Hadapi Atau Lari

2 11 2011

Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…

Sahabat, Tubuh mempunyai sistem alarm. Syaraf dan indera kita dapat memberikan tanda bahaya jika ada hal yang membahayakan secara fisik. Dengan adanya sistem alarm tsb. maka diharapkan Kesadaran kita tergugah dan secara sadar memperbaiki gangguan yang menimbulkan terpicunya sistem alarm tersebut. Sehingga kerusakan yang lebih parah dapat segera di tanggulangi dan di netralisir. Contoh-contoh berbagai Alarm tubuh :

STRESS
Stres itu normal, karena itu menandakan kalau badan Anda bereaksi terhadap perubahan emosional dan fisik yang tidak sesuai dengan harapan Anda, entah itu perubahan yang nyata atau imajinatif. Reaksi stres itu juga menunjukkan kalau badan Anda masih ingin melindungi Anda.

Pada saat menghadapi stimulasi yang tidak diinginkan, bagian otak yang bernama hipotalamus akan menghidupkan sistem alarm tubuh. Sistem alarm ini kemudian memicu pelepasan beberapa jenis hormon.

Hormon pertama adalah adrenalin. Adrenalin akan mempercepat detak jantung, menaikkan tekanan darah, dan menambah energi.

Bersama dengan adrenalin, sistem alarm juga akan memicu pelepasan cortisol yang merupakan hormon stres yang utama. Hormon ini dapat meningkatkan kadar glukosa di darah, meningkatkan penggunaan glukosa, dan memperbanyak substansi-substansi yang dapat memperbaiki jaringan tubuh. Cortisol juga menggantikan respon sistem kekebalan tubuh dan menekan sistem pencernaan, sistem reproduksi, dan proses pertumbuhan.

Selain hipotalamus, reaksi stres juga berkomunikasi dengan bagian otak yang mengendalikan mood, motivasi, dan rasa takut.

Sekarang, bayangkan apa yang terjadi pada tubuh bila stres itu terjadi berulang, bahkan terus-menerus? Ya, Anda benar. Kesehatan badan dan pikiran akan terganggu.

Respon stres yang berlangsung lama dapat memperpanjang durasi kontak dengan hormon-hormon di atas sehingga dapat mengganggu hampir seluruh proses di tubuh. Dengan demikian, penderita stres akan memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami masalah di jantung, pola tidur, pencernaan, dan kulit serta kelebihan berat badan. Stres juga bisa memicu depresi dan mengganggu daya ingat (memori tidak lengkap).

TAKUT & CEMAS
Takut adalah reaksi alami tubuh dan pikiran saat menghadapi bahaya – yang dikenal dengan reaksi to fight or to flight ( hadapi – atau – lari ) – dan merupakan sistem alarm alami tubuh yang akan aktif saat bahaya/ancaman mendekat. Saat alarm ini aktif, maka tubuh akan mengeluarkan senyawa adrenalin ( melalui kelenjar adrenal ) kedalam aliran darah dan mengirimnya ke otak ( yang kemudian akan merespons dengan mengeluarkan senyawa lainnya – cortisol – yang merupakan hormon stress ).

Bila pilihan kita saat menghadapi bahaya adalah to fight ( hadapi ), maka tubuh untuk beberapa saat akan mengalami lonjakan adrenalin dan kortisol, namun setelah bahaya terlewati tubuh pun akan kembali ke kondisi normal. Sebaliknya, bila pilihan kita adalah to flight ( melarikan diri) maka kadar adrenalin dan kortisol dalam tubuh akan tetap tinggi, menyebabkan stress yang berkepanjangan, yang tidak hanya akan mengganggu kesehatan secara fisik, namun juga mengganggu ketenangan pikiran dan ketentraman batin.

Uniknya, tidak semua penyebab takut berlaku untuk semua orang. Ini karena setiap orang memiliki ’ hal tertentu ’ yang bisa memicunya untuk merasa takut, tergantung dari pengalaman pribadinya di masa lalu, atau karena nilai – nilai yang diyakininya (yang telah diwariskan oleh orangtuanya) sehingga mempengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. Bahkan, hanya dengan membaca kolom kriminal di surat kabar atau menonton tayangan film horror pun bisa menjadi ’ancaman’ yang akan langsung mengaktifkan sistem alarm tubuh kita, dan memunculkan semua gejala stress.

Bila takut adalah reaksi tubuh dan pikiran saat menghadapi bahaya yang nyata, maka cemas adalah istilah untuk ’ rasa takut yang tak beralasan ’, karena muncul tanpa alasan yang jelas atau nyata.Akar penyebab kecemasan biasanya dikaitkan dengan pengalaman traumatik di masa lalu atau karena faktor keturunan.

Misalnya, seseorang di masa kecilnya pernah dipermalukan oleh teman-temannya saat berada dalam suatu pesta, maka di kehidupan dewasanya, setiap saat ia menemukan pemicu yang tepat – yang dapat kembali memunculkan pengalaman traumatik di masa kecilnya – misalnya saat diundang untuk menghadiri sebuah undangan pesta, maka rasa cemasnya akan muncul.

Rasa cemas, bila berkelanjutan akan menyebabkan rasa kuatir/khawatir. Kekuatiran adalah manifestasi dari kecemasan. Bentuknya bisa berupa brainchatter yang akan mengulang-ulang cerita, pengalaman, dan pikiran, dan yang akan memberi ’bahan bakar’ pada rasa takut, sehingga akhirnya ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran menjadi satu lingkaran yang tidak terputus karena akan saling memberi energi satu sama lain.

Sakit / Perasaan Sakit
Seorang client saya beberapa waktu lalu sering mengalami sakit yang hebat di dalam dirinya, apa yang ia lakukan sebelumnya adalah ia mulai dengan mencari dokter-dokter terkenal, menggunakan pain killer dan obat-obatan hingga dengan rutin mengalami body check up, olahraga, diet, yoga, meditasi dll.

Dan ia berkata kepada saya, “Saya sudah mencari solusinya kemana-mana, namun sakit ini kadang-kadang hilang tetapi tidak lama kemudian kembali lagi. Jika kamu bisa menghilangkan sakit ini, apapun yang kamu katakan akan saya lakukan yang penting harus masuk akal (logis).”

Teringat cerita diatas saya lalu bertanya kepada beliau, “Selama ini kamu sudah mencari jawaban atas masalahmu di luar, maukah kamu melakukan hal baru yang masih masuk akal dan mencari jawabannya di dalam dirimu.”

Ia terdiam beberapa saat sambil memandangi saya dan tersenyum.

Dr. Grinder pernah berkata, “Unconcious mengirim pesan melalui rasa.”

Sakit adalah signal alam bawah sadar yang sangat kuat, semakin kuat sakit tersebut, semakin mendesak (urgent) pesan yang dibawa. Selama ini orang mengira bahwa pesan dari alam bawah sadar hanya tersampaikan lewat Mimpi saja. Sebenarnya tidaklah demikian, Bagaikan seorang pengantar pesan (surat), semakin penting dan mendesak pesan tersebut, semakin keras ia akan mengetuk pintu Anda hingga mendapatkan respon Anda. Sehingga Rasa Sakit yang kita rasakan pada fisik kita ataupun emosi negatif berupa perasaan emosi dan amarah yang meledak-ledak, depresi, dll. Atau bahkan kacaunya kehidupan kita, kacaunya rumah tangga kita, kacaunya karir ataupun bisnis kita. Itu semua adalah pesan dari alam bawah sadar untuk kita.

Apa yang terjadi Ketika seseorang pada umumnya saat merasa terganggu oleh pembawa pesan tersebut, ia akan mencoba dengan berbagai cara untuk memusuhi, mengusir, menghalau, membentengi, “Membunuh“ dan apapun yang dapat kita lakukan untuk mengenyahkan pembawa pesan tersebut dan sangat ironi adalah ketika ia tidak peduli dan tidak perlu peduli dengan pesan yang dibawa.

Dalam kehidupan sehari-hari, obat-obatan ataupun alkohol dipergunakan untuk membunuh rasa sakit ataupun seseorang mencari kegiatan-kegiatan apa saja yang bisa membuat ia melupakan dan menghilangkan perasaan sakit tersebut. Namun itu semua tidak menyelesaikan masalah. Karena penyelesaiannya baru bersifat simptomatik atau hanya menyelesaikan gejala yang ada di permukaan saja. Dan belum menyelesaiikan akar dari permasalahan yang sebenarnya.

Oleh karena itu sahabat. Alangkah bijaksana, bila mulai dari sekarang, ketika pembawa pesan datang, kita membukakan pintu lebar-lebar dan menyambutnya dengan baik sambil dengan tenang melihat apa pesan yang dibawa.

Perasaan sakit adalah sahabat lama yang hendak menyampaikan pesan kepada kita dan ketika kita membukakan pintu, mendengarkan pesan-pesannya dan kemudian ia akan pergi dan menghilang ketika pesan sudah diterima dengan baik.

Tidak lama kemudian ……….
Sang Client menemukan jawaban dan solusi atas permasalahannya di dalam dirinya dengan membukakan pintu kepada Sang pembawa pesan.

Demikianlah sahabat, adanya Rasa Sakit yg kita rasakan di tubuh fisik kita. Atau rasa tidak enak (Bad feeling) yang kita rasakan di dalam tubuh emosi kita. Atau Kebuntuan fikiran yang terjadi di tubuh fikiran kita… Bahkan adanya segala ketidaknyamanan yang kita rasakan di dalam hidup dan kehidupan kita. baik soal kesehatan Fisik & emosi, kesehatan ekonomi & finansial kita, kesehatan sosial dan rumah tangga kita, dll. Semua itu adalah ALARM, yang menyentuh kesadaran kita. yang sebenarnya merupakan perintah dari alam bawah sadar bagi Kesadaran untuk segera secara sadar mengadakan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan.

Sahabat, demikianlah mekanisme kehidupan yang merupakan sunnatullah yg telah ditetapkan Allah swt untuk kita. Oleh karena itu, marilah kita syukuri segala nikmat dan karunia Allah swt. Baik yang berupa Nikmat atupun Musibah. Karena hakikat itu semuanya adalah sebuah bentuk Kasih Sayang Allah untuk kebaikan diri kita….

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.“( QS Ali Imran : 190-191)
Advertisements




MENUJU KEDEWASAAN SPIRITUAL

1 11 2011

Menuju Kematangan Jiwa seorang Ulil Albab

Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…
Sahabat, Seperti dulu ketika kita masih kecil. Kita tidak mengerti kenapa dilarang-larang main pisau atau gunting, padahal kita suka sekali main itu. Seperti tidak sukanya kita diajak mandi di pagi yang dingin, padahal kita ingin bermain. Seperti tangis dan jeritan yang selalu kita lontarkan saat akan disuntik imunisasi, padahal itu untuk immune kita.Tapi kita tidak mengerti saat itu. Yang kita rasakan pokoknya tidak suka, ogah diperlakukan begitu, menangis, menjerit, atau memberontak. Ingin lari saja dari ayah atau ibu ketika dibegitukan. Atau lantang berteriak penuh kesal: “Bapak nakal! Aku gak suka Ibuk!”

Tapi ketika sudah besar, mengertilah kita kenapa dulu diperlakukan begitu. Nalar dewasa kita yang mengantarkan kita kepada sebuah pemahaman, bahwa yang ayah ibu lakukan itu benar, untuk kebaikan kita, hanya saja saat itu kita tidak mengerti. Barulah ketika dewasa, kita paham, maklum, dan bahkan akan melakukan hal yang sama pada anak-anak kita nanti. Kepahaman itu dihantarkan oleh masa kedewasaan kita.

Begitu pun dengan kedewasaan spiritual, menyikapi peristiwa-peristiwa yang oleh-Nya telah di-setting untuk kita. Saat kita tidak paham tentang peristiwa yang harus kita alami, kita merasakan takdir Allah itu tidak adil, kita merasa tidak terima dengan alur hidup kita, mungkin itulah yang kita rasakan dan lakukan sebelum mencapai tahap periode perkembangan “Kedewasaan Spiritual” di dalam diri kita.

Namun sahabat, serangkaian ujian kehidupan baik yang berupa kenikmatan hidup ataupun yang berupa musibah. Itu semua adalah sebuah cara Allah swt dalam mendidik jiwa kita dalam meningkatkan kedewasaan spiritual kita, yang bila kita terima dengan hati yang Nerima, Tabah, Sabar, serta Syukur, akan menghantarkan kita pada kepahaman mengapa Allah menuliskan cerita kehidupan ini untuk kita.

