sentiasa menyibukkan dirinya dengan berzikir. Pada setiap hari, masa dan keadaan, sama ada dalam keadaaan berdiri atau duduk atau berbaring ataupun berjalan, hendaklah sentiasa berzikir.

    Pada lazimnya seseorang yang baru menjalani Tariqat Naqshbandiyah ini, Syeikh akan mentalqinkan kalimah Ismu Zat iaitu lafaz Allah sebagai zikir yang perlu dilakukan pada Latifah Qalb tanpa menggerakkan lidah. Murid hendaklah berzikir Allah Allah pada latifah tersebut sebanyak 24 ribu kali sehari semalam setiap hari sehingga terhasilnya cahaya Warid.

    Ada sebahagian Syeikh yang menetapkan jumlah permulaan sebanyak lima ribu kali sehari semalam dan ada juga yang menetapkannya sehingga tujuh puluh ribu kali sehari semalam.

    Seterusnya murid hendaklah mengkhabarkan segala pengalaman Ruhaniahnya kepada Syeikh apabila menerima Warid tersebut. Begitulah pada setiap Latifah, murid hendaklah berzikir sebanyak-banyaknya pada kesemua Latifah seperti yang diarahkan oleh Syeikh sehingga tercapainya Warid. Mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara sempurna adalah dengan berzikir menghadirkan hati ke Hadhrat ZatNya.

    Setelah Zikir Ismu Zat dilakukan pada setiap Latifah dengan sempurna, Syeikh akan mentalqinkan pula Zikir Nafi Itsbat iaitu kalimah LA ILAHA ILLA ALLAH yang perlu dilakukan sama ada secara Lisani iaitu menerusi lidah atau secara Qalbi iaitu berzikir menerusi lidah hati.

    Zikir Nafi Itsbat perlu dilakukan menurut kaifiyatnya. Syeikh akan menentukan dalam bentuk apa sesuatu zikir itu perlu dilakukan. Yang penting bagi Salik adalah menyibukkan diri dengan zikir yang telah ditalqinkan oleh Syeikh sama ada ianya Zikir Ismu Zat ataupun Zikir Nafi Itsbat. Salik hendaklah memelihara zikir dengan hati dan lidah dengan menyebut Allah Allah iaitu nama bagi Zat Tuhan yang merangkumi kesemua Nama-NamaNya dan Sifat-SifatNya yang mulia serta dengan menyebut Zikir Nafi Itsbat menerusi kalimah LA ILAHA ILLA ALLAH dengan sebanyak-banyaknya. Salik hendaklah melakukan Zikir Nafi Itsbat sehingga dia mencapai kejernihan hati dan tenggelam di dalam Muraqabah. Murid hendaklah melakukan Zikir Nafi Itsbat sebanyak 5 ribu ke 10 ribu kali setiap hari bagi menanggalkan segala kekaratan hati. Zikir tersebut akan membersihkan hati dan membawa seseorang itu kepada Musyahadah.

    Zikir Nafi Itsbat menurut Akabirin Naqshbandiyah, seseorang murid yang baru itu hendaklah menutup kedua matanya, menutup mulutnya, merapatkan giginya, menongkatkan lidahnya ke langit-langit dan menahan nafasnya. Dia hendaklah mengucapkan zikir ini dengan hatinya bermula dari kalimah Nafi dan seterusnya kalimah Itsbat. Bagaimanapun, bagi murid yang telah lama hendaklah membukakan kedua matanya dan tidak perlu menahan nafasnya.

    Bermula dari kalimah Nafi iaitu LA yang bererti Tiada, dia hendaklah menarik kalimah LA ini dari bawah pusatnya ke atas hingga ke otak. Apabila kalimah LA mencapai otak, ucapkan pula kalimah ILAHA di dalam hati yang bererti Tuhan. Kemudian hendaklah digerakkan dari otak ke bahu kanan sambil menyebut ILLA yang bererti Melainkan, lalu menghentakkan kalimah Itsbat iaitu ALLAH ke arah Latifah Qalb. Sewaktu menghentakkan kalimah ALLAH ke arah Qalb, hendaklah merasakan bahawa kesan hentakan itu mengenai kesemua Lataif di dalam tubuh badan.

    Zikir yang sebanyak-banyaknya akan membawa seseorang Salik itu mencapai kepada kehadiran Zat Allah dalam kewujudan secara Zihni yakni di dalam pikiran. Salik hendaklah berzikir dalam setiap nafas yang keluar dan masuk. Yad Kard merupakan amalan dipikiran yang bertujuan pikiran hendaklah sentiasa menggesa diri supaya sentiasa ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan melakukan zikir bagi mengingati ZatNya. Pekerjaan berzikir mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah suatu amalan yang tiada batas dan had. Ianya boleh dikerjakan pada sebarang keadaan, masa dan tempat. Hendaklah sentiasa memperhatikan nafas supaya setiap nafas yang keluar dan masuk itu disertai ingatan terhadap Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

     2. BAZ GASHT

    Baz Gasht bererti kembali. Menurut Para Masyaikh, maksudnya ialah seseorang yang melakukan zikir dengan menggunakan lidah hati menyebut Allah Allah dan LA ILAHA ILLA ALLAH, begitulah juga setelah itu hendaklah mengucapkan di dalam hati dengan penuh khusyuk dan merendahkan diri akan ucapan ini:

    “Ilahi Anta Maqsudi, Wa Ridhoka Matlubi, A’tini Mahabbataka Wa Ma’rifataka”

    Yang bererti, “Wahai Tuhanku Engkaulah maksudku dan keredhaanMu tuntutanku, kurniakanlah Cinta dan Makrifat ZatMu.”

    Ianya merupakan ucapan Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, ucapan ini akan meningkatkan tahap kesedaran kepada kewujudan dan Keesaan Zat Tuhan, sehingga dia mencapai suatu tahap dimana segala kewujudan makhluk terhapus pada pandangan matanya. Apa yang dilihatnya walau ke mana jua dia memandang, yang dilihatnya hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ucapan kata-kata ini juga memberikan kita pengertian bahawa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menjadi maksud dan matlamat kita dan tidak ada tujuan lain selain untuk mendapatkan keredhaanNya. Salik hendaklah mengucapkan kalimah ini bagi menghuraikan segala rahsia Keesaan Zat Tuhan dan supaya terbuka kepadanya keunikan hakikat Kehadiran Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Sebagai murid, tidak boleh meninggalkan zikir kalimah ini meskipun tidak merasakan sebarang kesan pada hati. Dia hendaklah tetap meneruskan zikir kalimah tersebut sebagai menuruti anjuran Syeikhnya.

    Makna Baz Gasht ialah kembali kepada Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Mulia dengan menunjukkan penyerahan yang sempurna, mentaati segala kehendakNya dan merendahkan diri dengan sempurna dalam memuji ZatNya. Adapun lafaz Baz Gasht dalam bahasa Parsi seperti yang diamalkan oleh Para Akabirin Naqshabandiyah Mujaddidiyah adalah seperti berikut:

    “Khudawandah, Maqsudi Man Tui Wa Ridhai Tu, Tarak Kardam Dunya Wa Akhirat Baraey Tu, Mahabbat Wa Ma’rifati Khud Badih.”

    Yang bererti, “Tuhanku, maksudku hanyalah Engkau dan keredaanMu, telahku lepaskan Dunia dan Akhirat kerana Engkau, kurniakanlah Cinta dan Makrifat ZatMu.”

    Pada permulaan, jika Salik sendiri tidak memahami hakikat kebenaran ucapan kata-kata ini, hendaklah dia tetap juga menyebutnya kerana menyebut kata-kata itu dengan hati yang khusyuk dan merendahkan diri akan menambahkan lagi pemahamannya dan secara sedikit demi sedikit Salik itu akan merasai hakikat kebenaran perkataan tersebut dan Insya Allah akan merasai kesannya. Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menyatakan dalam doanya, “Ma Zakarnaka Haqqa Zikrika Ya Mazkur.” Yang bererti, “Kami tidak mengingatiMu dengan hak mengingatiMu secara yang sepatutnya, Wahai Zat yang sepatutnya diingati.”

    Seseorang Salik itu tidak akan dapat hadir ke Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerusi zikirnya dan tidak akan dapat mencapai Musyahadah terhadap rahsia-rahsia dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerusi zikirnya jika dia tidak berzikir dengan sokongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menerusi ingatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap dirinya.