Mungkin butuh mencari dan sabar menunggu masa kedewasaan itu kita miliki. Hingga kita bisa bersikap dewasa juga atas segala keputusan-Nya. Ada banyak hal yang kita tidak tahu, tetap sabar dalam berjalan di atas jalaNya, senantiasa syukuri apapun anugerah yang kita terima, baik yang berupa kenikmatan maupun musibah. Selalu cari sisi Positif dari segala situsasi dan kondisi yang kita alami. Maka, secara perlahan “Kedewasaan Spiritual” kita akan tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam jiwa kita.

Di saat periode Kedewasaan Spiritual telah mulai kita masuki, maka kita akan dapat mengambil hikmah positif dari segala peristiwa, serta dapat mengambil pelajaran dari setiap ujian kehidupan yang kita hadapi. Sehingga terucaplah ucapan yang tulus dan jujur dari lisan dan hati kita, dalam mensikapi segala situasi dan kondisi yang kita alami. “Ya Allah, sungguh tiada yang Engkau ciptakan ini adalah sia-sia….”

Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.“( QS Ali Imran : 190-191)

Hidup ini pasti diberi ujian. Sebagai bukti dan tanda keimanan kita. Terkadang ujian itu berbentuk nikmat dan terkadang ujian itu berbentuk kesusahan.

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik baik dan (bencana) yang buruk buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Al A’raf 7:168)

Kebiasaannya manusia apabila diuji dengan kemewahan maka senang bagi dia untuk melupakan Allah swt.

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al Isra 17: 16)

Dan apabila dia ditimpa kesusahan, kebiasaannya dia akan mengharapkan pertolongan Allah dengan memurnikan semua ketaatan kepadaNya.

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus 10:12)

Begitulah manusia yang melampaui batas, apabila bantuan Allah tiba, mereka kembali kepada kesesatannya seolah olah mereka tidak pernah berdoa kepada Allah. Tetapi, tahukah kita, di antara keduanya, terdapat satu lagi golongan yang lebih melampaui batas dari keduanya.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Al An’am 6:42-45)

Untuk Apa Ujian Itu?
Untuk apakah ujian itu Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya?

Ujian adalah sunnatullah dari Allah untuk memisahkan orang-orang munafik dari barisan orang-orang beriman, memisahkan antara loyang dengan emas…
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Athabrani)

Ujian adalah tarbiyah dari Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya, sebagai wujud kasih sayang-Nya.
“Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (HR. Athabrani).

Ujian adalah sunntullah untuk orang-orang yang berada di jalan Al Haq. Jika kita tidak merasakan adanya ujian yang berat, maka patut dipertanyakan apakah jalan yang kita lalui adalah jalan yang benar. Saad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya??” Nabi saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seroang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Al Bukhari)

Dalam menghadapi ujian, seorang mu?min harus selalu berprasangka baik kepada Tuhannya.
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Attirmidzi).

Allah SWT menghibur orang-orang beriman dalam menghadapi ujian dengan firman-Nya,
“Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”(QS. 3 : 139).

Ujian hidup tidak selamanya berbentuk penderitaan dan kesedihan hati, tetapi bisa juga dalam bentuk kenikmatan dan kesenangan. Bila ujian itu dalam bentuk kesenangan, apakah sang hamba dapat bersyukur? Bila dalam penderitaan, apakah sang hamba bersabar? Syukur dan sabar adalah keistimewaan orang-orang yang beriman, yang dikagumi oleh sang nabi.

Surga memiliki kriteria (muwashofat) untuk orang-orang yang akan memasukinya. Nilai A, B, C, D, atau E, adalah hak prerogatif Allah SWT. Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar dan bersabar. Dan tentu saja, untuk mengetahui apakah kita benar-benar lulus atau tidak, jawabannya ada di hari akhir nanti.

Wallahu A’lam…





Berfikir Dengan Jantung

14 10 2011

Assalamu ‘alaikum wa Rohmatullahi wa Barokatuh…

Sahabat, tentu anda sudah membaca tulisan saya yang berjudul Qalbu, Pusat Jiwa. Dalam artikel tersebut saya menegaskan bahwa secara metafisika dan spiritual, yang menjadi pusat spiritualitas atau Pusat Utama Jiwa seorang manusia adalah QALBU-nya, dimana dalam dimensi etherik/batiniahnya disebut dengan Lathoif Qalbu sedangkan dalam dimensi fisiknya di sebut dengan jantung. Sedangkan otak adalah pusat jiwa minor atau pusat jiwa kedua setelah jantung. Pendapat saya ini tentu saja bertentangan dengan pengetahuan umum yang ada saat ini, baik pengetahuan yang bersumber dari dunia dunia barat maupun pengetahuan yang bersumber dari dunia timur.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh ilmuwan barat bahwa pusat spiritual atau kecerdasan spiritual manusia itu berpusat di otak yang disebut GOD SPOT. Demikian juga spiritualis dunia timur yang berkiblat dari India & China mengemukakan bahwa pusat spiritualitas itu berada di Cakra Ajna & Cakra Mahkota, yang nota bene merupakan dimensi etherik/bathiniah dari OTAK.

Dalam tulisan kali ini saya akan menyajikan satu lagi karakter istimewa dari Jantung selain sebagai Pusat Jiwa, yaitu kemampuannya untuk memahami atau berfikir.

Allah swt berfirman :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG)yang di dalam dada.” ( QS. Al Hajj : 46 )

Ayat ini menegaskan bahwa jantung (hati) itu berpikir dan sadar. Anehnya, sebagian ilmuwan akhir-akhir ini baru menemukan hubungan antara hubungan hati dengan kesadaran dan berfikir. Para ilmuwan sekarang baru berbicara tentang otak yang berada dalam jantung (hati) yang terdiri dari 40.000 neuron, yaitu yang kita sebut “akal” yang terdapat di pusat jantung. Akal inilah yang bertugas memandu otak untuk melaksanakan fungsinya. Oleh karena itu Allah menjadikan jantung sebagai sarana untuk memahami.

Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.

Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.

Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.

The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body.

Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.

Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.”
~Doc Childre, founder, Institute of Heart.

Tentu ada sahabat yang bertanya, bagaimana dengan manusia yang mendapatkan operasi transplantasi Jantung. Atau Jantungnya di ganti dengan Jantung buatan ataupun Jantung Orang lain (Donor). Apakah jiwanya ataupun akalnya juga turut berganti identitas….??

Sahabat, Akal & Jiwa adalah merupakan bagian dari diri manusia yang berada di dimensi batiniyah atau ruhani. Sebagaimana yang sering saya ulas, bahwa sejatinya manusia adalah ruhaninya. Sedangkan tubuh jasmaninya hanyalah merupakan kendaraan bagi manusia selama hidup di dunia semata.

Jadi, walaupun seluruh organ dalam tubuh seorang manusia di gonta-ganti spare partnya. Baik otaknyakah, jantungnyakah, ataukah ginjalnya, dll. Jati Diri (Ruhani) manusia tersebut adalah tetap, hanya saja spare part fisik yang menjadi wadah spare part Ruhani sajalah yang berubah. Hanya saja, karena ada perubahan wadah, maka Karakter Jati diri ruhani kita akan sedikit mengadakan adjustmen dengan wadah yang baru. Dan itu bisa terlihat oleh orang lain sebagai perubahan karakter dan sifat.

Hal ini bisa dianalogikan dengan sebuah komputer. Dimensi ruhani manusia kita analogikan dengan Software komputer, sedangkan dimensi fisik manusia kita analogikan dengan hardware komputer. Nah, pergantian spare part hardware sebuah komputer tentu akan mempengaruhi kemampuan software dalam beroperasi dan menjalankan program-programnya secara optimal seperti biasanya apabila spesifikasi dari sparepart hardware pengganti tersebut tidak jelas atau berbeda spesifikasi sparepartnya dengan yang digantikan.

Bila pada komputer, spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah spare part hardware adalah sudah jelas dan terukur. Sehingga pelaksanaan pergantian spare part hardware apabila masih dalam spesifikasi yang sama tidak akan mempengaruhi kinerja software. Tetapi bagaimana dengan spesifikasi spare part organ manusia….??? Sudahkah spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah organ diketahui sepenuhnya oleh tekhnologi buatan manusia….??? Saya yakin belum…. Yang diketahui manusia mengenai spesifikasi organ tubuh manusia belum ada 1% dari kemampuan sesungguhnya organ tersebut.

Nah, bagaimana sebuah organ yang tidak jelas kapasitas spesifikasinya akan menggantikan organ manusia lain yang dalam hal ini sebagaimana sudah diketahui oleh umum bahwa setiap individu manusia adalah unik dan spesial. Mampukah organ pengganti tersebut menggantikan sepenuhnya keunikan dari organ lama…?? Komposisi Mind, Body, & Soul seorang manusia adalah unik. Perubahan dalam komposisinya akan mengakibatkan perubahan penampilannya. Apalagi bila yang digantikan itu adalah sebuah organ vital seperti jantung dan otak.

Pergantian organ akan mempengaruhi kinerja Jati diri manusia tersebut. Walupun organ pengganti itu merupakan organ donor dari organ manusia lain. Sedikit ataupun banyak, kinerja Jati Diri dalam mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya akan terpengaruh, dan itu berakibat terjadinya perubahan dalam bersikap, berfikir, dan bertindak. Yang akan berbeda sedikit atau banyak dari karakternya dahulu.

Kesimpulannya :

  • Dalam hal proses berfikir dan memahami sesuatu, Jantung mempunyai kecerdasan tersendiri untuk memproses data dan informasi. Dan dalam hal ini, kecerdasan Jantung lebih bersifat ke arah kecerdasan intuitif/Laduni/Kasyaf yang bersumber dari Ilham Tuhan.
  • Operasi penggantian jantung ataupun otak tidak merubah identitas Jati Diri atau Ruhani manusia yang bersangkutan. Namun sedikit banyak akan merubah karakter dan sifat asli atau sifat lama dari manusia yang bersangkutan.

Wallahu A’lam..

Referensi:
Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.
Qalbu, Pusat Jiwa Link : http://www.naqsdna.com/2011/10/qalbu-pusat-jiwa.html





Qalbu, Pusat Jiwa

10 10 2011

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh………..

Sahabat, mengapa ada beberapa spiritualis muslim yang merasakan bahwa dunia spiritual dan agama itu terpisah, sehingga merasa perlu untuk menggabungkannya. Dan mengapa pula ada banyak praktisi energi yang mengaku spiritualis, bisa melihat aura, dan lain sebagainya tetapi tata kramanya sangat jelek…

Spiritualis Muslim yang merasakan keterpisahan antara agama dengan spiritual, biasanya menggunakan metode yang tidak islami. Walaupun dia juga berzikir memakai kalimat toyibah. Karena Ciri utamanya adalah menjadikan Cakra Ajna & Cakra Mahkota sebagai pusat jiwanya. Yang nota bene itu artinya kekuatan OTAK. Atau spiritualitas yang berpusat di Otak, yang juga ditemukan oleh ilmuwan Barat sebagai God Spot.

Sedangkan Rasulullah jelas-jelas menyebutkan bahwa Inti Spiritualitas Seorang manusia berada pada QOLBUnya dan bukan di otaknya……

“Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang (HR Abu Dawud ).

Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukannya kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36).

Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan anggota yang lainnya adalah ibarat seorang raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan perintahnya, dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah QOLBU.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tangga naik peningkatan kesadaran jalur non muslim adalah manunggal dengan Sejatinya Diri atau Tuhan Yang bersemayam di dalam diri manusia. Atau disebut juga Atman Atau Ruh Kudus atau Super Ego. Dan bagi mereka itu bersemayam di Otak. Yang dalam hal ini dimensi spiritual Otak adalah Cakra Mahkota.

Padahal Kesadaran yang muncul dari Kesadaran Otak itu baru nyampe pada Kesadaran Akal Budi & intuitif, yang artinya Rasio dan kepentingan diri adalah yg menjadi tolok ukurnya. Sehingga tolok ukur nilai akhlak adalah Rasionalitas…..

Atau bila di tinjau dari sudut lapisan tubuh energi, itu baru nyampe pada Kesadaran Spiritual Pribadi atau Kesadaran Jiwa level 3 (Nafsul Radliyah). Sedangkan Lapisan Tubuh Energi yang tertinggi atau Kesadaran Jiwa Yang Sempurna (Insan Kamil) dan juga Kesadaran Ruh Al-Quds itu bersemayam di QOLBU. Dan hanya melalui QOLBU yang merupakan tempat bersemayamnya Ruh Al-Qus atau Kesadaran Ruh Ilahi sajalah pancaran Cahaya Tuhan dapat tersalurkan ke dalam diri kita dan menerangi kesadaran kita. Hanya melalui Hati Nurani sajalah kita dapat terhubung dengan Allah SWT. Yang mana Hati merupakan Pusat Pandangan Allah.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim)

Kesadaran Akal-Budi & intuitif yang muncul dari kesadaran di otak manusia yang tidak memperoleh pancaran Cahaya ilahi dari Qolbunya, tidak akan mengenali nilai-nilai luhur Ketuhanan yang berasal dari Alam Maha Kosmos, dan akhlak serta tata kramanya tidaklah berlandaskan tuntunan Tuhan. Akhlak & Tata krama bagi kesadaran akal budi mereka hanyalah berlandaskan pada Rasionalitas & logika semata. Sehingga tatanan budi pekerti yang luhur itu haruslah sesuai dengan Rasionalitas & Logika. Sehingga bila nilai-nilai akhlak tersebut tidak sesuai dengan rasio, maka tertolaklah itu bagi rasio mereka.

Sedangkan bagi praktisi muslim, peningkatan kesadaran itu baru sepertiga jalan, belum semuanya. Karena itu baru sampai pada spiritualitas diri yang tidak terhubung dengan Alam Ketuhanan. Bagi Praktisi muslim, setelah mengenal sejatinya diri di level kesadaran spiritual pribadi, maka perjalanan jiwa berlanjut terus untuk mendekat kepada Tuhan melalui pusat spiritualitas yang bermarkas di Qolbu.

7 LAPIS TUBUH ENERGI :
Dalam kepercayaan timur, manusia memiliki Tubuh Energi. Mazhab yang umum mengatakan bahwa tubuh energi manusia ada 7 (tujuh) Lapis. :

  1. Lapis Tubuh Energi Pertama : Tubuh Fisik
  2. Lapis Tubuh Energi Kedua : Tubuh EGO [tubuh eterik atau tubuh prana].
  3. Lapis Tubuh Energi Ketiga : Tubuh Astral / Tubuh Emosi
  4. Lapis Tubuh Energi Keempat Tubuh PIKIRAN/Tubuh Mental atau Tubuh Psikis
  5. Lapis Tubuh Energi Kelima : Tubuh SPIRITUAL (Jiwa level 3/Nafsu Radliyah)
  6. Lapis Tubuh Energi Keenam : Tubuh KESADARAN COSMIC atau Tubuh Jiwa Universal (Jiwa level 2/Nafsu Mardliyah). Yang terhubung dengan Pusat Alam Semesta Makrokosmos yaitu di KA’BAH.
  7. Lapis Tubuh Energi Ketujuh : Alam Kesadaran Jiwa Universal Sempurna (Jiwa level 1/Nafsu Kamilah/Insan Kamil) dan Alam Kesadaran Ruh Al-Quds (Kesadaran Ruh Ilahi). Yang terhubung dengan Pusat Alam Semesta Mahakosmos yaitu di ARSY ALLAH.

Banyak praktisi muslim terutama yang memperhatikan masalah akhlak kepada Allah, mengemukakan bahwa hati manusia merupakan kunci pokok pembahasan menuju pengetahuan tentang Tuhan. Hati, sebagai pintu dan sarana Tuhan memperkenalkan kesempurnaan diri-Nya. Spiritualis muslim terutama dari kalangan tarekat, menitik beratkan pengolahan rasa di QOLBU… sebagai Pusat Jiwa…

“Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang (HR Abu Dawud ).

Hanya melalui “hati manusialah” keseimbangan sejati antara Tuhan dan kosmos bisa dicapai.

Al Qur’an menggunakan istilah qalb (hati) 132 kali, makna dasar kata itu ialah membalik, kembali, pergi maju-mundur, berubah, naik-turun. Diambil dari latar belakangnya hati mempunyai sifat yang selalu berubah, sebab hati adalah lokus dari kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan.

Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Kehadiran-Nya terasa di dalam hati, dan wahyu maupun ilham diturunkan kedalam hati para Nabi maupun wali-Nya.

  • “Ketahuilah bahwa Tuhan membuat batasan antara manusia dan hatinya, dan bahwa kepada-Nya lah kamu sekalian akan dikumpulkan” (QS 8:24)
  • “(Jibril) menurunkan wahyu ke dalam hati nuranimu dengan izin Tuhan, membenarkan wahyu sebelumnya, menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS 2:97)

Hati adalah pusat pandangan , pemahaman , dan ingatan ( dzikir )

  • “Apakah mereka tidak pernah bepergian di muka bumi ini supaya hatinya tersentak memikirkan kemusnahan itu, atau mengiang di telinganya untuk didengarkan ? sebenarnya yang buta bukan mata , melainkan ” hati” yang ada di dalam dada.” (QS 22:46)
  • “memang hati mereka telah kami tutup hingga mereka tidak dapat memahaminya, begitu pula liang telinganya telah tersumbat” (QS 18:57 )
  • “Apakah mereka tidak merenungkan isi Al Qur’an? atau adakah hati mereka yang terkunci?” (QS 47:24)
  • “Janganlah kamu turutkan orang yang hatinya telah Kami alpakan dari mengingat Kami (dzikir), orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja, dan keadaan orang itu sudah keterlaluan” (QS 18:28)
  • “Sesungguhnya telah Kami sediakan untuk penghuni neraka dari golongan jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak , bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang alpa (tidak berdzikir) ” (QS 7:17 )

Iman tumbuh dan bersemayam di dalam hati, begitu juga kekafiran, kemungkaran serta penyelewengan dari jalan yang lurus. Oleh sebab itu, Allah tetap menegaskan bahwa perilaku seseorang tidak bisa hanya sekedar syarat sah rukun syariat saja, akan tetapi harus sampai kepada pusat iman yaitu “hati”.

Mungkin kita hampir lupa bahwa peribadatan selalu menuntut pemurnian hati (keikhlasan), sehingga akan menghasilkan sesuatu yang haq serta dampak iman secara langsung.

Iman yang pernah diikrarkan oleh kaum Arab Badwi dihadapan Rasulullah bukan kategori iman yang sebenarnya, sehingga seketika itu Allah menurunkan wahyu untuk memperingatkan kepada mereka (Arab Badwi) :

“Orang-orang Badwi itu berkata : “kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka) “Kamu belum beriman”, tetapi katakanlah “kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk kedalam hatimu” (QS 49:14) .

Iman yang benar mempunyai ciri tersendiri dan diakui oleh Al Qur’an. Ia tertegun dan terharu tatkala nama Allah disebut … dan bahkan ia terdorong ingin meluapkan kegembiraan dan kerinduannya dengan menjerit seraya bersujud dan menangis. Bergetar hatinya dan bertambahlah imannya. Ia begitu kokoh dan mantap dalam setiap langkahnya karena keIhsanan bersama dengan Allah yang selalu menjaga. Ia akan selalu berbisik ke dalam lubuk hatinya tatkala menghadapi persoalan dan kesulitan di dunia, karena disitulah Allah meletakkan ilham sebagai pegangan untuk menentukan sikap. Sehingga kaum beriman akan selalu terjaga dalam hidayah dan bimbingan Allah Swt.

Firman Allah Swt :

  • “Suatu musibah tidak akan menimpa seseorang kecuali atas izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, tentu Dia akan menunjuki “hatinya”. Dan Tuhan Maha Mengetahui segala-galanya” (QS 64:11)
  • “Keimanan telah ditetapkan Allah ke dalam “hatinya” serta dikokohkan pula Ruh dari diri-Nya” (QS 58:22)
  • “Dan Kami tunjang pula mereka dengan petunjuk, dan Kami teguhkan hati mereka” (QS 18:13-14)
  • “Dialah yang telah menurunkan ketentraman di dalam hati orang-orang yang beriman supaya bertambah keimanannya disamping keimanan yang telah ada” (QS 48:4)

Syetan menggantikan kedudukan Allah bersemayam di istana hati manusia yang lalai. Allah akan memalingkan dan menghinakan orang yang lalai akan Allah. Allah akan mengunci dan mematikan hati sehingga ia diberi gelar “binatang ternak!!!” Bahkan lebih sesat dari itu. Kalau sampai terjadi seperti ini maka tertutuplah hati untuk menerima cahaya dari Allah Swt. Maka tidak heran jika perbuatannya akan cenderung mengikuti langkah-langkah syetan yang dilarang oleh Allah, syetan menggantikan posisi Allah menduduki hati yang tertutup dan dialah yang akan menasehati dan membimbing ke jalan yang sesat. Kekejian itu akan menyeruak ke dalam kalbu melalui hembusan ilham sehingga akal fikiran tidak mampu menghalau datangnya petunjuk tersebut. Marah dan benci tidak pernah direncanakan, akan tetapi ia datang langsung ke pusat hati, dan tubuh tanpa daya mengikuti kemauan sihir sang iblis. Hati menjadi buta…….!!!

Allah berfirman :

  • “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertai” (QS 43:36)
  • “Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya niscaya tidak seorangpun dari kamu sekalian bersih ( dari perbuatan keji dan mungkar ) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS 24:21)

Iman dan kafir terletak di dalam hati, Allah telah membeberkan berikut contoh-contohnya antara orang yang dibukakan hatinya dan yang ditutup hatinya, serta perilaku keduanya. Maka keputusannya terletak kepada kebebasan manusia itu sendiri untuk memilih jalan yang sesat ataupun yang lurus. Karena disitu akan mendapatkan bimbingan langsung baik jalan kesesatan maupun jalan ketaqwaan.

Firman Allah :
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya” (QS 91:7-10)

Ayat di atas memberikan pengertian atas pentingnya membersihkan jiwa, sehingga apabila hal ini terjadi, maka Allah-lah yang akan membimbing ketaqwaan, keimanan, serta ketulusan. Namun sebaliknya Allah akan menistakan manusia yang melalaikan akan Allah serta mengotori hatinya dengan mengirim musuh Allah sebagai penasehat dan menuntunnya ke jalan kesesatan.

Kemudian apa langkah selanjutnya, serta bagaimana terapi untuk mengembalikan hati yang sudah terlanjur karam dilumpur nista ?

  • Pertama, kita sudah memahami bahwa penyebab utama dari ketidakmampuan berbuat baik dan kesulitan menjaga dari perbuatan keji dan mungkar serta tidak didengarnya setiap doa, adalah “tertutupnya mata hati dari NUR ILAHI “.
  • Kedua, konsentrasikan masalah mengurus hati dulu, jangan mempersoalkan hal yang lain, karena “hati” sedang menderita sakit kronis. Kita harus perhatikan dengan sungguh-sungguh, dan memasrahkan diri kepada Sang Pembuka Hati … Dialah yang menutup hati kita, membutakan, mentulikan, dan mengunci mati dan tidak memberikan kefahaman atas ayat-ayat Allah yang turun ke dalam hati.

Mari kita perhatikan ke dalam, kita jenguk hati kita yang sedang berbaring tak berdaya, disitu terlihat syetan dengan leluasa memberikan wejangan dan petunjuk bagaimana berbuat keji dan mungkar. Ia menuntun pikiran untuk menerawang ke angkasa, mengajaknya mi’raj keangan-angan panjang dan melupakannya ketika badan sedang shalat, sedang berwudhu’ dan membaca Al Qur’an dan ibadah yang lain. Kita sudah beberapa kali mencoba menepis ajakan itu namun apa daya kekuatan iblis memang luar biasa, kita bukan tandingannya untuk melawan dan mengusirnya. Ia ghaib dan licik … ia berjalan melalui aliran darah manusia, ia bisa menembus tembok ruang dan waktu, ia ada dalam fikiran dan bahkan bersemayam di dalam hati manusia. Cukup sudah usaha kita untuk melawannya, namun gagal dan gagal lagi…. …

Namun ada yang yang tidak “MATI”, yaitu diri sejati yang selalu melihat keadaan hati kita yang sakit. Ialah “Bashirah” (QS 75:14), ia tidak pernah bersekongkol dengan syetan, ia yang mengetahui kebohongan hati, kejahatan, dan ia selalu mengikuti fitrah Allah, ia jujur, tawadhu’, khusyu’, kasih sayang dan adil ( lihat tafsir sofwatut tafasir, oleh prof. Ali Assobuni).