    Seorang Salik itu tidak akan dapat berzikir dengan kemampuan dirinya bahkan dia hendaklah sentiasa menyedari bahawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang sedang berzikir menerusi dirinya. Hadhrat Maulana Syeikh Abu Yazid Bistami Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Apabila daku mencapai ZatNya, daku melihat bahawa ingatanNya terhadap diriku mendahului ingatanku terhadap diriNya.”

     3. NIGAH DASYAT

    Nigah bererti menjaga, mengawasi, memelihara dan Dasyat pula bererti melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Maksudnya ialah seseorang Salik itu sewaktu melakukan zikir hendaklah sentiasa memelihara hati dari sebarang khatrah lintasan hati dan was-was Syaitan dengan bersungguh-sungguh. Jangan biarkan khayalan kedukaan memberi kesan kepada hati.

    Setiap hari hendaklah melapangkan masa selama sejam ke dua jam ataupun lebih untuk memelihara hati dari segala ingatan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selain DiriNya, jangan ada sebarang khayalan pada pikiran dan hati. Lakukan latihan ini sehingga segala sesuatu selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, segala-galanya menjadi lenyap.

    Nigah Dasyat juga bermakna seseorang Salik itu mesti memperhatikan hatinya dan menjaganya dengan menghindarkan sebarang ingatan yang buruk masuk ke dalam hati. Ingatan dan keinginan yang buruk akan menjauhkan hati dari kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kesufian yang sebenar adalah daya untuk memelihara hati dari ingatan yang buruk dan memeliharanya dari sebarang keinginan yang rendah. Seseorang yang benar-benar mengenali hatinya akan dapat mengenali Tuhannya. Di dalam Tariqat Naqshbandiyah ini, seseorang Salik yang dapat memelihara hatinya dari sebarang ingatan yang buruk selama 15 minit adalah merupakan suatu pencapaian yang besar dan menjadikannya layak sebagai seorang ahli Sufi yang benar.

    Hadhrat Maulana Shah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih menyatakan di dalam kitabnya Idhahut Tariqah bahawa, “Nigah Dasyat adalah merupakan syarat ketika berzikir, bahawa ketika berzikir hendaklah menghentikan segala khayalan serta was-was dan apabila sebarang khayalan yang selain Allah terlintas di dalam hati maka pada waktu itu juga hendaklah dia menjauhkannya supaya khayalan Ghairullah tidak menduduki hati.”

    Hadhrat Maulana Syeikh Abul Hassan Kharqani Rahmatullah ‘alaih pernah berkata, “Telah berlalu 40 tahun dimana Allah sentiasa melihat hatiku dan telah melihat tiada sesiapa pun kecuali DiriNya dan tiada ruang bilik di dalam hatiku untuk selain dari Allah.”

    Hadhrat Syeikh Abu Bakar Al-Qittani Rahmatullah ‘alaih pernah berkata, “Aku menjadi penjaga di pintu hatiku selama 40 tahun dan aku tidak pernah membukanya kepada sesiapa pun kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehinggakan hatiku tidak mengenali sesiapapun kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

    Seorang Syeikh Sufi pernah berkata, “Oleh kerana aku telah menjaga hatiku selama sepuluh malam, hatiku telah menjagaku selama dua puluh tahun.”

     4. YAD DASYAT

    Yad Dasyat bererti mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan bersungguh-sungguh dengan Zauq Wijdani sehingga mencapai Dawam Hudhur yakni kehadiran Zat Allah secara kekal berterusan dan berada dalam keadaan berjaga-jaga memperhatikan limpahan Faidhz dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kesedaran ini diibaratkan sebagai Hudhur Bey Ghibat dan merupakan Nisbat Khassah Naqshbandiyah.

    Yad Dasyat juga bermakna seseorang yang berzikir itu memelihara hatinya pada setiap penafian dan pengitsbatan di dalam setiap nafas tanpa meninggalkan Kehadiran Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ianya menghendaki agar Salik memelihara hatinya di dalam Kehadiran Kesucian Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara berterusan. Ini untuk membolehkannya agar dapat merasai kesedaran dan melihat Tajalli Cahaya Zat Yang Esa atau disebut sebagai Anwaruz-Zatil-Ahadiyah.

    Menurut Hadhrat Maulana Shah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih, Yad Dasyat merupakan istilah Para Sufi bagi menerangkan keadaan maqam Syuhud atau Musyahadah yang juga dikenali sebagai ‘Ainul Yaqin atau Dawam Hudhur dan Dawam Agahi.

    Di zaman para Sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in ianya disebut sebagai Ihsan. Ia merupakan suatu maksud di dalam Tariqah Naqshbandiyah Mujaddidiyah bagi menghasilkan Dawam Hudhur dan Dawam Agahi dengan Hadhrat Zat Ilahi Subhanahu Wa Ta’ala dan di samping itu berpegang dengan ‘Aqidah yang sahih menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan melazimkan diri beramal menuruti Sunnah Nabawiyah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Jika Salik tidak memiliki ketiga-tiga sifat ini iaitu tetap mengingati Zat Ilahi, beri’tiqad dengan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan menuruti Sunnah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ataupun meninggalkan salah satu darinya maka dia adalah terkeluar dari jalan Tariqat Naqshbandiyah, Na’uzu Billahi Minha!

     5. HOSH DAR DAM

    Hosh bererti sedar, Dar bererti dalam dan Dam bererti nafas, yakni sedar dalam nafas. Seseorang Salik itu hendaklah berada dalam kesedaran bahawa setiap nafasnya yang keluar masuk mestilah beserta kesedaran terhadap Kehadiran Zat Allah Ta’ala. Jangan sampai hati menjadi lalai dan leka dari kesedaran terhadap Kehadiran Zat Allah Ta’ala. Dalam setiap nafas hendaklah menyedari kehadiran ZatNya.

    Menurut Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih bahawa, “Seseorang Salik yang benar hendaklah menjaga dan memelihara nafasnya dari kelalaian pada setiap kali masuk dan keluarnya nafas serta menetapkan hatinya sentiasa berada dalam Kehadiran Kesucian ZatNya dan dia hendaklah memperbaharukan nafasnya dengan ibadah dan khidmat serta membawa ibadah ini menuju kepada Tuhannya seluruh kehidupan, kerana setiap nafas yang disedut dan dihembus beserta KehadiranNya adalah hidup dan berhubung dengan Kehadiran ZatNya Yang Suci. Setiap nafas yang disedut dan dihembus dengan kelalaian adalah mati dan terputus hubungan dari Kehadiran ZatNya Yang Suci.”

    Hadhrat Khwajah Maulana Syeikh ‘Ubaidullah Ahrar Rahmatullah ‘alaih berkata, “Maksud utama seseorang Salik di dalam Tariqah ini adalah untuk menjaga nafasnya dan seseorang yang tidak dapat menjaga nafasnya dengan baik maka dikatakan kepadanya bahawa dia telah kehilangan dirinya.”

    Hadhrat Syeikh Abul Janab Najmuddin Al-Kubra Rahmatullah ‘alaih berkta dalam kitabnya Fawatihul Jamal bahawa, “Zikir adalah sentiasa berjalan di dalam tubuh setiap satu ciptaan Allah sebagai memenuhi keperluan nafas mereka biarpun tanpa kehendak sebagai tanda ketaatan yang merupakan sebahagian dari penciptaan mereka. Menerusi pernafasan mereka, bunyi huruf ‘Ha’ dari nama Allah Yang Maha Suci berada dalam setiap nafas yang keluar masuk dan ianya merupakan tanda kewujudan Zat Yang Maha Ghaib sebagai menyatakan Keunikan dan Keesaan Zat Tuhan. Maka itu amatlah perlu berada dalam kesedaran dan hadir dalam setiap nafas sebagai langkah untuk mengenali Zat Yang Maha Pencipta.”

    Nama Allah yang mewakili kesemua Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah dan Af’alNya adalah terdiri dari empat huruf iaitu Alif, Lam, Lam dan Ha.