Kita harus cepat mendengarkan suara Dia yang selalu mengajak ke arah kebajikan, Ia sangat dekat dengan Allah, Ia sangat patuh, Ia penuh iman, Ia berbicara menurut kata Allah (ilham), dan kedudukannya sangat tinggi di atas syetan dan jin sehingga mereka tidak bisa menembus untuk menggodanya (QS 37:8). Anda bisa merasakannya sekarang … tatkala anda berbohong, Ia berkata lirih … kenapa kamu berbohong … Ia tidak tidur tatkala kita tidur … Ia melihat tatkala kita bermimpi dikejar anjing … Ia melihat ketika jin menggoda dan syetan menyesatkan, namun hati tidak kuasa mengikuti kata bashirah yang oleh Allah digelari “RUH-KU”. Maka beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan celakalah orang yang mengotorinya (QS 91:9-10)

Kita kembali kepada persoalan hati ,
Mari kita perbaiki hati kita dengan cara mendatangi Allah, kita serahkan persoalan ini … kerumitan hati yang selalu ragu-ragu … ketidakmampuan menahan syahwat yang bergolak keras …

Mari kita contoh Nabi Yusuf ketika gejolak nafsu sudah menguasai hatinya, Ia tidak kuasa lagi menahan syahwatnya tatkala Julaiha datang menghampiri untuk mengajaknya berbuat mesum … Ia cepat berpaling dan menghampiri Allah dan mengadukan keadaan syahwatnya yang terus menerus mengajak kepada keburukan. Kemudian Allah mendatangkan rahmat-Nya dan memalingkan hatinya, mengangkat kekejian di dalam hatinya, dan akhirnya Nabi Yusuf terbebas dari perbuatan yang dilaknat Allah Swt.

Allah sendiri yang akan memalingkan hati dari perbuatan keji dan mungkar sehingga terasa sekali sentuhan Ilahi tatkala mengangkat kotoran hati dengan cara menggantikannya dengan perbuatan baik dan ikhlas.

Allah berfirman :
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf-pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (ikhlash)” (QS 12:24)

Mungkin kita masih ragu-ragu … apa mungkin kita bisa mendapatkan burhan dan bimbingan Allah dalam menghindari perbuatan keji dan mungkar? Mari kita hindari prasangka yang buruk terhadap Allah, kita timbulkan rasa percaya bahwa hanya Allah-lah yang mampu memberikan hidayah dan bimbingan serta mencabut persoalan yang kita hadapi.

Wallahu a’lam….

PELAJARAN SELANJUTNYA KLIK DI SINI…
ATAU KLIK …




Nuurun ‘Ala Nuurin dan 7 Lapis Kesadaran Manusia

7 10 2011
Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh….

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”( QS. An Nuur : 35 )

SEKILAS MENGENAI ENERGI ILAHIAH NUURUN ‘ALA NUURIN ( نُّورٌ عَلَى نُورٍ):

Cahaya di atas cahaya ( نُّورٌ عَلَى نُورٍ), merujuk kepada pengertian frekwensi Getaran Energi Partikel Foton yang berlapis-lapis yang oleh ilmu fisika ditangkap dan digambarkan dalam spektrum Cahaya. Dan tentu saja Spektrum Cahaya yang dijelaskan oleh ilmu fisika itu mempunyai keterbatasan, Tekhnologi mikroskop nuklir dan segala varian terbarunya nanti tetap tidak akan mampu menangkap frekwensi cahaya yang berada di alam Ruhaniyah ataupun alam Kesucian (Alam Ketuhanan).

Para ahli astronomi menemukan bahwa Cahaya bintang ternyata bermacam-macam tergantung dari energinya: ketika Isaac Newton melewatkan cahaya matahari melewati sebuah prisma, itulah awal ketika kita memahami bahwa cahaya bintang terdiri atas berbagai warna yang mewakili energi yang berbeda-beda. Kira-kira dua abad kemudian kita mengetahui bahwa Cahaya ternyata adalah fenomena elektromagnetik, dan warna adalah representasi dari energi yang berbeda-beda. Di luar apa yang bisa kita lihat langsung dengan mata kita, spektrum energi cahaya ternyata sangat bervariasi: Dari cahaya energi rendah yang memancarkan energinya dalam panjang gelombang radio hingga energi tinggi, semisal sinar gamma.

Dalam fisika, warna-warna lazim diidentifikasikan dari panjang gelombangnya. Merah, misalnya, memiliki panjang gelombang sekitar 625 – 740 nm1, dan biru sekitar 435 – 500 nm. Kumpulan warna-warna yang dinyatakan dalam panjang gelombang2 (biasa disimbolkan dengan λ) ini disebut spektrum warna. Gambar di atas memperlihatkan rentang spektrum warna dasar yang lazim kita lihat sehari-hari.

Gambar di atas menunjukkan Spektrum cahaya berdasarkan panjang gelombang. Warna-warna ini adalah komponen dari cahaya putih yang disebut cahaya tampak (visible light) atau gelombang tampak. Komponen lainnya adalah cahaya yang tak tampak (invisible light), seperti inframerah (di sebelah kanan warna merah) dan ultraviolet (di sebelah kiri jingga).

Spektrum elektromagnetik merentang dari energi terendah (gelombang radio) hingga energi tinggi (sinar gamma)

Dalam kerangka teori kuantum, informasi elektromagnetik ini dibawa oleh partikel yang dinamakan photon. Benda langit seperti matahari memancarkan photon dalam seluruh energi namun dalam jumlah yang berbeda-beda, di mana photon dalam cahaya tampak (cahaya yang bisa dilihat mata kita) dipancarkan dalam jumlah terbanyak.

Untuk menangkap photon dari berbagai benda langit, astronom menggunakan berbagai alat. Mata kita tidak bisa melihat gelombang radio, pun juga sinar gamma, tetapi kita bisa membangun alat yang bisa melihat photon dalam energi radio maupun sinar gamma. Teleskop yang biasa kita kenal, dinamakan teleskop optik, adalah teleskop yang digunakan untuk menangkap cahaya tampak. Teleskop radio digunakan untuk menangkap cahaya dalam panjang gelombang radio, dan ada juga teleskop yang digunakan untuk mengamati benda-benda langit dalam panjang gelombang infra merah, ultraviolet, sinar-x, hingga sinar gamma. Kesemua ini digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih menyeluruh dalam rangka mengetahui hakikat benda-benda langit, karena tidak semua benda langit dapat diamati hanya dalam satu panjang gelombang. Sebagai contoh adalah pengamatan bintang-bintang muda. Bintang-bintang muda dilingkupi oleh awan gas yang tidak tembus cahaya tampak, namun sinar inframerah dapat menembus awan gas tersebut, oleh karena itu kita dapat mengamati proses pembentukan bintang dengan menangkap photon inframerah yang dipancarkan bintang-bintang muda tersebut.

Nah, dengan mengacu pada logika spektrum cahaya. Maka Cahaya Allah yang meliputi langit dan bumi inipun berlapis-lapis. Meliputi Dimensi Alam Esoterik (Alam Gaib) hingga Alam Eksoterik (Alam materi). Dan peralatan yang dapat di gunakan untuk menangkap Cahaya Ilahi inipun sudah di tiupkan oleh Allah swt ke dalam tubuh kita, Dialah Ruh Al-Quds yang merupakan kesadaran Ruh Ilahi kita. Namun secara alamiah, Ruh Al-Quds ini adalah terhijab dari kesadaran jiwa kita akibat kekotoran dari hati & jiwa kita. Beruntunglah Allah swt memberikan solusi kepada manusia agar terbuka Kesadaran Ruh Ilahinya ini dengan menurunkan Cahaya Wasilah (Frekwensi “M”) yang merupakan “jembatan” atau transmitter antara kesadaran manusia di alam jasad dengan Kesadaran Ruh Ilahinya. melalui utusan Allah swt yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

NAQS DNA, menggunakan Energi Cahaya Wasilah Nuurun ‘ala nuurin sebagai jembatan penghubung di antara 7 level lapisan tubuh energi manusia. Sehingga cahaya Ilahi dapat menerobos hijab dan menerangi lapisan tubuh energi manusia hingga lapis yang terbawah yaitu tubuh fisik. Dan itu secara otomatis memberikan kemampuan pada manusia untuk memaksimalkan potensi 7 lapis tubuh energinya.

Cahaya Wasilah ini bila dalam ilmu biologi dan kimia dapat di sebut sebagai katalisator yang berfungsi untuk mereaksikan dua unsur atau senyawa kimia yang berbeda struktur molekulnya dalam tabung reaksi agar dapat terlarut dengan homogen.

Dalam hal ini Allahyarham Al-Mukarram Prof.Dr.H.Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya MA, MSc menjelaskannya sebagai berikut :

Sekarang kita tahu bahwa cahaya, atau radiated energy ‘berjalan’ seperti gelombang dengan frekwensi tertentu. Begitu pula sekarang kita tahu bahwa setiap benda, termasuk manusia, sebenarnya adalah energi (hanya saja kurang ‘liquid’ dibandingkan dengan cahaya) yang juga bergetar.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana hubungan antara sebuah sumber enersi yang bergetar bisa berhubungan dengan enersi benda yang juga bergetar?

Untuk dapat menerima cahaya, atau tepatnya, pembiasan aliran enersi dari suatu sumber cahaya/energi, setiap benda harus dapat beresonansi, yaitu bergetar pada frekwensi yang sama, dengan cahaya yang dipancarkan si sumber cahaya.

Contohnya,
pertama, lampu sodium kita lihat berwarna kuning karena atom sodium beresonan dengan atom pada retina mata kita yang diartikan oleh otak kita sebagai kuning. Begitu juga dengan lampu mercury yang berwarna biru. Manusia yang kebetulan melihat lampu sodium atau lampu mercury ini menerima pembiasan enersi sebesar kurang lebih 23 electron volt karena, cahaya-cahaya lampu ini termasuk visible light range yang mengandung enersi 2.5 electron volt.

kedua, hampir setiap benda dapat beresonansi dengan cahaya infra merah (berasal benda panas/hot objects, termasuk matahari, api, dll., yang berfrekwensi: 1011 sampai 1014 hz). Karena itu hampir setiap benda dapat menerima panas. Kertas yang kita taruh di sinar matahari atau dekat api akan terasa panas, artinya kertas tersebut mendapat biasan energi dari matahari atau api. Akan tetapi, kalau kita masukkan kertas yang sama ke dalam microwave (gelombang microwave, berasal dari electron yang aktip pada konduktor yang frekwensinya 10 sampai 1011 hz, jadi lebih rendah dan frekwensi cahaya infra merah) kertas itu tidak akan menjadi panas (baca: tidak menerima imbasan energi).

Hal ini disebabkan kertas tersebut (atomic structure-nya) dapat beresonansi dengan cahaya infra merah tetapi tidak dapat beresonansi dengan cahaya microwave.

Sekarang terjawablah pertanyaan kita di atas, yaitu suatu sumber cahaya/enegsi yang bergetar dapat berhubungan dengan benda yang juga bergetar apabila si benda dapat bergetar pada frekwensi yang sama dengan cahaya yang datangnya dari sumber cahaya/energi itu, sehingga keduanya beresonansi. Lebih dari itu kita juga tahu bahwa kalau suatu sumber cahaya berhubungan (baca: beresonansi) dengan suatu benda, hubungan menyebabkan terjadinya pengimbasan energi dari si sumber cahaya kepada si benda.

Telah jelas pada kita sekarang, bagaimana prosesnya sebuah sumber cahaya yang bergetar pada frekwensi tertentu dapat berhubungan dengan benda yang juga bergetar pada frekwensi yang sama. Akan tetapi, tujuan kita pada tulisan ini adalah untuk mendapat pengertian bagaimana caranya sebuah sumber cahaya yang bergetar pada frekwensi yang lebih tinggi dapat berhubungan dengan benda, termasuk manusia, yang bergetar pada frekwensi yang lebih rendah. Atau, dengan kata lain, yang ingin kita pelajari adalah bagaimana ilmu fisika menjelaskan judul tulisan kita : “Allah memimpin kepada cahayaNya siapa yang Ia kehendaki.”

Sebelum kita melangkah lebih lanjut perlu kita perjelas beberapa hal :
Pertama-tama, perlu kita sadari bahwa yang kita coba teliti di sini adalah perumpamaan. Ini kita laksanakan karena memang banyak sekali perintah Allah dalam Al-Qur’an agar kita menyimak perumpamaan –  perumpamaan yang dibuat-Nya di alam ini untuk dapat lebih mendekatkan diri padaNya. Mulai dari perumpamaan sarang laba-laba, lalat, unta, dan banyak lagi yang lain, termasuk mengenai cahaya seperti pada Surat An- Nur di atas.

Yang kedua, tidaklah dapat kita mengukur ‘frekwensi’ Allah, karena sesuatu yang kita bisa ukur berarti bisa didefinisikan. Sesuatu yang. dapat didefinisikan berarti definit (terbatas), karena itu, yang dapat kita ukur pasti bukan Allah yang tiada suatupun menyerupaiNYA (Al-Ikhlas:4). Yang kita tahu Allah adalah An-Nur/Maha Sumber Cahaya, Al-Qawiy/Maha Kuat, Al-Kohar/Maha Mengalahkan dan Al-Hasya/Maha Sempurna. Kata ‘maha’, kalau kita teliti betul, bukanlah berarti ‘tinggi’, atau ‘sangat tinggi’ seperti misalnya pada perkataan ‘maha’-siswa. Kalau kita teliti dari matematika, perkataan maha berarti ‘uncountable, beyond numbers’. Jargon matematikanya adalah ‘infinity’ ()Karena itu dalam pembahasan perumpamaan Allah ini memadailah kalau kita katakan bahwa ‘frekwensi’ Allah adalah Infinity.

Yang ketiga, dalam setiap pekerjaan, seperti yang dinyatakan Allah dalam Surat An-Nur ayat 37 diatas, haruslah kita mendasarinya dari (petunjuk) Allah (petunjuk Allah, yang dalam bahasa Arab disebut ‘diin’, sering secara sempit kita artikan melulu sebagai syari’at, aturan dari apa-apa yang terasa oleh indera kasar kita dalam beragama’).

Dengan mengambil ‘diin’ sebagai dasar pembahasan berarti kita bergerak dari alam rohani, karena, memang ‘diin’ itu berakar di sana. Inilah yang kita laksanakan pada tulisan ini. Kita ambil ‘diin’ (baca: tuntunan Allah) dalam Al-Qur’an yang berupa perumpamaan dan kita bahas perumpamaan ini, agar lebih teliti dan jelas, dengan memakai ilmu fisika. Sekarang marilah kita selidiki bagaimana sesuatu yang bergetar pada frekwensi tertentu dapat beresonansi dengan cahaya suatu sumber cahaya yang frekwensinya lebih tinggi dari frekwensi si benda itu.

Pada ilmu fisika ada dua syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu benda dapat beresonansi dengan sumber cahaya yang frekwensinya lebih tinggi dari frekwensi benda itu. Masing-masing syarat ini mutlak dipenuhi, dan syarat yang satu melengkapi syarat yang lain. Dalam jargon matematik kedua syarat ini disebut “sufficient condition” akan tetapi masing-masing syarat disebut sebagai “necessary but not sufficient condition“:

  1. Pada benda itu tidak terdapat internal friction yang menghalangi gerak natural dari gelombang atomnya.
  2. Adanya apa yang disebut dalam jargon fisika sebagai Harmonics, yaitu adanya frekwensi-frekwensi lain yang frekwensinya adalah merupakan kelipatan dari natural frekwensi dari si benda tadi.

Contoh dari syarat pertama, misalnya, seperti kita waktu kecil bermain ayun-ayunan. Pertama kali kita bermain ayunan, segera kita alami satu pelajaran bahwa kalau kita mau ayunannya tetap berayun pada ketinggian yang sama haruslah kita bergerak seirama dengan gerak ayunan tersebut. Kita tunggu sampai di penghujung lambungan ayunan, baru kita ayunkan badan kita ke muka atau ke belakang untuk tetap mempertahankan ketinggian lambungan. Kalau kita ayunkan badan kita sebelum ayunan sampai di ujung lambungannya terjadilah benturan dorongan (internal friction) yang menyebabkan lambatnya gerak ayunan tersebut. Contoh lain, lumpur jauh lebih lambat menyerap panas (beresonansi dengan sumber cahaya infra merah) dan tidak dapat menjadi merah membara kalau dibandingkan dengan besi, misalnya. Ini terjadi karena banyak sekali internal friction (pada atomic structure) lumpur dibanding dengan besi.

Contoh dari syarat kedua, misalnya, kita dapati dari alasan mengapa dilarangnya barisan tentara berjalan dengan derap serempak sewaktu melewati jembatan. Frekwensi dari energi yang terbit dari langkah serempak barisan tentara kalau kebetulan harmonis (kelipatan) dengan frekwensi jembatan akan dapat menyebabkan robohnya jembatan itu. Hal ini dikarenakan bertambah tingginya frekwensi bergetarnya jembatan tersebut, sedangkan bahan dari mana jembatan itu dibuat tidaklah dirancang untuk dapat menerima frekwensi setinggi itu.

Contoh lain. Kesalahan rancangan pesawat jet propeled Electra adalah terjadinya suatu keadaan dimana frekwensi perputaran propeler-nya harmonis (kelipatan) dengan frekwensi bergetar sayapnya karena benturan angin. Sewaktu ini terjadi pesawat tersebut pecah berantakan.

Sekarang, bagaimanakah kita bisa pergunakan analogi dari kedua persyaratan ini untuk dapat ‘beresonansi’ dengan Allah SWT, Sumber Cahaya Yang Maha Kuat Maha Sempurna, yang Frekwensi-Nya Infinity?

Di atas kita sebutkan bahwa persyaratan pertama untuk dapat lebih mempertinggi frekwensi benda, termasuk manusia, adalah dengan meniadakan internal friction yang menghalangi getaran natural dari atomic structure dari benda itu. Dari ilmu fisika, diatas kita ambil contoh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bermain ayunan.

Di alam rohaninya, menurut Allah, natural frekwensi manusia adalah frekwensi ‘yang menghamba/mematuhi’ frekwensi Allah:

Dan tiada kujadikan jin ‘dan manusia melainkan untuk menghamba kepadaKu”, (Adz-Dzariyat (51): 56).

Untuk menghemat tempat, selanjutnya marilah kita sebut frekwensi ini sebagai frekwensi ‘m‘ (manusia).

Seperti halnya contoh bermain ayunan di atas, ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk tetap menjaga natural frekwensi ayunan itu, yaitu dengan mengayunkan badan kita ke belakang atau ke depan. Demikian pula, ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk ‘menjaga’ natural frekwensi ‘m’, yang jelas dinyatakan Allah pada Surat An-Nur di atas, pada ayat 36 dan 37, yang intinya frekwensi itu adalah hidup “Lillah”.

Pemeliharaan natural frekwensi ‘m’ dalam pengertian ilmu fisika ini adalah identik dengan apa yang kita kenal dalam istilah agama sebagai Menegakkan Kalimah Tauhid,” Laa Ilaaha Illallaah”, yang menjadi sebagian dari Rukun Islam Pertama, yaitu Dua Kalimah Syahadat. Tanpa hidup “Lillah” dengan jelas, baik Al-Qur’an maupun ilmu fisika menyatakan tertutupnya pintu untuk dapat berhubungan (baca: beresonansi) dengan Allah. Karena, seperti kita jelaskan di atas, setiap benda bergetar dan beresonansi dengan cahaya yang frekwensinya sama.

Kalau kita tidak bergetar pada frekwensi ‘m’, tertutuplah kemungkinan untuk dapat beresonansi dengan sumber cahaya. yang frekwensinya lebih tinggi. Yang beresonansi dengan kita adalah sumber cahaya, atau sumber enersi, yang frekwensinya sama dengan kita, yaitu sumber energi selain Allah, baik itu namanya pangkat, keluarga, harta, bahkan surga sekalipun. Keadaan ini dinyatakan Allah sebagai Syirik, yang istilah agamanya diartikan sebagai “dosa yang tidak diampuni Allah” (An-Nisaa'(4): 48, 116), dan dalam ilmu fisikanya diartikan sebagai “tidak mendapat imbasan energi dari Sumber Energi yang frekwensinya Infinity.”

Syarat yang kedua adalah harmonics yaitu adanya frekwensi lain yang menjadi kelipatan dari frekwensi ‘m’ ini. Dalam kehidupan sehari-hari, di atas, kita ambil contoh bagaimana energi dari derap langkah barisan tentara yang bergetar pada frekwensi tertentu, kalau kebetulan harmonis dengan frekwensi si jembatan, dapat mempertinggi natural frekwensi si jembatan.

Menurut Allah, frekwensi yang harmonis dengan frekwensi ‘m’ adalah:

Katakanlah, (ya Muhammad)! Jika kamu kasih kepada Allah, maka hendaklah ikut saya, pastilah Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosamu. Allah Pengampun dan Penyayang”. (Ali Imran (3): 31)

Dalam terjemahan fisikanya, ‘mereka yang kasih kepada Allah’ adalah frekwensi ‘m’, sedangkan ‘Muhammad’ adalah kelipatan dari frekwensi ‘m’. Ini bisa terjadi karena kalau Muhammad itu bukan kelipatan frekwensi ‘m’ mustahil Muhammad bisa diikuti (baca: beresonansi dengan) frekwensi ‘m’ seperti diperintahkan Allah Yang Maha Tahu pada FirmanNya di atas.

Apakah sebenarnya yang menyebabkan ‘Muhammad’ berfrekwensi kelipatan frekwensi ‘m’ (untuk menghemat tempat selanjutnya akan kita sebut ‘Muhammad’=frekwensi ‘M’)? Karena Allah mengatakan:

Tiada kami mengutus engkau (ya Muhammad), melainkan menjadi rahmat bagi sekalian alam “. (Al-Anbiyaa (21): 107)

Dalam terjemahan fisikanya, seperti kita sebutkan di atas, kalau terjadi hubungan (baca: resonansi) antara satu frekwensi dengan frekwensi lain, pada saat yang sama juga terjadi imbasan energi. Kalau Allah mengatakan pada FirmanNya di atas, bahwa “diutusNya Muhammad untuk menjadi ‘Rahmat'”, terjemahan fisikanya adalah “telah terjadi imbasan enersi dari Frekwensi Infinity ke frekwensi ‘M”. Adakah buktinya imbasan enersi dari Frekwensi Infinity ke frekwensi ‘M’ dan frekwensi ‘m’ pernah terjadi?. Allah menerangkan siapa sebenarnya yang berperang pada Perang Badar yang dimenangkan oleh Kaum Muslimin walaupun jumlahnya sangat sedikit dibandingkan jumlah musuh mereka:

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar… “(Al-Anfaal (8): 17).

Inilah sebabnya Allah (baca: Frekwensi Infinity) menekankan kepada orang yang beriman (baca: frekwensi ‘m’) betapa pentingnya bersalawat (baca: beresonansi) kepada Muhammad (baca: frekwensi ‘M’):

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya senantiasa bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (AI_Ahzab: 56).

Di atas tadi kita sebutkan bahwa persyaratan pertama, yaitu berfrekwensi hamba, frekwensi ‘m’, adalah jargon fisika untuk perkataan Menegakkan Kalimah Tauhid, Laa Ilaaha Illallaah. Sedangkan persyaratan kedua, beresonansi dengan frekwensi ‘M’ adalah jargon fisika untuk perkataan Muhammadar Rasuulullah.

Bersyukur kita pada Allah Yang Darinya Semua Ilmu Bersumber, terlihat oleh kita sekarang betapa ‘exactnya’ Islam itu. Tidak salahlah kalau Rasulullah mengatakan: “Islam itu Ilmiah dan Amaliah “ (H.R.Bukhari).

Nb. Frekwensi “M” inilah yang saya sebut sebagai Energi Cahaya Wasilah Nurun ‘Ala Nuurin, sekedar referensi mungkin anda perlu juga membaca artikel saya yang berjudul “HAKEKAT SHOLAWAT” & “PINTU MAHABBATULLAH

SEKILAS PROGRAM PELATIHAN NAQS DNA & LEVEL KESADARAN :

1. QUANTUM HUSADA
Di level ini energi ilahi Nurun ‘ala nuurin di proyeksikan untuk menyempurnakan dan memperbaiki kondisi tubuh energi praktisi di level :

  1. Tubuh Fisik,
  2. Tubuh Eterik atau Tubuh Prana,
  3. Tubuh Astral / Tubuh Emosi,
  4. Tubuh PIKIRAN/Tubuh Mental atau Tubuh Psikis,
  5. Tubuh SPIRITUAL (Jiwa level 3/Nafsu Radliyah)

2. QUANTUM SUCCESS POWER
Di level ini praktisi di latih untuk memaksimalkan potensi kesadarannya di level :

  1. Tubuh Fisik,
  2. Tubuh Eterik atau Tubuh Prana,
  3. Tubuh Astral / Tubuh Emosi,
  4. Tubuh PIKIRAN/Tubuh Mental atau Tubuh Psikis,
  5. Tubuh SPIRITUAL (Jiwa level 3/Nafsu Radliyah)

3. QUANTUM UNIVERSAL AWARENESS
Di level ini praktisi sudah mulai di latih untuk mengakses Alam Kesadaran dari Tubuh Jiwa Universal (Jiwa level 2/Nafsu Mardliyah).