    Para Sufi berkata bahawa Zat Ghaib Mutlak adalah Allah Yang Maha Suci lagi Maha Mulia KetinggianNya dan DiriNya dinyatakan menerusi huruf yang terakhir dari Kalimah Allah iaitu huruf Ha. Huruf tersebut apabila ditemukan dengan huruf Alif akan menghasilkan sebutan Ha yang memberikan makna “Dia Yang Ghaib” sebagai kata ganti diri. Bunyi sebutan Ha itu sebagai menampilkan dan menyatakan bukti kewujudan Zat DiriNya Yang Ghaib Mutlak (Ghaibul Huwiyyatil Mutlaqa Lillahi ‘Azza Wa Jalla). Huruf Lam yang pertama adalah bermaksud Ta‘arif atau pengenalan dan huruf Lam yang kedua pula adalah bermaksud Muballaghah yakni pengkhususan. Menjaga dan memelihara hati dari kelalaian akan membawa seseorang itu kepada kesempurnaan Kehadiran Zat, dan kesempurnaan Kehadiran Zat akan membawanya kepada kesempurnaan Musyahadah dan kesempurnaan Musyahadah akan membawanya kepada kesempurnaan Tajalli Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah. Seterusnya Allah akan membawanya kepada penzahiran kesemua Sembilan Puluh Sembilan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah dan Sifat-SifatNya yang lain kerana adalah dikatakan bahawa Sifat Allah itu adalah sebanyak nafas-nafas manusia.

    Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih menegaskan bahawa hendaklah mengingati Allah pada setiap kali keluar masuk nafas dan di antara keduanya yakni masa di antara udara disedut masuk dan dihembus keluar dan masa di antara udara dihembus keluar dan disedut masuk. Terdapat empat ruang untuk diisikan dengan Zikrullah. Amalan ini disebut Hosh Dar Dam yakni bezikir secara sedar dalam nafas. Zikir dalam pernafasan juga dikenali sebagai Paas Anfas di kalangan Ahli Tariqat Chistiyah.

    Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih berkata, “Tariqat ini dibina berasaskan nafas, maka adalah wajib bagi setiap orang untuk menjaga nafasnya pada waktu menghirup nafas dan menghembuskan nafas dan seterusnya menjaga nafasnya pada waktu di antara menghirup dan menghembuskan nafas.”

    Udara Masuk – Allah Allah Antara – Allah Allah Udara Keluar – Allah Allah Antara – Allah Allah

    Perlu diketahui bahawa menjaga nafas dari kelalaian adalah amat sukar bagi seseorang Salik, lantaran itu mereka hendaklah menjaganya dengan memohon Istighfar yakni keampunan kerana memohon Istighfar akan menyucikan hatinya dan mensucikan nafasnya dan menyediakan dirinya untuk menyaksikan Tajalli penzahiran manifestasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala di mana-mana jua.

     6. NAZAR BAR QADAM

    Nazar bererti memandang, Bar bererti pada, dan Qadam pula bererti kaki. Seseorang Salik itu ketika berjalan hendaklah sentiasa memandang ke arah kakinya dan jangan melebihkan pandangannya ke tempat lain dan setiap kali ketika duduk hendaklah sentiasa memandang ke hadapan sambil merendahkan pandangan. Jangan menoleh ke kiri dan ke kanan kerana ianya akan menimbulkan fasad yang besar dalam dirinya dan akan menghalangnya dari mencapai maksud.

    Nazar Bar Qadam bermakna ketika seseorang Salik itu sedang berjalan, dia hendaklah tetap memperhatikan langkah kakinya. Di mana jua dia hendak meletakkan kakinya, matanya juga perlu memandang ke arah tersebut. Tidak dibolehkan baginya melemparkan pandangannya ke sana sini, memandang kiri dan kanan ataupun di hadapannya kerana pandangan yang tidak baik akan menghijabkan hatinya.

    Kebanyakan hijab-hijab di hati itu terjadi kerana bayangan gambaran yang dipindahkan dari pandangan penglihatan mata ke otak sewaktu menjalani kehidupan seharian. Ini akan mengganggu hati dan menimbulkan keinginan memenuhi berbagai kehendak hawa nafsu seperti yang telah tergambar di ruangan otak. Gambaran-gambaran ini merupakan hijab-hijab bagi hati dan ianya menyekat Cahaya Kehadiran Zat Allah Yang Maha Suci.

    Kerana itulah Para Masyaikh melarang murid mereka yang telah menyucikan hati mereka menerusi zikir yang berterusan dari memandang ke tempat yang selain dari kaki mereka. Hati mereka ibarat cermin yang menerima dan memantulkan setiap gambaran dengan mudah. Ini akan mengganggu mereka dan akan menyebabkan kekotoran hati.

    Maka itu, Salik diarahkan agar merendahkan pandangan supaya mereka tidak terkena panahan dari panahan Syaitan. Merendahkan pandangan juga menjadi tanda kerendahan diri. Orang yang bongkak dan sombong tidak memandang ke arah kaki mereka ketika berjalan. Ia juga merupakan tanda bagi seseorang yang menuruti jejak langkah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mana Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika berjalan tidak menoleh ke kiri dan ke kanan tetapi Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya melihat ke arah kakinya, bergerak dengan pantas menuju ke arah destinasinya. Pengertian batin yang dituntut dari prinsip ini ialah supaya Salik bergerak dengan laju dan pantas dalam melakukan perjalanan suluk, yang mana apa jua maqam yang terpandang olehnya maka dengan secepat yang mungkin kakinya juga segera sampai pada kedudukan maqam tersebut. Ia juga menjadi tanda ketinggian darjat seseorang yang mana dia tidak memandang kepada sesuatu pun kecuali Tuhannya. Sepertimana seseorang yang hendak lekas menuju kepada tujuannya, begitulah seorang Salik yang menuju Kehadhrat Tuhan hendaklah lekas-lekas bergerak, dengan cepat dan pantas, tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak memandang kepada hawa nafsu duniawi sebaliknya hanya memandang ke arah mencapai Kehadiran Zat Tuhan Yang Suci.

    Hadhrat Maulana Imam Rabbani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih telah berkata dalam suratnya yang ke-259 di dalam Maktubat, “Pandangan mendahului langkah dan langkah menuruti pandangan. Mi’raj ke maqam yang tinggi didahului dengan pandangan Basirah kemudian diikuti dengan langkah. Apabila langkah telah mencapai Mi’raj tempat yang dipandang, maka kemudian pandangan akan diangkat ke suatu maqam yang lain yang mana langkah perlu menurutinya. Kemudian pandangan akan diangkat ke tempat yang lebih tinggi dan langkah akan menurutinya. Begitulah seterusnya sehingga pandangan mencapai maqam kesempurnaan yang mana langkahnya akan diberhentikan. Kami katakan bahawa, apabila langkah menuruti pandangan, murid telah mencapai maqam kesediaan untuk menuruti jejak langkah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jejak langkah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah merupakan sumber asal bagi segala langkah.”

    Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih berkata, “Jika kita memandang kesalahan sahabat-sahabat, kita akan ditinggalkan tanpa sahabat kerana tiada seorang juapun yang sempurna.”

    7. SAFAR DAR WATAN

    Safar bererti menjelajah, berjalan atau bersiar, Dar bererti dalam dan Watan bererti kampung. Safar Dar Watan bermakna bersiar-siar dalam kampung dirinya yakni kembali berjalan menuju Tuhan. Seseorang Salik itu hendaklah menjelajah dari dunia ciptaan kepada dunia Yang Maha Pencipta.

    Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda yang mafhumnya, “Daku sedang menuju Tuhanku dari suatu hal keadaan ke suatu hal keadaan yang lebih baik dan dari suatu maqam ke suatu maqam yang lebih baik.”

    Salik hendaklah berpindah dari kehendak hawa nafsu yang dilarang kepada kehendak untuk berada dalam Kehadiran ZatNya. Dia hendaklah berusaha meninggalkan segala sifat-sifat Basyariyah (Kemanusiawian) yang tidak baik dan meningkatkan dirinya dengan sifat-sifat Malakutiyah (Kemalaikatan) yang terdiri dari sepuluh maqam iaitu:

    1. Taubat 
    2. Inabat 
    3. Sabar 
    4. Syukur 
    5. Qana’ah 
    6. Wara’ 
    7. Taqwa
    8. Taslim
    9. Tawakkal 
    10. Redha.

    Para Masyaikh membahagikan perjalanan ini kepada dua kategori iaitu Sair Afaqi yakni Perjalanan Luaran dan Sair Anfusi yakni Perjalanan Dalaman. Perjalanan Luaran adalah perjalanan dari suatu tempat ke suatu tempat mencari seorang pembimbing Ruhani yang sempurna bagi dirinya dan akan menunjukkan jalan ke tempat yang dimaksudkannya. Ini akan membolehkannya untuk memulakan Perjalanan Dalaman.