4. QUANTUM MAKRIFAT
Di level ini praktisi di latih untk mengakses Alam Kesadaran Jiwa Universal Sempurna (Jiwa level 1/Nafsu Kamilah/Insan Kamil) dan Alam Kesadaran Ruh Al-Quds (Kesadaran Ruh Ilahi).

Nb.
Walaupun praktisi NAQS telah dapat mengakses 7 lapisan tubuh energinya dan memaksimalkan potensinya dengan baik. Tidak berarti proses pemurnian dan penyempurnaan kesadarannya telah sempurna dan paripurna. atau sudah selesai. Tidak begitu keadaannya. Akan tetapi Praktisi NAQS tetap harus melakukan pembersihan & pemurnian diri ( Kultivasi/Tazkiyatun Nafs) secara terus menerus seumur hidupnya.

Hal itu dikarenakan :

  1. Debu polusi duniawi merupakan potensi yang berbahaya yang setiap saat bisa menjadi hijab yang mengotori Jiwanya dan melemahkan potensi Nuurun ‘ala nuurin yang tertanam di dalam dadanya.
  2. Kemampuannya dalam mengakses 7 lapis tubuh energi itu masih berlangsung secara otomatis di alam bawah sadar dan belum sepenuhnya menjadi sebuah proses yang dapat dirasakan secara sadar. Sehingga dengan demikian praktisi masih tetap berkewajiban untuk meningkatkan kesadarannya akan 7 lapis tubuh energi itu secara sadar.

Demikianlah sekelumit penjelasan yg dapat saya sampaikan terkait dengan Energi Ilahi Nuurun ‘Ala Nuurin dan 7 lapis kesadaran manusia. Wallahu a’lam…

Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh….

REFERENSI & Artikel Terkait :

  1. Spektrum Energi Cahaya Ilahi
  2. HAKEKAT SHOLAWAT
  3. PINTU MAHABBATULLAH
  4. 7 Lapis Tubuh Energi & Kesadaran Ruh Ilahi
  5. Kesadaran Ruh Ilahi




Kesadaran Ruh Ilahi

6 10 2011

Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia sejati (insan kamil) terdapat secuil ‘unsur yang sangat mulia,’ yaitu yang dibahasakan dalam Al Qur’an sebagai ‘Ruhul Quds’. Ruhul Quds bukanlah malaikat Jibril a.s., Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruh Al-Quds. Ruh Al-Quds juga dikenal dengan sebutan Ruh min Amr, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab). Dalam agama saudara-saudara dari nasrani, disebut Roh Kudus.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku [Ruh min Amri Robbi], dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa’: 85)

Ruh-Nya atau Ruhul Quds ini bukan dalam pengertian bahwa Allah memiliki ruh yang menghidupkan-Nya seperti kita. Ruh ini merupakan ruh ciptaan-Nya, sebagaimana ruh yang menjadikan diri kita hidup sekarang, namun dalam martabat tertingginya, dalam tingkatannya yang paling agung dan paling dekat kepada Allah.

Dengan adanya Ruh yang berasal dari sisi Allah swt inilah manusia mempunyai kesadaran akan Tuhan dan bisa terhubung dengan Tuhan, Kesadaran bertuhan inilah yang saya sebut Kesadaran Ruh Ilahi. Ruh ini bersifat sebagai Cermin yang Suci dan jernih yang mampu memantulkan kembali Cahaya Nur Allah dan Sifat-sifat Allah yang Maha Agung, dan Mampu memantulkan kembali Getaran Cahaya Nama-nama Indah Allah swt (Asma’ul Husna). Sehingga menjadi terang benderanglah diri kita.

Roh itu termasuk urusan Tuhanku [Ruh min Amri Robbi] bermakna Hanya melalui Kesadaran Ruh Ilahiah inilah manusia mampu terhubung dengan Cahaya Allah yang memancar dari ARSY ALLAH atau Alam Maha Kosmos atau Alam Ketuhanan. Karena Kesadaran ini tidak muncul dan berasal dari kemampuan manusia dalam mengolah dan meningkatkan kesadaran spiritualnya, namun murni anugerah Allah swt. dari Alam Amr Tuhan

Apabila Ruh Ilahi diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani di ibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya.

Setiap ciptaan memiliki ruh. Manusia (ruh insani), tanaman (ruh nabati), hewan (ruh hewani), bahkan benda mati pun memilikinya. Atom-atom dalam benda mati sebenarnya ‘hidup’ dan terus berputar, dan ruh bendawi inilah yang menjadikannya ‘hidup’. Karena itu pula, benda, tumbuhan, hewan, bahkan anggota tubuh kita kelak akan bersaksi mengenai perbuatan kita di dunia ini. Namun demikian, ruh-ruh ini bukanlah ruh dalam martabat tertingginya seperti Ruh Al-Quds.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruh Al-Quds, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk manapun juga. Termasuk lebih mulia dari Malaikat dan Iblis dan seluruh makhluk di alam semesta.

Allah swt berfirman dalam Surat Al Kahfi ayat 50, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.”[QS. Al Kahfi : 50]

Dengan adanya kesadaran Ruh Ilahiah inilah seorang manusia mampu untuk mengakses dan menundukkan segala kekuatan yang ada di alam semesta tanpa khawatir terkena resonansi negatif  (Magnet Dunia/Hubbud Dunya) dari mereka. Allah swt berfirman :
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Al-Jaatsiah; 13)

Perhatikan juga kata ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72, yang ditiupkan pada diri Adam saat penciptaannya:
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.”. (Q.S. 38:72)

Pada Adam as dan Isa as, dua manusia yang diciptakan-Nya langsung dengan ‘tangan-Nya’ tanpa melalui proses pembuahan, Kesadaran Ruh ilahiyah ‘penyempurna’ ini langsung ‘terbuka’ ketika mereka diciptakan. Karena itulah, dalam proses penciptaan Adam as, setelah ditiupkannya Ruh-Nya, para malaikat pun sujud kepada Beliau.

Sedang pada kita manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, Kesadaran Ruh Ilahi ini masih terhijab dari kesadaran jiwanya. Sehingga Cahaya Ilahi belum dapat sepenuhnya memancar ke dalam hati dan diri kita.

Manusia biasa selain Nabi Adam as dan Isa as, untuk dapat terbuka kesadaran Ruh Al-Qudsnya, harus melewati perjuangan diri. Mereka harus membuktikan pada Allah bahwa mereka layak untuk dianugerahi ‘unsur’ yang paling agung yang bisa didapatkan oleh makhluk ke dalam jiwanya. Mereka harus mampu meningkatkan kesadaran dirinya hingga derajat kesempurnaan jiwa atau Insan Kamil.

Hal ini tentu saja tidak mudah dan membuat kesadaran Ilahiah ini menjadi konsep yang melangit dan tidak terjangkau oleh umat manusia. Oleh karena itulah karena sifat Kasih sayang Allah swt, maka setiap manusia bisa memperolehnya melalui MEKANISME & SISTEM HIDAYAH yang telah diberikan Allah swt untuk umat manusia melalui utusan-Nya yaitu Rasulullah saw dengan mendapatkan syafaat dari beliau dan para pewaris beliau..

Berikut ini adalah gambaran Mekanisme Hidayah menurut Al-Quran & Hadits :

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.“( QS. Al Maidah 5:15 )

“Katakanlah (hai Muhammad), “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat (kitab-kitab)-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raaf : 158)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
( QS. Asy Syuura 42:52 )

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”( QS. Al An’am 6:125 )

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Baqarah 2:272 )

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya (وَلِيّاً مُّرْشِداً).” (QS. Al Kahfi : 17 )

Sabda Rasulullah SAW :

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bahagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Imam Syafi`i berkata,
“Aku mengadukan perihal keburukan hafalanku kepada guruku, Imam Waki’ bin Jarrah. Guruku lalu berwasiat agar aku menjauhi maksiat dan dosa. Guruku juga berkata, ‘Muridku, ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat.’”

Ibn Al-Qayyim menulis bahwa,
Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut”

Nur AL-WASILAH, adalah Nur syafaat dari Rasulullah yang diberikan kepada umat manusia dan yang kemudian Beliau wariskan kepada para sahabat dan diwariskan secara berantai oleh Para Guru Sufi. Nur AL-WASILAH inilah yang kami warisi dari Guru kami, yang mana guru-guru kami tersebut bersambung hingga ke Sahabat Abu Bakar Ashiddiq.

Dengan adanya Nur Al-Wasilah yang ditanamkan ke dalam dada manusia, maka lapisan tubuh spiritual manusia pada dimensi atas termasuk Kesadaran Ruh Ilahiahnya akan terbuka hijabnya. Sehingga Cahaya Allah dapat menerobos ke relung jiwa dan hati manusia yang tergelap dan paling dasar sekalipun. Mengenai 7 Lapis Tubuh Energi Manusia, silahkan baca di sini… Link : http://www.naqsdna.com/2011/10/7-lapis-tubuh-energi-kesadaran-ruh.html

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”( QS. Az-Zumar 39:22 )

Tekhnik untuk memperoleh dan mewarisi NUR ini adalah melalui kekuatan hubungan bathin yang terbina dan terjalin melalui hubungan Silaturahmi dan keakraban secara lahir dan bathin dengan manusia yang sudah lebih dulu memperolehnya. Sebagaimana sahabat yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Sedangkan perangkat untuk menumbuh kembangkan NUR tersebut adalah diolah melalui Qalbu, syariat lahir, dan syariat batin.

Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:
“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu berkata,
“Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.”

Dengan demikian, bagi manusia yang belum memiliki ‘unsur’ ini dalam dirinya, sangat wajar jika malaikat tidak akan tunduk padanya, dan dia memang belum layak untuk ‘disujudi’.

Jadi kurang tepat jika kita mengatakan dengan terlalu mudah bahwa manusia, atau kita, adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta. Manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah diperangkati Allah dengan ‘unsur : Kesadaran Ruh Ilahi’ ini. Jika belum diperangkati dengan unsur ini, bahkan kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak.

Perhatikan Firman Allah swt ini :
“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”(Q.S. 25:44)





7 Lapis Tubuh Energi & Kesadaran Ruh Ilahi

2 10 2011

Dalam kepercayaan timur, manusia memiliki Tubuh Energi. Mazhab yang umum mengatakan bahwa tubuh energi manusia ada 7 (tujuh) Lapis. Setiap lapisan tubuh energi, atau bisa dikatakan setiap tubuh energi, bila dipelihara dan dikembangkan, akan memunculkan potensi ”adikodrati” yang luar-biasa, yang sesungguhnya merupakan fitrah diri manusia.

  1. Lapis Tubuh Energi Pertama : Tubuh Fisik
  2. Lapis Tubuh Energi Kedua : Tubuh EGO [tubuh eterik atau tubuh prana].
  3. Lapis Tubuh Energi  Ketiga : Tubuh Astral / Tubuh Emosi
  4. Lapis Tubuh Energi Keempat Tubuh PIKIRAN/Tubuh Mental atau Tubuh Psikis
  5. Lapis Tubuh Energi Kelima : Tubuh KESADARAN ENERGI
  6. Lapis Tubuh Energi Keenam : Tubuh KESADARAN COSMIC
  7. Lapis Tubuh Energi Ketujuh : Tubuh KESADARAN RUH AL-QUDS/NUR MUHAMMAD

Ketujuh lapisan tubuh ini bisa dibayangkan seperti lapisan kulit bawang, dengan hukum yang berlaku : Lapisan diatas meliputi lapisan dibawahnya. LTE [Lapis Tubuh Energi] ke Tujuh dapat mengakses dan mengendalikan LTE ke Enam hingga lapisan tubuh Pertama, tetapi LTE Pertama tidak dapat mengendalikan / mengakses LTE ke dua dan diatasnya. Itu yang saya maksud dengan meliputi.

NAMUN sangat perlu dipahami, karena Basis (default) Kesadaran manusia (hidup) berada di tubuh fisik. Jika pada lapisan-lapisan bawah tubuh energi bermasalah (kotor), maka dapat menjadi penghalang (HIJAB) untuk mencapai kesadaran atau menggunakan potensi kemampuan lapisan energi yang berada diatasnya.

Lapis Tubuh Energi Pertama : Tubuh Fisik
Dalam kepercayaan timur, lapisan tubuh pertama berhubungan dengan Chakra Dasar.

LTE pertama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tubuh fisik. Seseorang yang berniat mengolah dan memanfaatkan potensi Tubuh Energi dan potensi Tubuh Cahayanya, harus merawat kesehatan LTE pertama ini dengan cara menjaga keseimbangan kebutuhan tubuh fisik seperti:

  • Makan & Minum. Makanlah makanan yang halal (baik cara perolehan maupun kandungan dzatnya), baik dan teratur, tidak berlebihan, serta gizi yang baik. Makanan yang didapatkan secara haram akan mengotori LTE ini.
  • Hubungan Seks. Lakukan secara halal dan tidak berlebihan.
  • Olah raga secara cukup dan teratur. Tubuh fisik kita tidak bisa terus-menerus berdiam diri, ia harus digerakkan secara teratur. Sudah sangat jamak diketahui bahwa jika tubuh ini kurang gerak maka penyakit-penyakit akan numpuk, begitu juga sirkulasi energi yang ada kurang aktif.
  • Istirahat dan tidur yang cukup untuk memulihkan energi.

Lakukan aktifitas makan, minum, berhubungan seks, olah-raga secara seimbang, jangan melampaui batas (berlebihan/kekurangan) karena dapat merusak, menjadikan lapisan tubuh pertama menjadi kotor / bermasalah.

Dalam agama islam, mungkin kita bisa merujuk pada sebuah hadist yang sangat populer, kira-kira intinya adalah sbb: ”Berhentilah makan sebelum kenyang”. Mengapa kita dinasihatkan demikian? Mungkin, jawabannya kurang-lebih adalah demikian:

  • Kekenyangan dapat membawa dampak yang kurang bagus bagi tubuh fisik, menjadi ”endut”.
  • Kekenyangan dikhawatirkan hanya memperturutkan nafsu belaka, sehingga tumbuh sifat serakah.
  • Dll.. (hehehe.. ini menunjukkan sedikitnya perbendaharaan yang saya miliki.. )

LTE Pertama ini saya sebut sebagai Lapisan Tubuh NAFSU karena sangat terkait dengan nafsu untuk pemenuhan kebutuhan tubuh fisik: libido, syahwat, lapar, haus.

Jika nafsu-nafsu makan, minum, berhubungan seks, bergerak, yang melekat dan sebagai driver untuk menjaga kelangsungan hidup tubuh fisik ini terlalu menonjol (berlebih) maka lapisan tubuh pertama ini akan menjadi kotor dan bisa menjadi Hijab untuk mengakses potensi-potensi LTE diatasnya.

Kekotoran bisa terjadi, bukan hanya sebagai ”akibat” dari tindakan (action), tetapi ”hanya” dalam tataran fantasi dan imajinasi pun sangat mungkin membuat lapisan tubuh energi ini menjadi kotor. Ketakutan / kekhawatiran yang berlebih akan terputusnya kelangsungan (sumber) rizki (makan) pun dapat mengotori LTE ini.

Jika LTE Pertama ini kotor, Bagaimana mengatasinya?
Dalam agama islam, secara preventif banyak ”pasal” yang mengatur masalah ini, seperti menjaga pandangan dari hal-hal yang haram dan diharamkan, menutup aurat, tidak berdua-duaan dengan yang bukan muhrim, puasa sunnah, puasa wajib, tidak makan daging babi, bangkai, darah, minum-minuman keras dan lain sebagainya. Puasa juga dapat dilakukan sebagai tindakan kuratif. Taubat dan istighfar yang dilakukan secara tepat dapat membersihkan kekotoran lapisan tubuh pertama ini.

Lapis Tubuh Energi Kedua : Tubuh EGO [tubuh eterik atau tubuh prana].
Dalam kepercayaan timur, lapisan tubuh kedua ini berhubungan dengan Chakra Seks.

Lapisan Tubuh Energi kedua saya sebut sebagai Tubuh EGO, secara umum mungkin dikenal sebagai tubuh eterik atau tubuh prana. Whatever-lah… belum ada undang-undang atau konvensi yang mengatur penamaan ini.. hehehe..

Jika LTE pertama adalah tempat nafsu untuk pemenuhan kebutuhan dasar, kebutuhan tubuh fisik, maka LTE Kedua adalah tempat beradanya nafsu untuk pemenuhan Citra diri, harga diri, gengsi, dll. Pada lapisan inilah terdapat hasrat, ambisi, keinginan-keinginan. Aku ingin begini, aku ingin begitu.. persis lagunya Doraemon. Hasrat, ambisi, adalah fitrah manusia yang dapat mendorong manusia untuk selalu menjadi lebih baik dalam segala hal: sosial, ekonomi, ilmu-pengetahuan, teknologi, spiritual, dll.

Lapisan Tubuh Kedua ini meliputi (dapat mengakses) lapisan Tubuh Pertama. Jika potensi ‘hasrat’ dipadu dengan nafsu seks maka akan menjadi dorongan untuk melakukan aktifitas seksual, begitu pula jika hasrat dipadu dengan nafsu makan, mungkin hasratnya tidak sekedar makan, tetapi ingin makanan yang lebih bergizi dan bergengsi, jadilah kegiatan makan yang tidak sekedar makan.

Jika hasrat, ambisi dan keinginan ini dibiarkan bebas, maka akan terjadi pelanggaran fitrah manusia. Manusia adalah makhluk yang cenderung melampaui batas. Ambisius, Mau menang sendiri, Serakah, tamak… Ketika hasrat ini diperturutkan menjadi bebas, kebablasan, maka LTE Kedua menjadi kotor yang akan menjadikan hijab dan sulit bagi kita (dikesadaran fisik) untuk memanfaatkan potensi-potensi lapisan tubuh energi diatasnya.

Dibalik hasrat, ambisi dan keinginan-keinginan, terdapat unsur-unsur pelengkap seperti : Berani dan Takut, Kecewa dan Puas, sakit hati dan senang hati. Takut adalah hal yang wajar, merupakan indikasi bahwa kita belum paham terhadap apa yang sedang/akan kita hadapi, tetapi Ketakutan adalah lain soal. Ketakutan menjadikan tubuh energi kita lemah, dan keberanian menjadikan kita kuat. Namun keberanian tanpa memperhatikan moral, etika, agama, dll, akan membuat Lapisan Tubuh Energi kedua ini menjadi kotor.

Lapis Tubuh Energi  Ketiga : Tubuh Astral / Tubuh Emosi
Dalam kepercayaan timur, lapisan tubuh ketiga ini berhubungan dengan Chakra Solar Plexus.

Lapisan tubuh ketiga sering disebut sebagai tubuh astral, namun saya lebih suka menyebutnya sebagai Tubuh EMOSI. Mengapa? Karena pada lapisan tubuh energi inilah bersemayamnya segenap perasaan kita seperti: senang – susah, kecewa – puas, sakit hati, gembira – sedih, marah, takut – berani, dll.

Ketika kematian menjemput (Ruh ditarik pulang), lapisan tubuh pertama dan lapisan tubuh kedua akan mati dan terurai menjadi unsur-unsur alam semesta pembentuknya, sehingga mereka kehilangan Nafsu dan Hasrat. Lapisan tubuh ketiga, kelangsungannya tergantung dari ’status perasaan’ yang disandangnya. Ikhlas-kah ketika ia meninggal dunia? Tidak-terimakah? Bila orang tersebut meninggal dalam kondisi marah, dendam, kecewa, sedih, dengan kata-lain ”tidak berserah-diri kepada (takdir) Allah”, maka ia akan terus ”hidup” di alam energi dengan membawa emosi kemarahan itu. Ia tidak dapat meneruskan perjalanannya, untuk menunggu di alam penantian yang seharusnya, yang enak, bila seluruh unsur energi – perasaan tersebut telah musnah. Tak ada kelekatan lagi.

Ingat pesan Allah SWT dalam Al Qur’an: ”.. dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri”. Berserah diri = Unbinding dari hal-hal duniawi atau apapun, kecuali hanya kepada Allah SWT.

Maka tak heran seseorang yang sudah meninggal dunia, untuk ”sementara waktu” dapat menampakan diri kepada orang yang masih hidup. ”Sementara waktu” disini bisa berarti beberapa hari hingga beberapa ratus tahun, atau selamanya hingga yaumil kiyamah kelak. Waallahua’alam.

Tubuh ketiga merupakan duplikat tubuh fisik. Tubuh emosi setiap orang memiliki bentuk yang sempurna (utuh) meski saat hidup orang tersebut mempunyai cacat pada tubuh fisiknya. Perbedaannya dari satu orang ke orang yang lain adalah: ada yang pucat, berseri, cerah, dll.

Tubuh emosi inilah yang digunakan untuk melakukan perjalanan keluar tubuh atau perjalanan astral, Out of Body Experience, atau Rogoh Sukmo.

Lapis Tubuh Energi Keempat Tubuh PIKIRAN/Tubuh Mental atau Tubuh Psikis
Dalam kepercayaan timur, lapisan tubuh keempat ini berhubungan dengan Chakra Jantung.

Lapisan tubuh keempat, saya pribadi lebih senang menyebutnya sebagai Tubuh PIKIRAN tempat beradanya pikiran kita – MIND. Banyak orang menyebutnya sebagai tubuh mental atau tubuh psikis. Whatever lah…

Beberapa aktifitas yang dilakukan oleh Pikiran adalah:

  • Berpikir
  • Imajinasi dan Visualisasi
  • Fantasy dan Berkhayal
  • Mimpi

Fantasy membayangkan suatu keadaan, kesenangan. Berhati-hatilah dengan fantasi ini, jangan pernah ber-fantasi buruk, jorok misalnya. Karena apa yang kita fantasikan benar-benar terwujud di alam energi ini dan dapat dilihat oleh semua makhluk di alam energi dilevel ini. Maka bukan suatu kebetulan, jika ketika seorang sedang berfantasi jorok lantas mengalami seolah-olah benar-benar merasakan yang difantasikan atau terkadang sering mimpi bersama ”orang” yang di-fantasi-kannya.

LTE Pertama, Kedua dan Ketiga pada dasarnya merupakan bagian dari LTE Ke empat ini.
Orang yang telah mengembangkan kemampuan LTE Keempat ini, akan mendapatkan kemampuan yang dikenal sebagai Extra Sensory Perception (ESP) – mendengar dan melihat tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, melihat dan mendengar bukan menggunakan indera-indera ragawi. Kemampuan ESP bertumbuh secara bertahap, dapat saja saat ini hanya dapat menerka apa yang dipikirkan orang lain, lalu sampailah ia dapat ‘melihat’ apa yang dipikirkan orang lain. Bagaimana cara melatih dan memperbesar kemampuan ESP ini? Silahkan Pelajari Di Sini…

ESP: Telepati, Clairvoyance, Projeksi pikiran dan Membaca pikiran adalah potensi dari tubuh pikiran ini, sedang Pola Pikir (Mindset) adalah bagaimana isi dari Pikiran kita tertata. Hukum Ketertarikan (Law of Attraction) bekerja pada level energi ini.

Lapis Tubuh Energi Kelima : Tubuh KESADARAN ENERGI
Dalam kepercayaan timur, lapisan tubuh kelima ini berhubungan dengan Chakra Tenggorokan.

Potensi apa yang yang dimiliki oleh lapisan tubuh kelima ini?
Lapisan tubuh kelima adalah Tubuh KESADARAN ENERGI. Seseorang dengan lapisan tubuh kelima yang telah berkembang sempurna, jika ia tertidur, maka hanya tubuh fisiknya saja yang tidur sedangkan tubuh energinya tetap sadar. Sadar pada saat tertidur.

Ketika bermimpi, ia sadar bahwa ia sedang berada di alam mimpi. Ketika tubuh fisiknya sedang dibius (anestesi), maka ia tetap sadar dan dapat melihat tubuh fisiknya yang sedang dioperasi – tanpa merasa sakit tentunya.