    Seseorang Salik apabila dia sudah menemui seorang pembimbing Ruhani yang sempurna bagi dirinya adalah dilarang dari melakukan Perjalanan Luaran. Pada Perjalanan Luaran ini terdapat berbagai kesukaran yang mana seseorang yang baru menuruti jalan ini tidak dapat tidak, pasti akan terjerumus ke dalam tindakan yang dilarang, kerana mereka adalah lemah dalam menunaikan ibadah mereka.

    Perjalanan yang bersifat dalaman pula mengkehendakkan agar seseorang Salik itu meninggalkan segala tabiat yang buruk dan membawa adab tertib yang baik ke dalam dirinya serta mengeluarkan dari hatinya segala keinginan Duniawi. Dia akan diangkat dari suatu maqam yang kotor zulmat ke suatu maqam kesucian. Pada waktu itu dia tidak perlu lagi melakukan Perjalanan Luaran. Hatinya telah dibersihkan dan menjadikannya tulin seperti air, jernih seperti kaca, bersih bagaikan cermin lalu menunjukkannya hakikat setiap segala suatu urusan yang penting dalam kehidupan sehariannya tanpa memerlukan sebarang tindakan yang bersifat luaran bagi pihak dirinya. Di dalam hatinya akan muncul segala apa yang diperlukan olehnya dalam kehidupan ini dan kehidupan mereka yang berada di sampingnya.

    Hadhrat Maulana Shah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Ketahuilah bahawa apabila hati tertakluk dengan sesuatu selain Allah dan khayalan yang buruk menjadi semakin kuat maka limpahan Faidhz Ilahi menjadi sukar untuk dicapai oleh Batin. Jesteru itu dengan kalimah LA ILAHA hendaklah menafikan segala akhlak yang buruk itu sebagai contohnya bagi penyakit hasad, sewaktu mengucapkan LA ILAHA hendaklah menafikan hasad itu dan sewaktu mengucapkan ILLA ALLAH hendaklah mengikrarkan cinta dan kasih sayang di dalam hati. Begitulah ketika melakukan zikir Nafi Itsbat dengan sebanyak-banyaknya lalu menghadap kepada Allah dengan rasa hina dan rendah diri bagi menghapuskan segala keburukan diri sehinggalah keburukan dirinya itu benar-benar terhapus. Begitulah juga terhadap segala rintangan Batin, ianya perlu disingkirkan supaya terhasilnya Tasfiyah dan Tazkiyah. Latihan ini merupakan salah satu dari maksud Safar Dar Watan.”

    8. KHALWAT DAR ANJUMAN
    Khalwat bererti bersendirian dan Anjuman bererti khalayak ramai, maka pengertiannya ialah bersendirian dalam keramaian. Maksudnya pada zahir, Salik bergaul dengan manusia dan pada batinnya dia kekal bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Terdapat dua jenis khalwat iaitu Khalwat Luaran atau disebut sebagai Khalwat Saghir yakni khalwat kecil dan Khalwat Dalaman atau disebut sebagai Khalwat Kabir yang bermaksud khalwat besar atau disebut sebagai Jalwat. Khalwat Luaran menghendaki Salik agar mengasingkan dirinya di tempat yang sunyi dan jauh dari kesibukan manusia. Secara bersendirian Salik menumpukan kepada Zikirullah dan Muraqabah untuk mencapai penyaksian Kebesaran dan Keagungan Kerajaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila sudah mencapai fana menerusi zikir pikir dan semua deria luaran difanakan, pada waktu itu deria dalaman bebas meneroka ke Alam Kebesaran dan Keagungan Kerajaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini seterusnya akan membawa kepada Khalwat Dalaman.

    Khalwat Dalaman bermaksud berkhalwat dalam kesibukan manusia. Hati Salik hendaklah sentiasa hadir ke Hadhrat Tuhan dan hilang dari makhluk sedang jasmaninya sedang hadir bersama mereka. Dikatakan bahawa seseorang Salik yang Haq sentiasa sibuk dengan zikir khafi di dalam hatinya sehinggakan jika dia masuk ke dalam majlis keramaian manusia, dia tidak mendengar suara mereka. Kerana itu ianya dinamakan Khalwat Kabir dan Jalwat yakni berzikir dalam kesibukan manusia. Keadaan berzikir itu mengatasi dirinya dan penzahiran Hadhrat Suci Tuhan sedang menariknya membuatkannya tidak menghiraukan segala sesuatu yang lain kecuali Tuhannya. Ini merupakan tingkat khalwat yang tertinggi dan dianggap sebagai khalwat yang sebenar seperti yang dinyatakan dalam ayat Al-Quran Surah An-Nur ayat 37:

    Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingati Allah, dan dari mendirikan sembahyang, dan dari membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi goncang.

    “Rijalun La Tulhihim Tijaratun Wala Bay’un ‘An Zikrillah,” bermaksud para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah. Inilah merupakan jalan Tariqat Naqshbandiyah. Hadhrat Khwajah Shah Bahauddin Naqshband Qaddasallahu Sirrahu telah ditanyakan orang bahawa apakah yang menjadi asas bagi Tariqatnya?

    Beliau menjawab, “Berdasarkan Khalwat Dar Anjuman, yakni zahir berada bersama Khalaq dan batin hidup bersama Haq serta menempuh kehidupan dengan menganggap bahawa Khalaq mempunyai hubungan dengan Tuhan. Sebagai Salik dia tidak boleh berhenti dari menuju kepada maksudnya yang hakiki.”

    Sepertimana mafhum sabdaan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Padaku terdapat dua sisi. Satu sisiku menghadap ke arah Penciptaku dan satu sisi lagi menghadap ke arah makhluk ciptaan.”

    Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih berkata, “Tariqatuna As-Suhbah Wal Khayru Fil Jam’iyyat.” Yang bererti, “Jalan Tariqah kami adalah dengan cara bersahabat dan kebaikan itu dalam jemaah Jam’iyat.”

    Khalwat yang utama di sisi Para Masyaikh Naqshbandiyah adalah Khalwat Dalaman kerana mereka sentiasa berada bersama Tuhan mereka dan pada masa yang sama mereka berada bersama dengan manusia. Adalah dikatakan bahawa seseorang beriman yang dapat bercampur gaul dengan manusia dan menanggung berbagai masaalah dalam kehidupan adalah lebih baik dari orang beriman yang menghindarkan dirinya dari manusia.

    Hadhrat Imam Rabbani Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Perlulah diketahui bahawa Salik pada permulaan jalannya mungkin menggunakan khalwat luaran untuk mengasingkan dirinya dari manusia, beribadat dan bertawajjuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga dia mencapai tingkat darjat yang lebih tinggi. Pada waktu itu dia akan dinasihatkan oleh Syeikhnya seperti kata-kata Sayyid Al-Kharraz Rahmatullah ‘alaih iaitu kesempurnaan bukanlah dalam mempamerkan karamah yang hebat-hebat tetapi kesempurnaan yang sebenar ialah untuk duduk bersama manusia, berjual beli, bernikah kahwin dan mendapatkan zuriat dan dalam pada itu sekali-kali tidak meninggalkan Kehadiran Allah walaupun seketika.”

    Hadhrat Shah ‘Abdullah Ghulam ‘Ali Dehlawi Rahmatullah ‘alaih berkata, “Daripada masamu, jangan ada sebarang waktu pun yang engkau tidak berzikir dan bertawajjuh serta mengharapkan Kehadiran Allah Ta’ala dan bertemulah dengan manusia dan berzikirlah walaupun berada di dalam keramaian dan sentiasa berjaga-jaga memperhatikan limpahan Allah.”

    Berkata Penyair, “Limpahan Faidhz Al-Haq datang tiba-tiba tetapi hatiku memperhatikan waridnya, Biarpun di waktu sekali kerdipan mata namun diriku sekali-kali tidak leka, Boleh jadi Dia sedang memperhatikanmu dan dikau tidak memperhatikannya.”

    Hal keadaan ini dinamakan Khalwat Dar Anjuman iaitu Kainun Haqiqat Wa Bainun Surat yakni hakikat dirinya berzama Zat Tuhan dan tubuh badan bersama makhluk ciptaan Tuhan. Masyaikh menggelarkannya sebagai Sufi Kain Bain. Kelapan-lapan asas Tariqat ini diperkenalkan oleh Hadhrat Khwajah Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih dan menjadi ikutan 40 Tariqat yang lain dan sehingga ke hari ini menjadi asas yang teguh untuk seseorang hamba Allah kembali menuju kepada Tuhannya.

    Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaihi telah menerima kelapan-lapan asas Tariqat ini dari Hadhrat Khwajah Abdul Khaliq Ghujduwani dan beliau telah menambahkan tiga asas Tariqat iaitu Wuquf Qalbi, Wuquf ‘Adadi dan Wuquf Zamani menjadikannya sebelas asas.

    Hosh Dar Dam Khalwat Dar Anjuman; Yad Kard Yad Dasyat. Nazar Bar Qadam Safar Dar Watan; Baz Gasht Nigah Dasyat.

    Sentiasalah sedar dalam nafas ketika berkhalwat bersama khalayak; Kerjakanlah Zikir dan ingatlah ZatNya dengan bersungguh-sungguh. Perhatikan setiap langkah ketika bersafar di dalam kampung; Sekembalinya dari merayau, perhatikanlah limpahan Ilahi bersungguh-sungguh.

    Wuquf Qalbi Wuquf ‘Adadi, Wuquf Zamani Bi Dawam Agahi.

    Ingatlah Allah tetap pada hati, bilangan dan masa dengan sentiasa sedar berjaga-jaga.

    TAMBAHAN SHAH NAQSHBAND

    HADHRAT Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih merupakan Imam bagi Tariqat Naqshbandiyah dan seorang Mahaguru Tariqat yang terkemuka. Ia telah mengukuhkan lagi jalan ini dengan tiga prinsip penting dalam Zikir Khafi sebagai tambahan kepada lapan prinsip asas yang telah dikemukakan oleh Hadhrat Khwajah Khwajahgan Syeikh ‘Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih iaitu:

    1. WUQUF QALBI

    Mengarahkan penumpuan terhadap hati dan hati pula mengarahkan penumpuan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada setiap masa dan keadaan. Sama ada dalam keadaan berdiri, berbaring, berjalan mahupun duduk. Hendaklah bertawajjuh kepada hati dan hati pula tetap bertawajjuh ke Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wuquf Qalbi merupakan syarat bagi zikir.

    Kedudukan Qalbi ini adalah pada kedudukan dua jari di bawah tetek kiri dan kedudukan ini hendaklah sentiasa diberikan penumpuan dan Tawajjuh. Bayangan limpahan Nur dari Allah hendaklah sentiasa kelihatan melimpah pada Qalbi dalam pandangan batin.

    Ini merupakan suatu kaedah Zikir Khafi yakni suatu bentuk zikir yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh Para Malaikat. Ia merupakan suatu kaedah zikir yang rahsia.

    2. WUQUF ‘ADADI

    Sentiasa memperhatikan bilangan ganjil ketika melakukan zikir Nafi Itsbat. Zikir Nafi Itsbat ialah lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH dan dilakukan di dalam hati menurut kaifiyatnya. Dalam melakukan zikir Nafi Itsbat ini, Salik hendaklah sentiasa mengawasi bilangan zikir Nafi Itsbatnya itu dengan memastikannya dalam jumlah bilangan yang ganjil iaitu 7 atau 9 atau 19 atau 21 atau 23 atau sebarang bilangan yang ganjil.

    Menurut Para Masyaikh, bilangan ganjil mempunyai rahsia yang tertentu kerana Allah adalah Ganjil dan menyukai bilangan yang ganjil dan ianya akan menghasilkan ilmu tentang Rahsia Allah Ta’ala. Menurut Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih, “Memelihara bilangan di dalam zikir adalah langkah pertama dalam menghasilkan Ilmu Laduni.”

    Memelihara bilangan bukanlah untuk jumlahnya semata-mata bahkan ianya untuk memelihara hati dari ingatan selain Allah dan sebagai asbab untuk memberikan lebih penumpuan dalam usahanya untuk menyempurnakan zikir yang telah diberikan oleh Guru Murshidnya.

    3. WUQUF ZAMANI

    Setiap kali selepas menunaikan Solat, hendaklah bertawajjuh kepada hati dan sentiasa memastikan hati dalam keadaan bertawajjuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lakukan selama beberapa minit sebelum bangkit dari tempat Solat. Kemudian setelah selang beberapa jam hendaklah menyemak semula keadaan hati bagi memastikannya sentiasa dalam keadaan mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila seseorang Murid itu telah naik ke peringkat menengah dalam bidang Keruhanian maka dia hendaklah selalu memeriksa keadaan hatinya sekali pada tiap-tiap satu jam untuk mengetahui sama ada dia ingat ataupun lalai kepada Allah dalam masa-masa tersebut. Jika dia lalai maka hendaklah dia beristighfar dan berazam untuk menghapuskan kelalaian itu pada masa akan datang sehinggalah dia mencapai peringkat Dawam Hudhur atau Dawam Agahi iaitu peringkat hati yang sentiasa hadir dan sedar ke Hadhrat ZatNya.

    Ketiga-tiga prinsip ini adalah tambahan dari Hadhrat Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih dalam membimbing sekelian para murid dan pengikutnya dan terus menjadi amalan yang tetap dalam Tariqat Naqshbandiyah.

    Zikir dan Wirid
    Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen. Pertama sekali, Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi, “tersembunyi”, atau qalbi, ” dalam hati”), sebagai lawan dari dzikir keras (dhahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Kedua, jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah daripada kebanyakan tarekat lain.

    Dzikir dapat dilakukan baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Banyak penganut Naqsyabandiyah lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syekh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan di mana dilakukan dzikir berjamaah. Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu, pada malam Jum’at dan malam Selasa; di tempat lain dilaksanakan tengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi.

    Dua dzikir dasar Naqsyabandiyah, keduanya biasanya diamalkan pada pertemuan yang sama, adalah dzikir ism al-dzat, “mengingat yang Haqiqi” dan dzikir tauhid, ” mengingat keesaan”. Yang duluan terdiri dari pengucapan asma Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan tasbih), sambil memusatkan perhatian kepada Tuhan semata. Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat) terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat la ilaha illa llah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata berikutnya, illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran.

    Variasi lain yang diamalkan oleh para pengikut Naqsyabandiyah yang lebih tinggi tingkatannya adalah dzikir latha’if. Dengan dzikir ini, orang memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh.

    Titik-titik ini, lathifah (jamak latha’if), adalah :

    1. Lathifah Qalb (hati)
    2. Lathifah Ruh (jiwa)
    3. Lathifah Sirr (nurani terdalam)
    4. Lathifah Khafi (kedalaman tersembunyi)
    5. Lathifah Akhfa (kedalaman paling tersembunyi)
    6. Lathifah Nafs nathiqah (akal budi), di otak belahan pertama. 
    7. Lathifah kullu jasad sebetulnya tidak merupakan titik tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh. 

    Bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah terakhir ini, seluruh tubuh akan bergetar dalam nama Tuhan. Konsep latha’if — dibedakan dari teknik dzikir yang didasarkan padanya — bukanlah khas Naqsyabandiyah saja tetapi terdapat pada berbagai sistem psikologi mistik. Jumlah latha’if dan nama-namanya bisa berbeda; kebanyakan titik-titik itu disusun berdasarkan kehalusannya dan kaitannya dengan pengembangan spiritual.

    Asal-usul ketiga macam dzikir ini sukar untuk ditentukan; dua yang pertama seluruhnya sesuai dengan asas-asas yang diletakkan oleh ‘Abd Al-Khaliq Al-Ghujdawani, dan muntik sudah diamalkan sejak pada zamannya, atau bahkan lebih awal. Pengenalan dzikir latha’if umumnya dalam kepustakaan Naqsyabandiyah dihubungkan dengan nama Ahmad Sirhindi. Kelihatannya sudah digunakan dalam Tarekat Kubrawiyah sebelumnya; jika ini benar, maka penganut Naqsyabandiyah di Asia Tengah sebetulnya sudah mengenal teknik tersebut sebelum dilegitimasikan oleh Ahmad Sirhindi.

    Pembacaan tidaklah berhenti pada dzikir; pembacaan aurad (Indonesia: wirid), meskipun tidak wajib, sangatlah dianjurkan. Aurad merupakan doa-doa pendek atau formula-formula untuk memuja Tuhan dan atau memuji Nabi Muhammad, dan membacanya dalam hitungan sekian kali pada jam-jam yang sudah ditentukan dipercayai akan memperoleh keajaiban, atau paling tidak secara psikologis akan mendatangkan manfaat. Seorang murid dapat saja diberikan wirid khusus untuk dirinya sendiri oleh syekhnya, untuk diamalkan secara rahasia (diam-diam) dan tidak boleh diberitahukan kepada orang lain; atau seseorang dapat memakai kumpulan aurad yang sudah diterbitkan. Naqsyabandiyah tidak mempunyai kumpulan aurad yang unik. Kumpulan-kumpulan yang dibuat kalangan lain bebas saja dipakai; dan kaum Naqsyabandiyah di tempat yang lain dan pada masa yang berbeda memakai aurad yang berbeda-beda. Penganut Naqsyabandiyah di Turki, umpamanya, sering memakai Al-Aurad Al-Fathiyyah, dihimpun oleh Ali Hamadani, seorang sufi yang tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kaum Naqsyabandiyah.

    MURAQABAH
    Ketika sayyidina Jibril pada suatu kesempatan mengunjungi baginda Rasulullah , beliau menanyakan hal mengenai Islam, Iman dan Ihsan. Muraqaba adalah suatu jargon yang sangat berkaitan dengan Ihsan—ketika kita beribadah kepada Allah , seakan-akan kita melihat Dia. Walaupun kita tidak mampu melihat Dia; Dia pasti melihat kita. Ini adalah bentuk pelatihan untuk menjadi Ihsan—dan Tasawwuf (Sufisme Islam) adalah media untuk merunutnya. Hal inilah yang membuat tasawwuf sangat menarik sebagai bagian dari Din-al Islam. Bagian yang tertinggi. Dalam tingkatan yang sudah demikian pencapaiannya—Allah -lah Yang Memiliki Haqiqatul Akbar. Apa itu Haqiqat? Yaitu suatu kondisi, di mana pada saat engkau menyembah-Nya, seakan-akan engkau melihat-Nya dan walaupun engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu. Haruslah kita selalu waspada bahwa Dia selalu melihat kita. Jika suatu saat kalian berkata bahwa, “Aku ini ahli tasawwuf,” maka kalian tidak pantas berkata, “Di mana Allah ? Aku tidak melihat-Nya. ” Itu berarti kalian belum masuk ke tingkat Ihsan. Kalian harus selalu istiqamah untuk melakukan hal tersebut. Di dalam apa yang dicontohkan oleh Rasulullah , ada yang disebut dengan musyahada. Hal ini tentu tidak mudah untuk dicapai. Musyahada disebut juga ‘bersaksi’. Muraqaba (berasal dari kata raqaba/raqib) itu sendiri merupakan faktor kedua setelah kondisi kesaksian ini karena dia menyangkut kesadaran bahwa kita diamati oleh-Nya.

    Sidi Muhyidin Ibnu Arabi menerangkan bahwa asal kata ini berakar dari ayat terakhir Ayat Kursi, “Wa laa ya-uuduhu hifzhuhumaa…” Dia (Allah ) adalah Raqib as-samawaati wa-l-ardh (Pemilik Alam Dunia dan Akhirat). Muraqaba dari seorang hamba merupakan implikasi dan imitasi dari Atribut Ilahi, yaitu al-Raqib atau Dia Yang Memiliki Pengelihatan atas Segala Sesuatu dengan Segala Yang Dia Miliki. Muraqaba yang kita laksanakan merupakan khazanah kesadaran bahwa Dia melihat kita. Dia melihat di setiap lingkup Waktu yang ada, sebagaimana Waktu adalah Dia. Waspadalah mengenai hal ini. Dia mengawasi di dalam setiap untaian waktu, siang dan malam hari. Pada kondisi biasa-biasa saja, tingkatan kewaspadaan tersebut tidak melekat pada diri kita. Mengapa? Karena kita terlalu sibuk dengan kehidupan yang serba materialistik—yang kita anggap lebih bernilai. Kita sudah sedemikian tenggelamnya dalam atribut yang mendunia. Dunia memang diciptakan untuk ‘merayu’ kita. Namun demikian, melalui dunia pula kita dapat mengambil hikmah untuk selalu mencari-Nya. Kita pun tak pantas berkata bahwa kita akan lebih baik jika tidak berada di dunia; karena kalau bukan karena “dunia”, bagaimana kita mengenal Dia? Sekarang permasalahannya adalah, kita berada dalam situasi sedemikian rupa, dan tidak ‘bersama’ Dia.

    Muraqaba adalah usaha untuk menjadi sadar, dan lebih sadar lagi. Kita harus memulai dengan hal-hal yang sederhana dulu, sebelum melangkah kepada hal yang lebih besar. Walaupun, pada kenyataannya apa yang kita sebut ‘kecil’ pun sebenarnya tidak kecil; tetapi sangat besar. Apa saja ‘perbekalan’ kita untuk ‘melihat’ Allah ? Kita hanya punya daya imajinasi saja. Maulana Syaikh membacakan suatu ayat yang menyatakan bahwa Allah bersama kita, di mana pun kita berada. Cobalah berimajinasi bahwa Dia bersama kalian. Oleh karena itu, cobalah melakukan satu langkah lebih awal, yaitu membayangkan bahwa Rasulullah selalu bersama kalian. Beberapa dari kita bisa diberikan karunia untuk dapat merasakan/melihat itu, tetapi pada umumnya jarang sekali. Jadi, apa yang kita lakukan adalah ‘membayangkan’ seseorang yang memang sudah berada di jalur Rasulullah. Dengan metode ini, tentunya akan sangat mudah bagi kita. Kita bisa melakukannya setiap saat. Ketika kita ingin melakukan muraqaba, kita akan menemukan kemudahan. Orang akan selalu bertanya mengenai bagaimana caranya, khusunya orang-orang Barat atau orang-orang yang bersikap serba rasional. Bahkan mereka pernah bertanya kepada Maulana Syaikh, bagaimana caranya mengungkapkan cinta. Yang terpenting di sini sebagai jawaban adalah, bagaimana kita membuat sesuatu menjadi sederhana atau mudah. Apa yang kita laksanakan dalam muraqaba adalah: berpakaian serba putih dan duduk dengan khusuk. Hikmah yang dapat diperoleh adalah kita dapat memperoleh kekuatan spiritual yang dahsyat. Kalian bisa melakukannya kapan saja, khususnya di malam hari. Harus dicapai kondisi ghusl, yaitu mandi terlebih dahulu (suci hadats besar), segala sesuatu harus dibersihkan, karena hal tersebut sangat penting. Muraqaba ini merupakan sebuah langkah dalam penyucian kalbu (tazkiya tun-nafs). Lahir dan batin harus suci. Kemudian duduk dengan khusuk lalu berkatalah dalam kalbu, di dalam kehadiran Maulana Syaikh, Rasulullah , dan Allah , “Engkau bersamaku sepanjang hari, tetapi akulah yang tidak bersama-Mu. Sekarang aku mencoba meninggalkan segalanya demi kesungguhanku untuk bersama-Mu. Diriku tidak mampu untuk bersama-Mu dalam keadaan aku bersama atribut keduniaan.” Inilah kiranya suatu cara untuk membersihkan batin. “Aku duduk bersama-Mu dalam kehadiran waktu, aku selalu berusaha untuk bersama-Mu.”

    Untuk itu kita harus duduk dalam kesunyian dan kegelapan. Kita harus seksama mengosongkan diri kita dari berbagai keburukan. Mengapa keburukan-keburukan itu tidak condong untuk menginggalkan kita? Karena kita menyukainya. Malah seringkali kita ini ‘gemar’ dengan penderitaan dan kesedihan yang kita buat sendiri. Ada sebuah cerita dari sebuah negeri di timur, di mana terdapat sekelompok orang yang berkonsentrasi pada meditasi ala Jepang. Di sebuah kuil Zen, pengunjung diantar berkeliling kuil oleh pembimbingnya langsung. Pengunjung tersebut mengatakan bahwa tempat ini pastilah tempat yang suci, karena banyaknya orang yang duduk dalam posisi yang khas dan meditatif. Lalu timbullah pertanyaan, “Mereka sedang bermeditasi apa?” Pembimbing menjawab, “Orang ini bermeditasi mengenai film yang dia tonton semalam; yang ini mengenai tempat tidur, dan lain-lain.” Setiap orang sedang melakukan ‘muraqaba’ dengan versinya masing-masing. Mereka melakukannya untuk hal-hal yang salah! Kalian harus mengerti kepada ‘Siapa’ ber-muraqaba harus diarahkan! Suatu ketika seorang anak muda datang kepada Syaikh, “Maulana, Saya bingung—berilah saya rasa damai. Beberapa waktu yang lalu, saya jatuh cinta kepada seorang gadis, dan kami sempat memutuskan untuk menikah. Tetapi di lain pihak, dia menemukan pria lain yang dia suka dan malah akhirnya merekalah yang menikah! Saya sangat menderita akibat hal ini, tak tahan rasa sakitnya.” Lalu Syaikh menjawab, “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Temui gadis lain dan nikahi dia.” Si anak muda menjawab, “Usul yang baik, Syaikh! Tetapi pikiran saya selalu terbersit oleh kenangan akan gadis itu dan jikalau saya mencoba jutaan kali, Saya tidak bisa melupakannya. ” Syaikh bertanya, “Mengapa kamu sampai mengingatnya seperti demikian?” Anak muda itu menjawab, “Sebenarnya bukan saya sengaja melakukannya, tetapi selalu saja hal itu datang ke ingatanku Syaikh. Selalu saja bayangannya melewati nuansa pikiran ini.