Sangat jarang orang yang memiliki Lapisan Tubuh Energi Ke Limanya yang telah berkembang sempurna, sebagian besar ”hidup kita”, default kesadaran kita ”parkir” ditubuh fisik (materi). Banyak orang menyebut bahwa kita, dengan kesadaran yang parkir ditubuh fisik, berada dalam keadaan ”tertidur”, mati dalam hidup.. (atau hidup dalam mati ya?.. ).

Lapis Tubuh Energi Keenam : Tubuh KESADARAN COSMIC
Lapisan tubuh energi keenam ini berkaitan dengan chakra Ajna yang terletak diantara kedua mata.

Lapisan tubuh keenam disebut sebagai Tubuh KESADARAN COSMIC. Melalui tubuh ini, seseorang bisa melihat alam semesta ini dengan gamblang. Anda bias berjalan-jalan meninggalkan planet bumi kita yang biru, semakin lama semakin terlihat mengecil. Anda bias melintasi langit.

Lapis Tubuh Energi Ketujuh : Tubuh KESADARAN RUH AL-QUDS/NUR MUHAMMAD
Ruh Al-Quds inilah yang membawa penjelasan kemisian seseorang, untuk apa seseorang diciptakan Allah, secara spesifik orang-per-orang. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds, seseorang menjadi mengerti misi hidupnya sendiri. Mereka-mereka yang telah dianugerahi Kesadaran Ruh Al-Quds inilah yang disebut sebagai ‘ma’rifat’, dan telah mengenal diri sepenuhnya.

“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,” kata Rasulullah. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Rabb-nya. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds ke dalam jiwanya, seseorang menjadi mengenal dirinya, mengerti kemisian dirinya, dan mengenal Rabb-nya melalui kehadiran Ruh-Nya itu.

Dengan mengenal dirinya secara sejati, maka mulailah seseorang ber-agama secara sejati pula. “Awaluddiina ma’rifatullah,” kata Ali bin Abi Thalib kwh. Awalnya ad-diin (agama) adalah ma’rifatullah (mengenal Alah). Jadi berbeda dengan pengertian awam bahwa mencapai makrifat adalah tujuan beragama, justru sebaliknya: ma’rifat adalah awalnya beragama, ber-diin dengan sejati.

Keasadaran Ruh Al-Quds, ini ada juga yang menyebut dengan KESADARAN RUH ILAHI. Karena melalui kesadaran inilah Allah SWT memancarkan dengan sempurna Nur-Nya ke dalam diri manusia. Sehingga dalam faham kejawen, Ruh Al-Quds inilah yang disebut dengan Rasul Sejati.

Inilah Konsep ‘trinitas’ yang dikembalikan oleh Qur’an kepada hakikatnya semula: Allah, Ruh Al-Quds, dan jasad sang Insan Kamil. Pengertian trinitas ini, seiring dengan berjalannya waktu dan jauhnya aliran doktrin dari mata-airnya, perlahan berubah menjadi sesuatu yang abstrak: tiga tetapi satu dan satu tetapi tiga.

Namun Rasulullah melaui Qur’an, secara halus mengembalikan khazanah tritunggal ini kepada esensinya: bukan zatnya yang satu sekaligus tiga, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah Allah dan Insan Kamil, melalui kehadiran Ruh Al-Quds, telah sepenuhnya selaras dan menjadi satu kehendak. Apapun perbuatan, perilaku dan kehendak seorang Insan Kamil akan sepenuhnya sesuai dengan kehendak Allah. Sedangkan Allah-nya sendiri, sebagai zat, tetap hanya satu. Inilah yang dikembalikan: Allah itu satu, tidak memiliki anak, dan anggota sistem ke-tiga-an itu terpisah, baik secara hakikat maupun zat. Wujudnya satu, bukan tiga.

Siapa saja Insan Kamil itu? Mereka adalah semua orang yang telah dianugerahi Allah Ruh Al-Quds ke dalam jiwanya. Semua Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Isa as, dan para orang suci yang ber-maqam rahmaniyah dan rabbaniyah, adalah Insan Kamil.

Lapisan puncak tubuh energi inilah batas atas perjalanan tubuh energi hingga bertemu dengan keadaan non-eksistensi, kekosongan, tidak ada apa-apa. Mungkin inilah yang dikatakan oleh orang-orang sufi sebagai Alam Fana, atau kepercayaan timur lainnya mengatakannya sebagai Nirwana yang artinya kosong, kekosongan. Tidak ada apa-apa diketinggian alam puncak ini. Kita bisa menyadari tidak ada apa-apa, benar-benar awang-uwung disini. ”saya” pun sudah lenyap.

Fana bukanlah tujuan akhir dari perjalanan Mengenal Diri kita. Fana hanyalah puncak dari kesadaran tubuh energi kita. Jadi Jangan terjebak dan berhenti pada lapis ke tujuh alam energi ini. Jangan karena tidak melihat apa-apa lantas berucap: ”oh.. tidak ada apa-apa selain aku. Akulah Sang Kebenaran”. Agar tidak terjebak, menjadi musryk, prinsip tauhid: La ilaha ilallah – Tiada tuhan selain ALLAH, harus tetap kita pegang teguh, sampai kapanpun.

KORELASI LAPISAN TUBUH ENERGI DAN LAPIS LANGIT ALAM ENERGI
Lapisan-lapisan Tubuh Energi berkorelasi dengan lapisan langit di alam (dimensi) energi. Lapisan Tubuh Energi Pertama berkorelasi dengan Langit Pertama alam energi, dan seterusnya. Jika seseorang telah berhasil mengembangkan potensi Lapisan Tubuh Ke Tujuh, maka ia akan bisa ”mengakses” Langit Ketujuh Alam Energi.

Lapis Langit di atas, meliputi Lapis langit dibawahnya. Artinya, ketika seseorang bisa mengembangkan potensi Lapisan Tubuh Energi Kelima dan ia tidak memiliki hambatan (hijab) pada lapisan-lapisan Tubuh Energi dibawahnya, juga tidak ada hambatan pada Tubuh Materinya, maka ia akan bisa menggunakan dan menikmati potensi-potensi lapisan Tubuh Keempat dengan sadar.

Bagaimana cara membersihkan LTE ini?
Secara umum, dalam dunia reiki dan sebangsanya, dikenal dengan istilah attunement: penyelarasan, pengaktifan Cakra-cakra melalui pembersihan / pembukaan. Cara-cara tersebut, saya pandang lebih berisiko dibanding menggunakan cara yang lebih islami. Resikonya adalah terjadinya penyumbatan-penyumbatan saluran energi tubuh akibat dari sisa “pembakaran” (pembersihan) Cakra dan saluran/jalur tubuh energi. Contoh resiko adalah Kundalini Syndrome. Cara Islami akan mendapatkan hasil yang jauh lebih baik, karena tanpa efek-samping, kotoran akan lenyap tanpa mempengaruhi jalur energi ataupun cakra-cakra yang lain. Seperti apa cara Islami (yang saya maksud) tersebut?. Itulah yang disebut TAZKIYATUN NAFS atau bahasa kerennya Metode Kultivasi….

Bagaimana Cara Meningkatkan & Memurnikan Kesadaran Hingga Mencapai Kesadaran Ruh..??
Yaitu dengan Energi Al-Wasilah.

Allah swt berfirman :
“Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya[Al-Wasilah], dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (sukses).”(QS.Al Maidah :35).

Syekh Sulaiman Zuhdi pada waktu menafsirkan QS.Al Maidah:35 menyatakan :
“Pengertian umum dari wasilah adalah sesuatu yang dapat menyampaikan kita kepada suatu maksud atau tujuan. Nabi Muhammad SAW adalah wasilah yang paling dekat untuk sampai kepada Allah SWT, kemudian kepada penerusnya-penerusnya yang Kamil Mukammil yang telah sampai kepada Allah SWT yang ada pada tiap-tiap abad atau tiap-tiap masa”

Umumnya pendapat ulama yang tidak mengenal Tasawuf Tarekat menyatakan bahwa Al-Wasilah itu hanya berupa amal ibadah. Namun perlu diperhatikan, Selama nafas terakhir kita belum meninggalkan tenggorokan, Lapisan Tubuh Energi (LTE) setiap saat berpotensi menjadi kotor. Bila kita terus menjaga Nafsu, Ego dan Emosi (NEE) agar tetap normal – tidak berlebihan, dan tetap menjaga ibadah-ibadah kita seperti Sholat, puasa dan dzikir, Insya Allah LTE kita akan tetap bersih. Jika kita lalai maka LTE kita akan menjadi kotor, dengan catatan bahwa puasa, sholat dan dzikir tersebut dilakukan dengan khusuk, dengan ingatan yang senantiasa terhubung dengan Allah Subhannalahu wata’ala.

Mengapa bisa demikian? Karena Tubuh Energi kita ini merupakan medan pertempuran antara Jiwa kita melawan iblis dan setan beserta balatentaranya. Jiwa kita berkepentingan menjaga agar LTE tetap bersih, supaya kita (badan wadag) memiliki kesadaran ilahiah, dan supaya tidak menjadi penghambat, penghalang, perjalanan Jiwa menempuh Alam Cahaya. Sementara Iblis dan sekutunya, yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia, berusaha terus memanas-manasi NEE kita, memberikan pengaruh kebimbangan-kebimbangan dan keraguan dalam pikiran kita, hingga akhirnya LTE kita menjadi kotor dan dikuasai mereka.

Nah, pertanyaannya. Mampukah manusia yang setiap hari berjibaku melawan dirinya sendiri ini mengandalkan kekuatan amal ibadah dirinya sendiri sebagai Al-Wasilah untuk meningkatkan kesadarannya…??? Maka jawabnya adalah sangat TIDAK MUNGKIN….

Hanya Al-Wasilah yang datang dari sisi Allah swt sajalah yang mampu menaikkan derajat kesadaran manusia hingga ke derajatnya yang tertinggi. Al-Wasilah Itulah yang disebut Hidayah yaitu energi Al-Wasilah yang datang langsung Dari Allah SWT dan Syafaat atau Hidayah Allah yang melalui Rasulullah. Itulah Hakikat dari Sholawat. Baca Hakekat sholawat di sini…

Al-Wasilah yang berupa syafaat Rasulullah inilah yang diwariskan secara berantai dalam Rantai Emas Silsilah Para Guru Muryid Tharekat untuk diberikan kepada kaum muslimin. Dan Karena dengan Al-Wasilah ini seseorang manusia yang masih kotor tubuh energinya mempunyai kesempatan untuk mengakses Kesadaran Ruh Al-Quds/Nur Muhammad yang berada di dalam dirinya dan menumbuh kembangkan spiritualitasnya hingga mencapai Kesadaran Nur Muhammad, maka untuk kemudian Al-Wasilah jenis ini juga disebut sebagai Nur Muhammad.

Dalam ilmu balaghah dikenal istilah “Majaz Mursal :

مِنْ إطْلاَقِ الْمَحَلِّ وَإرَادَةِ الْحَال

artinya menyebut wadah, sedangkan sebenarnya yang dimaksud adalah isinya. Disebutkan pula Nabi Muhammad sebagai wasilah, tetapi yang dimaksud sebenarnya adalah Nuurun ala nuurin yang ada pada rohani Rasulullah SAW.

Prof.DR.H.S.S Kadirun Yahya menyatakan bahwa wasilah itu adalah suatu channel, saluran atau frekuensi yang tak terhingga yang langsung membawa kita kehaderat Allah SWT.

Wasilah itu ialah :

نُوْرٌُ عَلىَ نُوْرٍِ يَهْدِاللهُ لِنُوْرِهِ مَنْ يَشَآءُ

“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki “(QS An-Nur :35).

Wasilah itu telah ditanamkan ke dalam diri rohani Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW yang merupakan sentral penghubung antara Rasulullah SAW dan ummatnya menuju kehaderat Allah SWT.

Para Sahabat dan ummat Rasulllah SAW harus mendapatkan wasilah ini di samping menerima Alquran dan As-Sunah

Rasulullah SAW bersabda :

كن مع الله فإن لم تكن مع الله كن مع من مع الله فإنه يصيلك الى الله

“Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, jika kamu belum bisa menjadikan dirimu beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menghubungkan engkau (rohanimu) kepada Allah” (H.R. Abu Daud).

WALLAHU A’LAM

REFERENSI :
KANG ABET
RUH AL QUDS
AL-WASILAH