    Nah bukankah hal ini sangat luar biasa? Si anak muda tidaklah sampai menyembah gadis itu; tidak pernah menerima formulasi wirid dari gadis itu yang memuat nama-nama atribut sang gadis. Inilah konsekuensi dari kebersamaan. Ketika meletakkan seseorang di kalbu dengan rasa cinta (mahabbah), kita tidak akan mampu untuk menghilangkannya. Inilah buahnya muraqaba. Lalu mengapa kita tidak melakukan hal tersebut terhadap Syaikh atau guru kita? Sang Syaikh hanya memerlukan satu kali untuk memasuki kalbu dan pikiran kita—lalu akan terus bersemayam di dalamnya terutama setelah mahabbah, kita pun berkonjugasi dengan itu. Para jamaah seringkali mengatakan, “Ya Maulana, kami sudah mencoba muraqaba, tetapi sesaat pada saat dimulai, semua hal yang bersifat keduniaan malah menghampiri kami. Suasana kantor, pekerjaan, anak-anak. Lantas kami harus apa? Syaikh menjawab, “Kalian telah membuat suatu muraqaba. Kalian harus puas dengan hasil tersebut. Memiliki suasana pekerjaan, kantor, dan anak-anak dalam pikiran dan kalbu, itu pun muraqaba namanya. Setiap hal yang kalian cintai, sudah diusahakan, cita-citakan atau tercapai sepanjang hidup kalian selama ini, akan membuah dengan sendirinya di dalam diri kalian. Saya pun berada dalam situasi yang sama. Saya ber-muraqaba kepada Syaikh saya. Saya memeluk dan mencium tangan dan kakinya. Sekarang hal-hal kecintaan tersebut secara terus-menerus membuah di dalam kalbu saya. Dalam kalbu ini terus berkata, “Ya Maulana, ya Maulana,” walaupun pikiran kita tidak memerintahkannya. Ketika sebuah objek yang menimbulkan mahabbah itu sudah bervibrasi di dalam kalbu, pada saat itu kalian sudah dalam kondisi muraqaba. Ketika semua vibrasi ini berulang, dan berulang lagi, maka objek itu sendiri akan hilang. Inilah tingkatan tertinggi dalam muraqaba. Hal ini bergantung kepada siapa yang kalian cintai.

    Seorang jamaah yang melakukannya dalam kondisi bising mengalami kesulitan, karena dia tidak dapat mendengar ‘suara dari dalam dirinya.’ Sebenarnya hal itu mudah saja, asal kita mau berusaha setenang mungkin. Salah satu cara yang paling efektif adalah jangan bergerak sama sekali. Duduk dengan rileks dan jangan tegang. Biarkan tubuh kalian jatuh, ini bagian dari usaha pengosongan atribut keduniaan tersebut. Lepaskan. Ingat akan Syaikh atau guru-guru kita, ingat bahwa Syaikh mampu untuk melihat hal itu. Ketika kalian bernafas dengan tenang, ucapkan di setiap nafas itu, ALLAH, ALLAH, ALLAH, ALLAH! Demikian selanjutnya—tak perlu metode lain.

    Wa min Allah at taufiq bi hurmatil habib bihurmatil Faatiha.





    Mengatasi Kesurupan

    28 12 2010

    Kesurupan, menurut sebagian masyarakat, bahkan sudah menjamur.. adalah dampak dari kemasukan roh halus, jin, setan dsb. Namun kenyataan dalam kajian saya selama 8 th belakangan ini bahwa 95% dari kasus ini adalah “dampak dari kesalahan manusia dalam berfikir”, atau katakanlah error thinking dimana telah terjadi salah sambung frekwensi pemikiran dan masuk ke dimensi lain. Lalu tampaklah halusinasi, melihat yang “tidak tampak”..

    Maka solusi termudah adalah memulihkan atau mengembalikan frekwensi pemikiran ketimbang “menghancurkan atau mengusir halusinasi”. Bukan hanya tugas berat namun hal ini merupakan aktivitas fitnah dan mengkambinghitamkan fihak lain (jin). Peran serta fihak lain atau katakanlah jin, setan dan lelembut dalam hal ini cuman 5%, maka sangat mubazir apabila dijadikan acuan.
    `
    Bagaimana mengatasi kesurupan?

    1. Ciptakan sikap dan rasa tenang dalam diri, tanamkan pemahaman bahwa anda sedang menghadapi masalah pola fikir, berfikir tentang kesaktian dan kejahatan jin justru akan menambah beban fikiran kita.
    2. Sadari “jatidiri”, ini yang paling sering dilupakan dan merupakan kesalahan terbesar manusia yang tidak menyadari “misi kekhalifahan” manusia di alam semesta. Manusia lebih banyak hidup sebagai makhluk ego.
    3. Memahami diri sebagai khalifatullah akan menjadikan jiwa ini tenang, tenang dan tenang.. bahkan tak kurang dan tak takut suatu apapun, karena semua ada dalam “Genggaman Allah”
    4. Dan saatnya.. bagikan “rasa tenang” itu pada jiwa yang membutuhkan. Hal ini bisa disyareatkan melalui doa, tiupan atau layaknya praktisi tenaga dalam menyalurkan energinya. Untuk kasus kesurupan lebih simpelnya dengan menempelkan telapak tangan pada kening pasien atau menggunakan terapy energi dengan perpaduan terapi prana dan Quantum Touch.

    METODE MENGATASI KESURUPAN :

    CARA PERTAMA : TERAPI ENERGI NAQS
    Untuk mengatasi masalah kesurupan, sebaiknya gunakan Bola Energi secara berurutan. Yaitu Alif Lam Mim, kemudian Ya Siin, dan terakhir Kaf Haa Yaa ‘Ain Shod. Disalurkan keseluruh tubuh melalui Cakra Mahkota. Dan ingatlah untuk membuat proteksi diri lebih dulu dengan Do’a Payung Rasul dan Do’a Payung Allah. Serta proteksi orang-orang yang berada di lokasi kejadian, dengan membuat bola energi Kaf Haa Yaa ‘Ain Shod. Perbesar ukuran bola energi sehingga melingkupi diri dan seluruh area.

    Selain itu salurkan juga energi Ilahiah NAQS ke :

    1. Pusat Pikiran (Cakra Dahi, Ajna, & belakang kepala)
    2. Sistem Syaraf (Cukup dengan niat, salurkan via cakra mahkota)
    3. Tengkuk & Dasar Otak.
    4. Area dada
    5. Pusar

    Bila diperlukan (berdasar tuntunan dari hati nurani), lakukan gerakan sapuan dan membuang pada area yang dicurigai sebagai tempat bersarangnya makhluk elemental tersebut.

    Setelah sadar, minumkan Air Heksagonal NAQS. Dan perkuat & proteksi seluruh tubuh dan titik di atas tadi dengan energi Ilahiah NAQS.

    CARA KEDUA

    1. Baringkan orang kesurupan tersebut dengan terlentang
    2. minta bantuan 2 orang untuk memegang dengan erat kaki dan tangan + bahu jika meronta.
    3. bacalah istighfar 3 kali
    4. baca Syahadat 1 kali
    5. baca Ta’awuds 1 kali
    6. baca Bismillah 3 kali sambil menekan atau memencet kedua jempol ibu jari kaki sekuatnya (yang perlu anda perhatikan teknik menekan atau memencet tersebut adalah dengan cara dipencet oleh ibu jari dan telunjuk anda tepat di dua sisi pinggir jari jempol si penderita, bukan sisi atau yang ada kukunya!)
    7. saat dipencet tsb biasanya ghoib yang ada dalam tubuh penderita akan berontak dan menjerit kesakitan, namun hal ini tidak berlangsung lama dan si ghoib akan pergi meninggalkan penderita dan si penderita akan mengalami pingsan sejenak (tergantung daya tahan si penderita)

    CARA KETIGA : RUQYAH

    Ruqyah Syar’iyyah, Pengobatan Secara Islami
    by. Abu Abdillah Dzahabi Isnen Azhar

    Pengertian Ruqyah
    Ruqyah secara bahasa adalah jampi-jampi atau mantera. Ruqyah secara syar’i (ruqyah syar’iyyah) adalah jampi-jampi atau mantera yang dibacakan oleh seseorang untuk mengobati penyakit atau menghilangkan gangguan jin atau sihir atau untuk perlindungan dan lain sebagainya, dengan hanya mengguna kan ayat-ayat Al-Qur`an dan atau do`a-do`a yang bersumber dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan atau do`a-do`a yang bisa dipahami maknanya selama tidak mengandung unsur kesyirikan.

    Ruqyah secara umum terbagi kepada dua macam;

    1. Pertama; Ruqyah yang diperbolehkan oleh syari’at Islam yaitu disebut ruqyah syar’iyyah.
    2. Ke dua; Ruqyah yang tidak dibolehkan oleh syari’at Islam, yaitu ruqyah dengan menggunakan bahasa-bahasa yang tidak dipahami maknanya atau ruqyah yang mengandung unsur-unsur kesyirikan. Rusulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perlihatkan kepadaku ruqyah kalian, dan tidak apa-apa melakukan ruqyah selama tidak ada unsur syirik” (HR.Muslim)

    Syarat Ruqyah Syar’iyyah

    Para ulama sepakat membolehkan ruqyah dengan tiga syarat;

    1. Dengan mempergunakan firman Allah(ayat-ayat Al-Qur’an) atau mempergunakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
    2. Mempergunakan bahasa Arab atau bahasa yang bisa dipahami maknanya.
    3. Berkeyakinan bahwa zat ruqyah tidak berpengaruh apa-apa kecuali atas izin Allah subhanahu wata’ala.

    Ketentuan Meruqyah
    Tatkala melakukan ruqyah hendaknya diperhatikan ketentuan berikut;

    1. Ruqyah tidak mengandung unsur kesyirikan.
    2. Ruqyah tidak mengandung unsur sihir.
    3. Ruqyah bukan berasal dari dukun, paranormal, orang pintar dan orang-orang yang segolongan dengan mereka, walaupun dia memakai sorban, peci dan lain sebagainya. Karena bukan penampilan yang menjamin seseorang itu terbebas dari perdukunan, sihir dan kesyirikan.
    4. Ruqyah tidak mempergunakan ungkapan yang tidak bermakna atau tidak dipahami maknanya, seperti tulisan abjad atau tulisan yang tidak karuan.
    5. Ruqyah tidak dengan cara yang diharamkan seperti dalam keadaan junub, di kuburan, di kamar mandi, dan lain sebagainya.
    6. Ruqyah tidak mempergunakan ungkapan yang diharamkan, seperti; celaan, cacian, laknat dan lain-lainnya.

    Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala yang tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia menurunkan juga obat penawarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap penyakit ada obat penawarnya dan apabila suatu obat itu sesuai dengan jenis penyakitnya maka penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah” (HR.Muslim). Dan yakinlah bahwa tidak ada yang mampu menyembuhkan suatu penyakit melainkan hanya Allah subhanahu wata’ala. Maka di antara cara yang paling tepat, efektif, mujarab dan manjur untuk menghilangkan suatu penyakit dan menangkal mara bahaya adalah dengan memfungsikan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagai pengobatan. Al-Qur`an telah menjelaskan hal itu secara gamblang,

    “Katakanlah, “Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan obat penawar” (QS.Fushshilat: 44).
    “Dan kami turunkan dari Al-Qur`an (ada) sesuatu yang menjadi obat penawar dan menjadi rahmat bagi orang yang beriman” (QS.Al-Isrâ`: 82).

    Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya telah mencontohkan pengobatan dengan mempergunakan Al-Qur`an dan do’a-do’a untuk mengobati berbagai macam penyakit, baik yang disebabkan oleh tukang sihir seperti guna-guna dan lain-lainnya atau disebabkan oleh gangguan jin seperti kesurupan dan penyakit-penyakit aneh lainnya atau terkena gigitan binatang berbisa seperti kalajengking, ular dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempergunakan ayat-ayat Al-Qur`an dan do’a-do’a untuk penjagaan dan perlindungan diri.

    Beberapa Alasan Ruqyah Berdasarkan Hadits-hadits yang Shahih.

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meruqyah dirinya sendiri tatkala mau tidur dengan membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian beliau usapkan ke seluruh tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya. (HR.al-Bukhari).

    Jabir Bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang di antara kami disengat kalajengking, kemudian Jabir berkata, “Wahai Rasulullah apakah saya boleh meruqyahnya? Maka beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang sanggup memberikan manfaat kepada saudaranya, maka lakukanlah” (HR.Muslim).

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan padaku agar aku minta ruqyah dari pengaruh ‘ain (mata yang dengki).” (HR.Muslim).

    Dari Abu Sa’îd al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Muhammad apakah engkau mengeluh rasa sakit?” Beliau menjawab, “Ya!” Kemudian Jibril (meruqyahnya), “Bismillahi arqîka, min kulli syai`in yu`dzîka, min syarri kulli nafsin au ‘aini hâsidin, Allahu yasyfîka, bismillahi arqîka” (“Dengan nama Allah saya meruqyahmu, dari segala hal yang menyakitimu, dan dari kejahatan segala jiwa manusia atau mata pendengki, semoga Allah menyembuh kanmu, dengan nama Allah saya meruqyahmu”) (HR.Muslim).

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ada seorang yang mengeluh rasa sakit, beliau usap orang tersebut dengan tangan kanannya, kemudian berdo’a, “Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia, sembuhkanlah karena Engkaulah sang penyembuh, tiada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada meninggalkan penyakit.” (HR.Muslim).

    Utsman Bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan rasa sakit pada tubuhnya yang dia rasakan semenjak masuk Islam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Letakkanlah tanganmu pada tempat yang terasa sakit, kemudian bacalah; “Bismillahi”(dengan menyebut nama Allah) tiga kali, dan bacalah; “A’ûdzu billahi wa qudrotihi min syarri mâ ajidu wa uhâdziru”(aku berlindung dengan Allah dan dengan qudrat-Nya dari kejahatan yang aku dapati dan yang aku hindari) tujuh kali.” (HR.Muslim).

    Cara Mengatasi Kesurupan dengan Ruqyah.

    I. Sebelum terjadi kesurupan, maka hendaknya melakukan tindakan preventif, caranya adalah sebagai berikut;

    1. Menjaga kemurnian tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah saja serta menjauhi perbuatan syirik dan pelakunya.
    2. Menjaga seluruh kewajiban yang telah dibebankan pada diri seorang muslim, dan menjauhi seluruh larangan Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta bertaubat atas segala dosa dan kemaksiatan.
    3. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, dan hendaklah diwiridkan setiap hari terutama surat Al-Baqarah, karena syaithan lari dari rumah yang dibacakan surat tersebut.
    4. Membentengi diri dengan bermacam-macam do’a & ta’awwudz yang disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti wirid selesai shalat, wirid pagi hari dan sore hari dan ibadah-ibadah yang lainnya yang disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
    5. Jauhilah ibadah-ibadah bid’ah dan ritual-ritual klenik yang tidak punya dasar hukum dalam Islam, karena hal itu merupakan jalan syaithan untuk mengelabui orang yang beriman ke jurang neraka.

    II. Setelah terjadi kesurupan, maka lakukanlah tindakan berikut ini;

    1. Hendaknya dicari seorang muslim yang bertauhid dan aqidahnya shahih tidak terkotori oleh kesyirikan serta ibadahnya tidak terkotori oleh riya` dan bid’ah.
    2. Mintalah dia meruqyah orang yang kesurupan tersebut dengan membacakan surat al-Fatihah, ayat kursi, 2 ayat terakhir al-Baqarah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas dan surat-surat atau ayat-ayat yang lainnya karena pada dasarnya semua ayat al-Qur’an adalah obat, disertai dengan tiupan pada orang yang kesurupan tersebut, dan hendaklah diulang-ulangi hingga 3 X atau lebih.
    3. Kemudian setelah itu bacakan do’a-do’a yang disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-haditsnya yang shahih.

    Semoga bermanfaat